Menu

Dark Mode
Salus Populi Suprema Lex Esto: Bupati Rote Ndao Tegaskan Keselamatan Rakyat Lewat Penguatan Layanan Puskesmas Liverpool Bungkam Marseille 3-0 di Velodrome, Selangkah Lagi ke 16 Besar Liga Champions AJI: Keputusan MK Perkuat bahwa Sengketa Pers Harus Ditangani oleh Dewan Pers 16 Januari 2026 Memperingati Sejumlah Hari Penting, dari Isra Miraj hingga Hari Remaja Baik Nasional Isra Miraj 2026 Diperingati 27 Rajab 1447 Hijriah, Jatuh pada 16 Januari Laras Faizati divonis hukuman masa percobaan enam bulan, namun tidak perlu menjalaninya – ‘Vonis bersalah membuat orang takut bicara’

PEMBACA MENULIS

Enam Tokoh sebagai Tipologi Hubungan Adventus dan Natal

badge-check

oleh: Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo
(Edisi ke-5)

Kalau umumnya Jemaat Kristen masa kini mendebatkan pencampuradukkan perenungan Adventus dan Natal, Perjanjian Baru justru menampilkan kolaborasi pewartaan Adventus dan Natal. Jelasnya dalam kitab-kitab Injil, pewartaan Adventus dikaitkan erat dengan penggenapannya pada saat kelahiran Yesus. Sebaliknya kelahiran Yesus dipakai sebagai latar belakang untuk mengartikulasilan pentingnya pemberitaan Adventus.

Kolaborasi apik dan atraktif itu kita deteksi dalam kehadiran tiga pasang tokoh yang muncul di pentas masa penantian (Adventus) dan masa penggenapan nubuat (kelahiran Yesus). Tokoh-tokoh itu adalah: Zakaria dan Yusuf, Elizabeth dan Maria, Yohanes Pembaptis dan Yesus. Menariknya, keenam tokoh itu ditampilkan berpasang-pasangan. Narasi tentang iman mereka diatur begitu rupa sehingga nampak adanya keberlanjutan.

Dua tokoh pertama adalah Zakaria dan Yusuf. Yang pertama mewakili umat yang menanti. Yang kedua merepresentasi umat yang hidup dalam momen pemenuhan. Tapi tokoh deskripsi karakter mereka sama. Zakaria dan Yusuf digambarkan sebagai tokoh yang suka menahan diri, tidak mau merebut perhatian publik bagi diri sendiri. Keduanya pasrah menerima keputusan Allah dan menjalankan keptusan itu dengan setia walaupun terkesan menyakitkan dan pahit.

Bayangkan, Zakaria harus menjalani masa 9 bulan 10 hari sebagai orang bisu karena ragu-ragu kalau Elisabeth sang istri bisa melahirkan padahal sudah memasuki usia monopause. Tentulah sebuah masa penuh perenungan diri dan pertobatan bagi Zakaria.

Hati Yusuf juga tak kalah bergejolak. Betapa tidak. Ia diminta Malaikat untuk mengambil Maria sebagai istri, padahal Maria hamil sebelum mereka hidup sebagai suami-istri. Yusuf ini harus pula melakukan tiga kali perjalanan melelahkan. Pertama dari Nazaret ke Betlehem (versi Lukas). Kedua dari Betlehem ke Mesir. Ketiga dari Mesir ke Nazaret. Kalau Yusuf lakukan perjalanan itu seorang diri, tentu saja menyenangkan. Itu seperti jalan-jalan piknik. Masalahnya Yusuf harus membawa Maria dan bayi Yesus. Ini namanya tamasya yang nekat. Bukan hanya perjalannya yang berat. Ambil dari mana biaya hidup untuk mengurus Maria dan bayinya. Seorang tukang kayu seperti Yusuf tentulah tidak punya tabungan untuk biaya perjalanan itu. Tidak adanya kamar kosong di rumah penginapan Betlehem adalah satu indikasi, Yusuf tidak punya cukup uang untum membayar uang muka penginapan.

Zakaria sebagai wakil umat Adventus dan Yusuf sebagai representasi umat yang hidup di moment Natal memang tidak pernah bertemu. Hikayat mereka dinarasikan terpisah. Ini bisa kita pakai untuk melegitimasi kegigihan kelompok orang yang menghendaki kekhusukan masa raya Adventus harus dikawal ketat agar tidak diserobot maknanya oleh gebyar perayaan Natal.

Bisa begitu. Tetapi tunggu. Jangan cepat bertepuk tangan atau menaikan tangan untuk protes. Masih ada dua episode yang harus disimak dari hikayat kitab-kitab Injil tentang Adventus dan Natal (bersambung di edisi ke-6).

Sumber : Facebook Eben Nuban Timo II tanggal 09 Desember 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Salus Populi Suprema Lex Esto: Bupati Rote Ndao Tegaskan Keselamatan Rakyat Lewat Penguatan Layanan Puskesmas

23 January 2026 - 22:10 WITA

Trending Post PEMBACA MENULIS