Menu

Dark Mode
Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston TIGA KASUS (MEMALUKAN) DALAM TIGA HARI Mahasiswa Teologi UKAW Kupang Mulai Jalani SKL dan Collegium Pastorale di Klasis Lole, Jemaat Sambut dengan Hangat MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger

PEMBACA MENULIS

THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston

badge-check


					THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston Perbesar

Oleh Matheos Viktor Messakh
Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko di Boston bukan sekadar perebutan tiket menuju babak semifinal. Di balik riuh penonton di stadion, laga ini membawa beban sejarah, identitas, dan sebuah narasi besar yang sangat mirip dengan opera luar angkasa ikonik: The Empire Strikes Back.
Jika dalam sinema film tersebut menggambarkan serangan balik kekaisaran galaksi yang dominan terhadap kekuatan pemberontak, di dunia nyata, pertandingan ini menjadi panggung teatrikal di mana sang mantan penguasa kolonial (Prancis) mencoba mempertahankan supremasinya dari “pemberontakan” sepak bola Maroko yang menolak tunduk untuk kedua kalinya.
Untuk memahami tensi laga ini, kita harus mundur ke tahun 1912, ketika [Perjanjian Fes](https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Fez) ditandatangani. Perjanjian tersebut secara resmi menandai dimulainya era Protektorat Prancis di Maroko. Melalui instrumen hukum kolonial ini, Prancis tidak menghapus kesultanan Maroko secara total, melainkan melakukan subordinasi terselubung: membiarkan Sultan tetap di takhtanya sebagai simbol kosmetis, sementara kendali sejati atas militer, hukum, diplomasi, dan eksploitasi sumber daya ekonomi dipegang penuh oleh residen jenderal Prancis.
Struktur asimetris inilah yang dalam kacamata filsuf Frantz Fanon menciptakan pembagian ruang yang rigid antara “sang penjajah” yang superior dan “yang dijajah” yang terpinggirkan. Ketika Maroko meraih kemerdekaan pada tahun 1956, belenggu fisik itu lepas, namun struktur psikologis dan kulturalnya menetap. Prancis tetap memosisikan dirinya sebagai pusat gravitasi (The Empire) yang mengasumsikan bahwa mantan wilayah jajahannya akan selalu berada di bawah baying-bayang pengaruh mereka.
Dalam konteks Piala Dunia 2026, Prancis hadir sebagai personifikasi sempurna dari “The Empire” tersebut. Mereka adalah kekuatan mapan, pemenang multi-trofi, dan raksasa sepak bola modern yang dipimpin oleh sang “Darth Vader” lapangan hijau, Kylian Mbappé. Seperti Kekaisaran Galaktik yang memiliki sumber daya tak terbatas, Prancis mengandalkan hegemoni taktis, infrastruktur olahraga terbaik, dan modal finansial raksasa untuk mendominasi kompetisi.
Pertemuan ini menjadi misi penegasan bagi Prancis bahwa hierarki lama belum runtuh. Kemenangan Prancis atas Maroko di semifinal Qatar 2022 adalah contoh nyata bagaimana “Kekaisaran” memukul mundur kejutan awal pemberontak. Di Boston, Prancis datang dengan armada penuh untuk memastikan bahwa tatanan sepak bola global tetap patuh pada hukum besi yang mereka tetapkan.
Di sisi lain lapangan berdiri Maroko, The Rebel Alliance. Jika pada tahun 2022 mereka mengejutkan dunia dengan menjadi negara Afrika dan Arab pertama yang menembus semifinal, maka di tahun 2026 mereka kembali bukan lagi sebagai dongeng yang beruntung, melainkan sebagai kekuatan dekolonisasi yang terorganisir.
Dalam teori pasca-kolonial, Maroko sedang melakukan apa yang disebut Edward Said sebagai writing back (atau dalam konteks ini, playing back) terhadap pusat kekuasaan. Mereka merebut ruang (lapangan bola) yang selama ini didominasi oleh narasi Eurosentris dan menggunakannya untuk menuntut pengakuan yang setara.
Ironi pasca-kolonial ini memuncak dan mencair di atas lapangan melalui komposisi kedua tim. “Kekaisaran” Prancis diperkuat oleh talenta-talenta luar biasa dari tanah diaspora dan anak-anak imigran Afrika yang sering kali menghadapi marginalisasi sosial di jalanan Paris, namun dipuja saat mengenakan seragam Les Bleus.
Sebaliknya, Maroko dipimpin oleh Achraf Hakimi, sang panglima pemberontak yang lahir dan mengecap pendidikan sepak bola di Eropa, namun memilih kembali membela panah leluhurnya. Fenomena ini mencerminkan konsep hybridity dan mimicry dari pemikir pasca-kolonial Homi Bhabha. Maroko menggunakan “senjata taktis” dan sains olahraga yang dikembangkan oleh Eropa untuk menyerang balik Eropa itu sendiri. Hakimi, yang bersahabat erat dengan Mbappé di jantung kekaisaran (Paris Saint-Germain), kini berdiri sebagai simbol perlawanan yang memahami setiap jengkal strategi sang lawan.
Pada akhirnya, laga Prancis-Maroko di perempat final 2026 ini membuktikan bahwa sepak bola adalah perpanjangan dari geopolitik masa lalu yang belum usai. Apakah Prancis akan berhasil menegaskan kembali hegemoni kolonialnya dan melangkah ke semifinal? Ataukah Maroko yang akan membalikkan akhir cerita fiksi ilmiah tersebut, membuktikan bahwa Aliansi Pemberontak dari belahan bumi selatan kini memiliki kekuatan “Force” yang cukup untuk meruntuhkan tatanan sang Kaisar?
Di Boston, sejarah lama tidak sekadar diingat; ia didekonstruksi dan ditulis ulang lewat setiap operan di atas lapangan.[]
Ket: Foto AI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat

10 July 2026 - 10:29 WITA

TIGA KASUS (MEMALUKAN) DALAM TIGA HARI

9 July 2026 - 20:46 WITA

WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

14 June 2026 - 23:10 WITA

Trending PEMBACA MENULIS