(Catatan: Darius Beda Daton)

Saya mengawali catatan ini dengan mengutip tulisan Benny K. Harman via wall facebooknya dari Kota Ruteng tanggal 7 Mei 2026. Tulisan itu adalah persembahan Pak Benny kepada Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Maksimus Regus, yang hari itu dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor di Unika Santu Paulus. Saya membaca tulisan itu hingga tuntas dan membagikannya ke beberapa grup WAG. Tulisan Pak Benny itu adalah gugatan yang sangat menarik dibaca. Pertanyaan awal yang dilontarkan Pak Benny adalah demikian: “Di manakah posisi agama ketika kehidupan manusia semakin didikte oleh teknologi, kapital, dan logika pasar? Apakah agama hanya tersisa sebagai simbol tanpa daya transformasi”. Pertanyaan ini menjadi kegelisahan saya sejak lama. Kegelisahan ini muncul ketika agama tidak lagi bersuara lantang menyoal realitas sosial seperti kemiskinan struktural, perdagangan orang, PMI non prosedural, kerusakan lingkungan, korupsi, nepotisme akut, stunting, ketidakadilan upah buruh hingga ketidakadilan pendidikan dan kesehatan. Saya membayangkan jika semua agama bersuara lantang menyoal semua ketidakadilan itu, mana ada yang berani melawan?. Toh agama mempunyai fungsi profetik untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan, ketidakadilan, kemiskinan, dan struktur sosial yang tidak manusiawi. Agama juga mendorong nilai-nilai kemanusiaan, menentang objektivikasi manusia, dan memperjuangkan martabat manusia dalam kehidupan sosial. Agama memanusiakan manusia.
***
Karena itu benar apa kata Pak Benny. Di tengah perubahan ini, agama sering kali tertinggal. Ia tidak selalu hadir sebagai sumber refleksi kritis terhadap krisis yang dihadapi manusia modern. Bahkan, dalam banyak kasus, agama terjebak dalam rutinitas simbolik yang kehilangan daya transformasi. Ketika ketimpangan sosial semakin tajam, suara agama tidak selalu terdengar kuat. Ketika korupsi merajalela di tubuh negara, aura agama terdengar sayup-sayup. Ketika eksploitasi lingkungan berlangsung atas nama pembangunan, respons keagamaan sering kali terbatas. Ketika manusia terjebak dalam logika konsumsi tanpa batas, agama tidak selalu hadir sebagai penyeimbang. Malah ikut terhanyut. Dalam perubahan itu, agama tidak boleh sekadar hadir secara formal, tetapi harus mampu memberi makna. Jika tidak, kita berisiko membangun masyarakat yang maju secara materi, tetapi kehilangan arah secara nilai. Di tengah dunia yang semakin ditentukan oleh teknologi dan kapital, pertanyaannya bukan lagi apakah agama masih ada. Tetapi pertanyaannya adalah: “apakah agama masih memiliki keberanian untuk berbicara—dan apakah masyarakat masih bersedia mendengarkannya. Apakah agama tetap diam dan menutup mata menyaksikan kerusakan dunia sedang terjadi di depan kita”. Sebab jika tidak memiliki keberanian untuk berbicara, agama berisiko mengalami reduksi mendalam dari kekuatan transformasi menjadi sekadar simbol identitas.
***
Dalam diskusi kami di WAG, juga muncul pendapat yang menguatkan apa yang menjadi catatan pak Benny dan kegelisahan saya. Seorang rekan berpendapat begini. Gereja memang sering sangat kuat dalam liturgi dan moral personal, tetapi belum selalu cukup kuat membaca realitas sosial secara struktural, kemiskinan, perdagangan orang, bunuh diri, kerusakan lingkungan, korupsi, stunting, hingga ketidakadilan pendidikan dan kesehatan. Padahal dalam tradisi kenabian, iman tidak pernah hanya berbicara soal surga, tetapi juga tentang martabat manusia di dunia nyata. Karena itu, tantangan gereja hari ini bukan sekadar memperbanyak aktivitas rohani, tetapi menghadirkan spiritualitas yang peka terhadap penderitaan sosial. Gereja kita tidak boleh hanya menjadi tempat orang mencari penghiburan, tetapi juga harus menjadi suara moral yang berani mengganggu kenyamanan kekuasaan, pasar, dan budaya yang melukai manusia. Di titik itu, agama kembali menemukan relevansinya: bukan hanya menjaga ritual, tetapi menjaga kemanusiaan kita.
***
Sebagai penutup, saya mengutip khotbah Mgr. Paul Budi Kleden pada pentahbisan Uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Mgr Paul mengatakan demikian; “agar uskup Hans dibebaskan dari penjara ingat diri dan sanggup serta berani mewartakan pembebasan untuk melepaskan petani dan nelayan kita dari para tengkulak yang kian agresif. Membebaskan keluarga kita dari cengkraman para pelaku keuangan yg tidak hanya memiskinkan tetapi merendahkan harga diri mereka seperti pinjaman online, koperasi harian dan koperasi mingguan. Agar ada keberanian untuk melawan praktek-praktek perdagangan orang, menghentikan pembabatan hutan, pencemaran air, eksploitasi kekayaan alam dan ekosistem.
***
Pesan Mgr. Paul Budi Kleden ini sejalan dengan Konsili Vatikan II dalam Dokumen Gaudium et Spes, yakni, agar “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para pengikut Kristus juga”. Apa artinya ibadah, perayaan-perayaan gerejani yang meriah dan agung, perkumpulan-perkumpulan semarak, prosesi panjang, dan patung-patung megah yang didirikan di banyak tempat jika di negeri ini semakin menyebar bau KKN yang membuat rakyat yang empunya negeri ini semakin terpuruk dalam kubangan kemiskinan?. Itulah sebabnya kita semua merindukan agama yang membebaskan. Semoga bermanfaat.







