Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM

Hari ke-2- Kampanye #16HAKTP bersama Lowewini- Kesehatan Mental

badge-check


					Hari ke-2- Kampanye #16HAKTP bersama Lowewini- Kesehatan Mental Perbesar

  • Day 2- Kampanye #16HAKTP bersama Lowewini- Kesehatan Mental

Salah satu aspek penting bagi kualitas sumber daya manusia adalah jika ia memiliki kesehatan mental yang baik. Dengan demikian, pertanyaannya apa yang bisa menyebabkan kesehatan mental seseorang terjadi? Tentu ada banyak faktor, menurut saya, salah satu penyebab kesehatan mental terganggu adalah sikap misogini.

Misogini pemikiran yang membenci atau merendahkan seseorang karena ia perempuan dan anak perempuan.

Pelaku misogini tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Bentuk kebenciannya itu bisa berbentuk kekerasan fisik, psikis dan verbal yang berpengaruh pada kesehatan mental anak perempuan dan perempuan.

Ada keluarga yang membuat program kehamilan terus menerus agar bisa mendapat anak laki-laki saja. “Bapa bantu doa supaya katong bisa dapat ana nyong. ” Ana nona dong ni katong bisa harap apa dari dong?

Pola pikir maskulinitas menjadi salah satu akar munculnya misoginis. Dalam keluarga jika ada sejak kecil sudah ditanamkan standar bahwa laki-laki saja yang dapat memimpin, Laki-laki tidak boleh kerja di dapur. Akibatnya jika anak sudah terbiasa bahwa laki-lakilah yang nomor satu dan pemimpin dan sikap kebencian kepada perempuan akan muncul jika posisi perempuan menjadi pemimpin.

Bahasa yang mengganggu kepemimpinan perempuan misalnya “perempuan tidak tahu diri, perempuan tidak tahu adat, perempuan lupa diri, perempuan tidak tahu posisi. Yang menyedihkan adalah karena kekerasan verbal ini diujarkan oleh sesama perempuan. Karena budaya Patriarkhi, perempuan juga menjadi pelaku kekerasan verbal karena nilai atau standar Patriarkhi telah menghidupi dirinya.

Karena sikap misogini, seseorang bisa membenci dirinya karena perlakuan diskriminasi yang ia alami. Ia mengalahkan dirinya karena terlahir sebagai perempuan. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Karena ia selalu dibenci dan disalahkan, ia pun akhirnya selalu membenci dirinya atau menyalahkan dirinya bahkan atas hal yang berada diluar kendali atau kemampuan dirinya. “Oh iya memang mungkin yang orang omong betul, beta yang salah, beta yang bodoh… ” Sikap menyalahkan diri sendiri dan membenci diri sendiri harus dilawan.

Kesehatan mental perempuan atau anak perempuan dapat dijaga jika semua orang bisa berperang melawan sikap misogini. Catatan penting bahwa perlawanan kepada misogini tujuannya juga bukan untuk membenci laki-laki tetapi menghancurkan raksasa Patriarkhi yang juga menjadikan laki-laki korban. Karena sudah ada standar bahwa laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis. Sehingga jika laki-laki menangis, ia dibilang perempuan. Dan karena ia seperti perempuan, ia tidak pantas memimpin. Ayo lawan pandangan misogini.

(Sumber : Facebook Aryz Lauwing Bara II)

#lusondesendiri #betajuga #ketongsetara #gerakbersama #kesehatanmental

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Bupati Rote Ndao Terima Paparan TBUPP, Hadiri Panen Sorgum hingga Bahas Pendidikan Bersama Mitra Strategis

11 June 2026 - 23:53 WITA

Festival Keluarga Malole Dorong Peran Orang Tua dalam Membangun Generasi Berkualitas di Rote Ndao

9 June 2026 - 22:56 WITA

PERNYATAAN SIKAP PGI ATAS PEMBUBARAN KEGIATAN PERKEMAHAN ANAK DAN REMAJA JMAI DI TAWANGMANGU, JAWA TENGAH

9 June 2026 - 21:42 WITA

Trending PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM