oleh : Albertus M. Patty
Kita hidup di zaman yang aneh. Orang tua rela membayar mahal agar anaknya pintar matematika, fasih bahasa asing, jago presentasi, tetapi tak lagi mengenal suara burung selain nada dering telepon genggam. Anak-anak hafal nama merek gawai terbaru, tetapi tidak tahu perbedaan pohon trembesi dan mahoni. Mereka diajari mengejar masa depan, tetapi perlahan dipisahkan dari bumi tempat masa depan itu berdiri.
Karena itu, ketika Muhammadiyah meresmikan SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) di Manokwari, Papua Barat, sekolah berbasis konservasi yang menggabungkan agama, sains, dan kearifan lokal, sesungguhnya yang dilakukan bukan hanya membangun sekolah. Mereka sedang melawan sebuah ideologi yang telah berkarat: keyakinan bahwa modernitas harus dibayar dengan penghancuran alam. Institusi Muhammadiyah bisa maju, membesar, dan terus melakukan inovasi karena punya pimpinan yang visioner, inovatif dan transformatif. Ini kunci penting!
Sudah terlalu lama kita anggap hutan sebagai simbol keterbelakangan, sementara kota beton dianggap tanda kemenangan peradaban. Seakan-akan semakin banyak pohon ditebang, semakin modern sebuah bangsa. Bila perlu, sungai dibeton, udara dipenuhi asap, dan manusia diberi pendingin ruangan supaya lupa bahwa panas itu akibat ulahnya sendiri. Alam dihancurkan, lalu kita membayar mahal untuk mencari udara segar di akhir pekan.
*Berbasis Humanis-Ekologis*
Lucunya, pendidikan sering ikut terseret logika itu. Sekolah dibayangkan seperti pabrik nilai: seragam rapi, ranking tinggi, ruang kelas dingin, tetapi jiwa murid perlahan membeku. Anak dididik menjadi “manusia kompetitif”, tetapi kehilangan kemampuan sederhana: mencintai kehidupan.
Di titik inilah menarik melihat langkah BPK Penabur Bandung di bawah kepemimpinan Erwien Kosasih dan tim pengurusnya. Mereka tampaknya mengerti bahwa sekolah bukan tempat mencetak robot akademik yang hidup dari angka rapor dan kecemasan masa depan. Pendidikan harus berlangsung dalam suasana ‘fun’, humanis, sekaligus ekologis. Pelajar harus gembira belajar dan mencintai alamnya.
Dari kesadaran itu lahirlah Eco Park di lahan satu hektar berlokasi di Kompleks SMAK 3 BPK PENABUR Cibeureum, sebuah ruang belajar agar anak-anak kota yang hidup di tengah “hutan beton” kembali mengenali makhluk hidup selain avatar media sosial. Sebuah pengingat sederhana: manusia bukan pemilik bumi, melainkan bagian kecil dari jejaring kehidupan yang jauh lebih besar.
Menariknya, inovasi hebat ini mendapat perhatian internasional. Dukungan dari pejabat luar negeri, terutama dari *Her Excellency Professor the Honourable Margaret Gardner AC Governor of Victoria* yang secara khusus datang untuk meletakkan batu pertama pembangunan Eco Park yang rencananya akan diresmikan pada bulan Agustus tahun ini. Kehadirannya
menunjukkan bahwa gagasan pendidikan berbasis kesadaran ekologis bukan romantisme hijau kaum pencinta tanaman, melainkan kebutuhan peradaban.
Namun ironi terbesar justru ada di sini: di banyak institusi pendidikan, inovasi sering dianggap ancaman. Pemimpin pendidikan lebih nyaman menjaga rutinitas daripada mengambil risiko perubahan. Sebagian lebih sibuk merawat kursi daripada merawat masa depan. Sekolah berjalan, rapat berlangsung, laporan menumpuk, tetapi imajinasi membeku.
Padahal dunia berubah terlalu cepat untuk membiarkan diri dipimpin oleh rasa takut.
Bukankah sejarah selalu memperlihatkan bahwa institusi pendidikan hanya bertumbuh ketika dipimpin oleh orang-orang yang berani keluar dari kebiasaan, berani berinovasi, dan berani mentransformasi masa depan.
Ironi menyedihkan bila kita justru lebih nyaman dipimpin oleh mereka yang sekadar menjaga agar semuanya tetap tampak aman padahal perlahan kita akan ditinggalkan zaman?
Bandung,
1 Juni 2026







