oleh : Pdt.Mariana Djukambani, M.Th*

PA : Mazmur 147:3
Tema : Menemukan Kesetiaan Allah dalam Luka Persekutuan
Shalom…..
Beberapa waktu terakhir, Indonesia termasuk ruang-ruang gereja diingatkan kembali akan luka yang tersembunyi, namun nyata. Melalui sebuah memoar berjudul broken strings, Aurelie Moeremas mengisahkan pengalamannya sebagai anak remaja usia 15 tahun yang mengalami child grooming (Tindakan manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak2 untuk membangun kepercayaan, yang kemudian diikuti dengan control, kekerasan, eksploitasi dan pelecehan seksual). Ia mengisahkan perjalanannya yang panjang, menuju pemulihan dan belajar berdamai dengan masa lalu.
Secara simbolis judul Broken Strings menggambarkan “kepingan masa muda yang patah”, seperti senar gitar yang putus, yang tidak bisa kembali ke bentuk asli, tetapi memiliki nilai dalam kisahnya. Moremans menyebutnya “broken string” bukan karena gitarnya hancur, melainkan karena satu bagian kecil yang terluka membuat seluruh musik terdiam. Ia menulis dengan jujur: yang paling menyakitkan bukanlah senar yang putus, tetapi berpura-pura bahwa musik masih terdengar.
Gambaran ini, saudara-saudari, sering kali mencerminkan wajah gereja di tengah dunia.
Liturgi tetap berjalan, Nyanyian tetap dilantunkan, Doa tetap dinaikkan. Namun, di luar tembok gereja bahkan di dalam persekutuan, banyak hati yang terluka, patah, dan dibiarkan tanpa balutan. Kesaksian gereja tidak boleh berhenti sebagai ritual yang indah tetapi sunyi. KITA Gereja, dipanggil bukan hanya untuk memainkan musik, melainkan memperbaiki senar yang putus, menyentuh luka, mendekat pada yang patah, dan menghadirkan kesetiaan Allah secara nyata di tengah dunia yang terluka.
Di titik inilah firman Tuhan berbicara dengan lembut namun tegas melalui Mazmur 147:3:
“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”
Allah tidak berdiri sebagai penonton liturgi.
Ia turun ke dalam luka.
Ia tidak hanya disembah,
Ia diwujudkan melalui respons kasih yang konkret.
Dan hari ini, kita diajak bertanya dengan jujur:
Apakah gereja hanya terdengar indah di dalam ibadah,
atau sungguh menjadi tangan Allah yang membalut luka dunia?
Mazmur ini ditulis oleh umat yang telah melewati masa kehancuran. Mereka kembali dari pembuangan bukan sebagai umat yang kuat dan utuh, melainkan sebagai umat yang sedang belajar percaya kembali. Kota memang dibangun ulang, tetapi hati manusia tidak bisa dipulihkan secepat tembok dan rumah.
Karena itu pemazmur tidak memulai dengan pujian atas keberhasilan umat, melainkan dengan pengakuan bahwa Allah sendirilah yang bekerja memulihkan hati yang patah. Kesetiaan Allah di sini tidak ditampilkan sebagai kekuatan yang menguasai dari jauh, tetapi sebagai kehadiran yang dekat dan penuh empati.
Pemazmur memakai gambaran yang sangat manusiawi. Allah digambarkan sebagai Dia yang menyembuhkan dan membalut. Kesetiaan Allah terlihat, bukan hanya pada pemulihan fisik tetapi pada kasihNya untuk mengumpulkan kembali komunitas yang rapuh.
Hati yang patah menunjuk pada relasi yang rusak, kepercayaan yang terguncang, dan harapan yang sempat runtuh. Sementara tindakan membalut luka menggambarkan proses yang pelan, telaten, dan penuh perhatian. Ini menegaskan bahwa pemulihan menurut Allah bukan jalan pintas. Kesetiaan-Nya justru tampak dalam kesabaran-Nya menyertai umat, setahap demi setahap, sampai luka benar-benar pulih.
Allah mendekat pada luka yang tak terucap. Allah tidak hanya memulihkan secara struktural tetapi menyentuh secara personal. Ia tidak hanya menyuruh mereka cepat sembuh, tetapi Ia Mendekat dan membalut. Ia setia bukan hanya pada umat secara kolektif tetapi pada hati yang satu persatu terluka.
Dalam terang firman ini, kita diajak melihat persidangan bukan hanya sebagai ruang pengambilan keputusan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan hati. Di sinilah perbedaan pandangan bisa muncul, suara-suara bisa mengeras, dan emosi bisa teruji. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa perbedaan dan ketegangan tidak harus berakhir pada perpecahan. Jika dibawa dalam kesetiaan Allah, semuanya dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan persekutuan.
Mazmur 147:3 menolong kita menyadari bahwa luka dalam persekutuan gereja bukanlah aib yang harus disembunyikan. Luka adalah tanda bahwa kita saling peduli, bahwa kita terlibat, dan bahwa kita sungguh-sungguh berjalan bersama. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan luka itu, melainkan ketika kita membiarkannya terbuka tanpa mau dirawat. Allah setia membalut, tetapi Ia memanggil kita untuk memberi ruang bagi pekerjaan-Nya itu melalui sikap rendah hati, kesediaan mendengar, dan kerelaan mengampuni.
Kesetiaan Allah akan nyata dalam persidangan ini ketika kita memilih bahasa yang membangun, bukan melukai; ketika kita menimbang dampak keputusan bagi seluruh tubuh Kristus, bukan hanya bagi kepentingan tertentu; dan ketika kita ingat bahwa gereja bukan sekadar lembaga, melainkan persekutuan orang-orang yang saling membutuhkan. Allah menyembuhkan, tetapi sering kali Ia memakai tangan-tangan kita, kata-kata kita, dan sikap kita sebagai alat pembalut bagi luka sesama.
Namun, sebelum menjadi pembalut luka sesama, mari merenung, Apakah kita sendiri, para pendeta, masih memberi diri untuk dibalut oleh Allah, atau kita melayani sambil menyembunyikan luka kita sendiri? Ini poin paling sunyi dan paling berat. Banyak pendeta terbiasa: menjadi penolong, bukan yang ditolong. Mendengar, bukan didengar. Memberi penghiburan walau sedang berduka, memberi penguatan walau sedang rapuh, memberi senyum manis walau hati menangis. Kuat di mimbar, rapuh sendirian.
Budaya pelayanan sering membuat pendeta: merasa tidak pantas mengaku luka karena takut dianggap lemah, memilih diam daripada jujur. Padahal Mazmur 147:3 tidak mengecualikan siapa pun. Allah membalut orang-orang yang patah hati—termasuk para pelayan-Nya. Artinya : Pendeta yang tidak pernah dibalut akan sulit membalut orang lain dengan utuh. Yang terjadi hanyalah pelayanan mekanis tanpa empati mendalam.
Akhirnya, Mazmur ini mengajak kita berharap. Allah tidak meninggalkan gereja-Nya di tengah kerapuhan. Ia tetap setia bekerja, bahkan ketika persekutuan sedang terluka. Kiranya dalam persidangan ini, kita bukan hanya mencari keputusan yang tepat, tetapi juga memberi diri dibentuk menjadi persekutuan yang semakin dewasa, semakin peka, dan semakin siap dipakai Tuhan sebagai gereja yang menyembuhkan, karena terlebih dahulu telah disembuhkan oleh kesetiaan Allah sendiri. Amin
- Tulisan ini adalah kotbah yang disampaikan pada Ibadah Pagi (10/02/26) Persidangan Majelis Sinode GMIT ke LIV – 9 – 14 Februari 2026









