Menu

Dark Mode
Ombudsman NTT Audiensi dengan Bupati Kupang, Bahas Pengawasan Layanan Publik dan Pungutan Uji Kendaraan OMBUDSMAN NTT MENEMUI BUPATI KUPANG Ombudsman NTT Temukan Masalah Layanan Uji Kendaraan di Kabupaten Kupang Mateldius Sanam Resmi Dilantik Jadi Sekda Definitif Kabupaten Kupang Gubernur NTT Terbitkan Pergub Baru Tata Niaga Sapi, Berat Minimal Sapi Antar Pulau Direvisi KUNJUNGAN TANPA PEMBERITAHUAN KE KANTOR PENGUJIAN KENDARAAN KABUPATEN KUPANG

EKONOMI dan PEMBANGUNAN

SMRC: RAKYAT YANG MERASA EKONOMI MEMBAIK MENOLAK PENUNDAAN PEMILU

badge-check


					SMRC: RAKYAT YANG MERASA EKONOMI MEMBAIK MENOLAK PENUNDAAN PEMILU Perbesar

Siaran Pers 2
SAIFUL MUJANI RESEARCH AND CONSULTING (SMRC)

Jakarta, 24 Maret 2022

Evaluasi publik atas kondisi ekonomi tidak memiliki pengaruh pada dukungan penundaan pemilihan umum (Pemilu) 2024. Mayoritas masyarakat yang menilai ekonomi rumah tangganya baik dibanding tahun lalu menolak Pemilu 2024 ditunda. Demikian hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Hal ini dikemukakan oleh Pendiri SMRC, Prof. Saiful Mujani, dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ yang bertajuk “Siapa Dukung Penundaan Pemilu?” yang disiarkan melalui kanal Youtube SMRC TV pada Kamis, 24 Maret 2022.

Video utuh pemaparan Saiful Mujani bisa disimak di sini: https://youtu.be/VjqS0mue4gI

Hasil survei ini menunjukkan bahwa orang yang mengatakan keadaan ekonomi rumah tangganya lebih baik dari tahun lalu, sebanyak 83 persen tidak mau pemilu ditunda. Demikian pula dengan yang mengatakan lebih buruk, 84 persen menolak. Sementara yang menyatakan tidak ada perubahan, 80 persen juga menolak ide penundaan Pemilu.

Saiful melihat ini sebagai fakta yang menarik dari masyarakat Indonesia.

“Di satu sisi, masyarakat mengapresiasi kinerja pemerintah, tapi di sisi lain, soal Pemilu, periodisasi, regularitas, masyarakat nampaknya taat pada Konstitusi,” kata doktor ilmu politik lulusan Ohio State University, Amerika Serikat, itu.

Ini menunjukkan, lanjut Saiful, betapa canggihnya masyarakat melihat dua persoalan. Yang satu terkait dengan kinerja pemerintah, di sisi lain adalah tentang amanat atau perintah konstitusi yang harus dilaksanakan.

Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta ini menyimpulkan bahwa dari data-data yang ada, rakyat secara umum menolak gagasan presiden tiga periode maupun penundaan Pemilu. Jumlah rakyat yang menolak itu tidak main-main besarnya.

“Karena itu, kalau dipaksakan, kita tidak tahu konsekuensinya. Bukan tidak mungkin rakyat bergerak, apalagi kalau dimobilisasi,” tegasnya.

Saiful berharap agar aspirasi masyarakat ini didengarkan oleh para elit. Dan Presiden Jokowi (bisa) menyatakan secara tegas, seperti Ketua DPR, Puan Maharani, yang secara tegas menyatakan bahwa Pemilu 2024 sudah terjadwal dan akan mengikuti prosedur sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh pemerintah, DPR dan KPU.

“Ini akan memberikan kepastian politik dan hukum bagi keberlangsungan kita sebagai negara demokrasi,” pungkasnya.

–Akhir Siaran Pers–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Inflasi Turun Secara Tahunan Tapi Naik Secara Bulanan, PSI: Efisienkan Ekonomi dengan Membangun Infrastruktur

3 July 2023 - 18:23 WITA

OJK Diminta Segera Jelaskan Duduk Soal Kredit Macet di Bank Mayapada, PSI: Jangan Sampai Terulang Skandal Bank Century

23 June 2023 - 22:31 WITA

PSI Yakin dengan Pasar Keuangan Indonesia di Tengah Ancaman Gagal Bayar Utang AS

23 May 2023 - 19:58 WITA

Pemimpin Keuangan G7 Risau Soal 2 Hal, PSI: Indonesia Harus Antisipasi Dampaknya Terhadap Ekonomi Global

15 May 2023 - 23:53 WITA

Jumlah Angkatan Kerja Naik 2,61 Juta Orang, PSI: Stabilitas dan Kualitas SDM Adalah Kunci

13 May 2023 - 21:01 WITA

Trending on EKONOMI dan PEMBANGUNAN