Menu

Otomatis
Breaking News

PEMBACA MENULIS

Mengapa Rote–Ndao Membutuhkan Museum Alam dan Sejarah Budaya?

badge-check

Mengapa Rote–Ndao Membutuhkan Museum Alam dan Sejarah Budaya?Perbesar

Oleh Matheos Viktor Messakh

Apa yang akan hilang jika suatu hari anak-anak Rote–Ndao masih dapat melihat sebuah benda peninggalan, tetapi tidak lagi mengetahui siapa yang membuatnya, bagaimana benda itu dipakai, atau cerita apa yang menyertainya? Kehilangan semacam itu tidak selalu terjadi ketika benda musnah. Kadang bendanya masih ada, tersimpan baik di rumah atau menjadi koleksi, sementara hubungan antara benda, manusia, dan tempat perlahan terputus.

Keinginan memprakarsai Natural and Cultural History Museum of Rote–Ndao berangkat dari kegelisahan tersebut. Museum yang saya bayangkan akan mempertemukan sejarah alam kepulauan ini dengan sejarah kehidupan masyarakatnya. Di sana, orang dapat mengenali bentang alam, tumbuhan, hewan, sumber air, dan laut Rote–Ndao, sekaligus memahami bagaimana manusia menyesuaikan diri, bekerja, membangun hubungan sosial, dan mewariskan pengetahuan di tengah lingkungan itu.

Mengapa perlu sebuah museum? Kita sudah memiliki buku, foto, arsip, dan cerita keluarga. Semuanya penting, tetapi masing-masing hanya membuka sebagian dari sebuah kisah. Museum dapat mempertemukan sumber-sumber tersebut dengan benda serta tempat yang nyata. Orang dapat melihat sebuah foto, mendengar kesaksian seseorang yang mengenal pekerjaan di dalamnya, lalu mengamati alat yang digunakan. Dari pertemuan itu, sebuah peninggalan memperoleh kembali sebagian konteks kehidupan yang membuatnya berarti.

Namun, benda tidak dengan sendirinya menceritakan sejarah. Anthony Alan Shelton menunjukkan bahwa museum etnografi pernah mengelompokkan benda dari berbagai masyarakat menurut anggapan para pengumpul dan penelitinya. Cara tersebut tampak ilmiah pada zamannya, tetapi dapat melepaskan benda dari makna yang diberikan oleh masyarakat asalnya. Sebuah koleksi mungkin terawat dengan baik, sementara pengetahuan tentang kehidupan di sekitarnya justru menghilang (Shelton, 2011: Bab 5).

Bayangkan kakabik, alat penjepit nira lontar, disimpan di lemari pajang. Museum dapat mencatat namanya, bahan pembuatnya, ukuran, dan tempat benda itu diperoleh. Keterangan tersebut diperlukan, tetapi anak-anak yang melihatnya masih dapat bertanya: apa itu kakabik, siapa yang membuat kakabik itu, bagaimana cara kerjanya, siapa yang menggunakannya, dan bagaimana keterampilan yang berkaitan dengannya dipelajari? Jawabannya perlu dicari dari orang yang mengetahui alat dan pekerjaan tersebut, bukan ditebak dari bentuk bendanya saja.

Demikian pula dengan seuk, mantel hujan tradisional. Jika ia hanya diperkenalkan sebagai “pakaian masa lalu”, pengunjung belum memahami keadaan yang membuat orang membutuhkannya atau pengetahuan yang diperlukan untuk membuat dan memakainya. Sebuah seuk dapat mengundang percakapan tentang bahan, keterampilan, cuaca, pekerjaan, serta perubahan cara orang melindungi diri ketika beraktivitas. Pertanyaan-pertanyaan itu perlu diteliti; museum tidak boleh menyajikan dugaan sebagai fakta.

Persoalan ini bukan sekadar kemungkinan di masa depan. Ketika menelusuri pangkalan data Museum Volkenkunde Leiden pada 2014, saya menemukan catatan 425 benda dari Rote dalam koleksi yang saat itu memuat 3.046 benda dari NTT. Di antaranya terdapat kakabik, sandal dari daun lontar, dan benda-benda kehidupan sehari-hari lainnya (Messakh, 2014). Kini koleksi Wereldmuseum, termasuk koleksi Leiden, dapat ditelusuri secara daring (Wereldmuseum Leiden, tanpa tahun). Keberadaan benda-benda tersebut membuka kesempatan penelitian yang besar, sekaligus pertanyaan yang dekat dengan tujuan tulisan ini: ketika sebuah benda Rote tersimpan dan diberi keterangan di Leiden, siapa di Rote yang masih dapat menjelaskan cara membuat, menggunakan, dan memaknainya?

Laurajane Smith membantu menjelaskan mengapa pekerjaan tersebut penting. Dalam The Uses of Heritage, ia memandang warisan sebagai proses mengingat, menyampaikan pengetahuan, dan memberi makna kepada benda serta tempat dalam kehidupan sekarang. Sebuah benda dapat membantu orang bercerita, tetapi benda itu sendiri tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia yang membuat ceritanya terus hidup (Smith, 2006: 1–3). Bagi Rote–Ndao, menyelamatkan kakabik atau seuk berarti pula berusaha mendengarkan orang yang mengenal pembuatannya, penggunaannya, dan perubahan yang mereka saksikan.

Pilihan tentang benda mana yang dikumpulkan pun perlu dipikirkan. Sharon Macdonald mengingatkan bahwa mengoleksi selalu melibatkan tindakan memilih dan memberi nilai. Apa yang dianggap layak disimpan akan memengaruhi sejarah seperti apa yang kelak dapat diceritakan museum (Macdonald, 2011: Bab 6). Bila perhatian hanya diberikan kepada benda yang langka atau tampak indah, pengetahuan tentang pekerjaan sehari-hari dan hubungan manusia dengan alam dapat terabaikan.

Di sinilah gagasan museum alam dan sejarah budaya menemukan alasannya. Lontar tidak cukup dipahami hanya sebagai tumbuhan, sementara alat dan keterampilan yang terkait dengannya tidak cukup dijelaskan tanpa mengenal lingkungan tempat lontar tumbuh. Sumber air dapat dipelajari sebagai bagian dari kondisi alam pulau sekaligus melalui pengaruhnya terhadap tempat tinggal dan kehidupan masyarakat. Begitu pula laut: keadaan alamnya dan pengalaman orang-orang yang hidup bersamanya merupakan bagian dari cerita yang saling menerangkan.

Museum seperti ini dapat membantu publik memahami perubahan yang sedang terjadi, asalkan ia mau mengajukan pertanyaan kepada penelitian ilmiah dan pengalaman warga. Apa yang berubah pada sumber air, pesisir, tumbuhan, atau cara orang memanfaatkan alam? Apa yang telah diketahui, dan apa yang masih perlu diteliti? Robert R. Janes mengingatkan bahwa museum dapat kehilangan relevansi ketika terlalu sibuk dengan urusan lembaganya sendiri. Ia melihat lembaga sejarah alam juga mempunyai peran dalam membantu masyarakat memahami persoalan lingkungan yang dihadapinya (Janes, 2009: 13–14, 43–44).

Tentu, museum tidak boleh menganggap dirinya telah memiliki seluruh jawaban setelah mengumpulkan sejumlah benda dan kesaksian. Nina Simon mengusulkan agar masyarakat diberi kesempatan untuk menyumbang pengetahuan, menanggapi, dan ikut membentuk pekerjaan museum (Simon, 2010: ii). Bagi Rote–Ndao, itu berarti orang yang membuat, memakai, menyimpan, atau mewarisi sebuah benda perlu mempunyai ruang untuk memeriksa penjelasannya. Peneliti dan generasi muda juga dapat mengajukan pertanyaan baru. Bila ingatan mereka berbeda, perbedaan itu patut diteliti dengan jujur, bukan segera dirapikan menjadi satu cerita.

Pada akhirnya, alasan mendirikan museum harus diuji dari manfaatnya bagi publik. Daniel H. Weiss mengakui bahwa museum dapat memperkaya pengetahuan dan kehidupan masyarakat, tetapi ia juga mencatat kritik terhadap lembaga yang belum sungguh melayani orang-orang yang seharusnya memperoleh manfaat darinya (Weiss, 2022: 3–6). Pertanyaan itu layak menyertai cita-cita kita sejak awal: siapa yang akan belajar dari museum Rote–Ndao, siapa yang dapat ikut membentuknya, dan pengetahuan apa yang menjadi lebih mudah diakses karena museum ini hadir?

Pekerjaan tersebut dapat dimulai sebelum sebuah gedung dibangun. Kita dapat meneliti sejarah satu kakabik atau seuk bersama orang yang mengenalnya, merekam kesaksian mereka, memeriksa keterangan yang diperoleh, lalu membagikan hasilnya melalui tulisan atau pameran kecil. Dari langkah semacam itu, kita akan menemukan pertanyaan baru dan mengetahui siapa lagi yang perlu diajak berbicara.

Mendirikan Natural and Cultural History Museum of Rote–Ndao memang sebuah mimpi besar. Tetapi langkah pertamanya berada dalam jangkauan kita: menjaga agar benda tidak kehilangan cerita, agar pengetahuan tentang alam tidak terpisah dari kehidupan manusia, dan agar ingatan orang-orang yang masih dapat menjelaskan keduanya tidak berlalu tanpa sempat didengar. Jika pekerjaan itu dimulai sekarang, museum yang kelak berdiri akan tumbuh dari pengetahuan serta hubungan yang sudah dibangun. []

Literatur

Janes, Robert R. 2009. Museums in a Troubled World: Renewal, Irrelevance or Collapse? London dan New York: Routledge.

Macdonald, Sharon. 2011. “Collecting Practices.” Dalam A Companion to Museum Studies, disunting oleh Sharon Macdonald. Chichester: Wiley-Blackwell.

Messakh, Matheos. 2014. “Ada 3000 Benda dan Artefak dari NTT di Museum Volkenkunde Leiden.” Satutimor.com, 5 Februari. Tautan artikel.

Shelton, Anthony Alan. 2011. “Museums and Anthropologies: Practices and Narratives.” Dalam A Companion to Museum Studies, disunting oleh Sharon Macdonald. Chichester: Wiley-Blackwell.

Simon, Nina. 2010. The Participatory Museum. Santa Cruz: Museum 2.0.

Smith, Laurajane. 2006. The Uses of Heritage. London dan New York: Routledge.

Weiss, Daniel H. 2022. Why the Museum Matters. New Haven dan London: Yale University Press.

Wereldmuseum Leiden. Tanpa tahun. “Onze collectie.” Tautan laman koleksi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Berita Terkait

Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat

10 Jul 2026 - 10:29 WITA

Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat

THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston

9 Jul 2026 - 23:40 WITA

THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston

TIGA KASUS (MEMALUKAN) DALAM TIGA HARI

9 Jul 2026 - 20:46 WITA

TIGA KASUS (MEMALUKAN) DALAM TIGA HARI
Trending PEMBACA MENULIS