Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger 17 Mahasiswa Teologi UKAW Jalani SKL dan Collegium Pastorale di Klasis Lole Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi

EKONOMI dan BISNIS

PRIMA : Pemerintah Gagal Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok, Harga Tahu Tempe Merangkak Naik

badge-check


					PRIMA : Pemerintah Gagal Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok, Harga Tahu Tempe Merangkak Naik Perbesar

Jakarta-Taklale.Com, Produsen tahu dan tempe berencana melakukan mogok produksi pada tanggal 21 Februari hingga 23 Februari 2022. Mogok produksi akan dilakukan di sebagian besar daerah-daerah di pulau Jawa.

Aksi itu dilakukan lantaran harga kedelai yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe mengalami lonjakan kenaikan. Hal ini berakibat pada meningkatnya biaya produksi. Parahnya, polemik harga minyak goreng belum selesai, kini tahu tempe juga berpotensi naik.

Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), Alif Kamal menyampaikan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan telah gagal mengendalikan harga kebutuhan pokok yang dikonsumsi msyarakat sehari-hari.

Untuk informasi, komoditas kedelai mengalami kenaikan di pasaran. Awalnya harga komoditas ini hanya 9 ribu rupiah. Tapi, sejak Desember 2021 hingga awal Februari 2022 harganya mencapai 11 ribu rupiah.

“Minyak goreng, tahu dan tempe adalah kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masyarakat, kalau ngatur ini saja tidak beres, bagaimana mau bangun IKN (Ibukota Negara)?” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (15/2).

Harga komoditas kedelai sendiri diperkirakan akan mengalami kenaikan hingga Mei 2022 mendatang. Penyebab kenaikan harga komoditas ini karena produksi dan pasokan dunia berkurang. Masalahnya, produksi tahu dan tempe Indonesia 80 persen bahan bakunya menggunakan kedelai impor.

Untuk memproduksi tahu dan tempe produsen membutuhan bahan kedelai sekira 3 juta ton per tahun. Hanya saja, ketersediaan pasokan kedelai lokal hanya mencapai 20 persen kebutuhan tersebut.

Maka dari itu, perajin tahu tempe dalam negeri sangat bergantung pada kedelai impor. Ketika harga kedelai dunia naik, perajin yang sebagian besar industry rumah tangga akan mendapatkan imbasnya.

Alif menegaskan, dalam pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, Indonesia masih sangat bergantung pada negara lain. Seharusnya, lanjut dia, hal itu dapat dihindari jika pemerintah fokus mengembangkan potensi lokal dengan memberikan jaminan kepada para petani dalam negeri.

“Petani kita sering dihadapkan biaya pupuk yang mahal dan langka, pasar yang tidak menentu. Tahu tempe kan makanan asli Indonesia, masak bahan bakunya dari impor?” tegasnya.

Berkaitan dengan hal itu, Alif meminta Presiden Joko Widodo untuk melakukan evalusi secara menyeluruh terhadap jajarannya dan melibatkan pelaku bisnis untuk mengatasi kenaikan harga kedelai ini.

“Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan pelaku bisnis harus dievaluasi menyeluruh dari hulu dan hilir. Kalau ada kartel dalam permainan harga ini, Presiden harus usut,” pungkasnya.

Foto : Wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Inflasi Turun Secara Tahunan Tapi Naik Secara Bulanan, PSI: Efisienkan Ekonomi dengan Membangun Infrastruktur

3 July 2023 - 18:23 WITA

OJK Diminta Segera Jelaskan Duduk Soal Kredit Macet di Bank Mayapada, PSI: Jangan Sampai Terulang Skandal Bank Century

23 June 2023 - 22:31 WITA

PSI Yakin dengan Pasar Keuangan Indonesia di Tengah Ancaman Gagal Bayar Utang AS

23 May 2023 - 19:58 WITA

Trending EKONOMI dan BISNIS