Oleh Matheos Viktor Messakh

Membangun koleksi sebuah museum bukan sekedar mengumpulkan barang atau benda tetapi mengumpulkan informasi dan pengetahuan. Bayangkan seseorang datang membawa sebuah haik, wadah anyaman yang dipakai menampung nira lontar. Apakah museum cukup menerima benda itu, mencatat namanya, lalu menyimpannya? Jika kita berhenti di sana, kita mungkin memperoleh sebuah koleksi, tetapi kehilangan sebagian besar pengetahuan yang membuatnya berharga.
Kita perlu mengetahui dalam kebiasaan orang Rote, siapa yang biasanya membuat haik, bahan apa yang dipilih, bagaimana ia dianyam, dan ada berapa jenis haik, dan digunakan untuk apa saja. Kita perlu mencatat siapa yang memakainya, bagaimana dan di mana. Bahkan sebuah haik yang masih dibuat hari ini dapat membantu kita memahami perubahan keterampilan dan kehidupan sehari-hari. Tulisan saya tentang budaya lontar menunjukkan betapa banyak benda dan pekerjaan saling terhubung dalam pemanfaatan satu pohon saja (Messakh, 2017).
Di dekat haik, kita dapat menampilkan kakabik: dua batang kayu yang digunakan sebagai penjepit mayang lontar agar menghasilkan nira. Ada pula pisau untuk mengiris mayang. Ketiganya akan lebih mudah dipahami jika orang dapat melihat letaknya ketika dipakai, mendengar penjelasan penyadap, dan mengikuti urutan pekerjaannya. Dalam uraian James J. Fox tentang kehidupan masyarakat Termanu pada 1960-an, pekerjaan mengambil dan mengolah nira melibatkan sejumlah alat, jenis wadah, dan keterampilan yang berbeda (Fox, 1968: 87–92). Satu benda membawa kita kepada benda lain, lalu kepada pengetahuan orang yang menggunakannya.Di sinilah praktik mengoleksi perlu dipikirkan dengan cermat. Sejarah museum memperlihatkan bahwa benda sering dipindahkan dari tempat asalnya lalu dikelompokkan menurut pandangan pengumpul. Keterangan tentang bahan, ukuran, dan usia memang berguna, tetapi belum tentu menjelaskan arti benda itu bagi masyarakat yang membuat dan memakainya (Shelton, 2011). Karena itu, pertanyaan pertama museum Rote–Ndao sebaiknya bukan hanya “benda apa yang bisa kita peroleh?”, melainkan juga “kehidupan dan pengetahuan apa yang ingin kita pahami bersama pemiliknya?”Siklus pertanian membuka kemungkinan koleksi yang jauh lebih luas. Apalagi jika nama museumnya adalah Natural and Cultural History Museum of Rote–Ndao (Museum Alam dan Sejarah Budaya). Kita dapat mulai dari cara orang mengenali musim, memilih lahan, menyiapkan tanah, memperbaiki pagar dan saluran air, memilih benih, menanam, merawat tanaman, hingga memanen dan menyimpan hasilnya. Siklus pertanian orang Rote selama setahun dapat menjadi panduan yang kuat bagi pengumpulan koleksi dan pengetahuan. Orang mengenal beberapa jenis lahan dan kebun dengan fungsi berbeda, serta kaitan antara pengairan, pekerjaan bersama, dan pengaturan hak atas air dalam masyarakat yang ditelitinya (Fox, 1968: 93–107). Kolekasi museum dapat menjelas apa itu lala, mamek, tine dan osi. Orang Rote juga mempunyai pekerjaan pertanian yang berubah mengikuti musim (Fox, 1968: 107–115). Catatan itu memberi kita daftar pertanyaan awal; jawaban untuk Rote–Ndao masa kini perlu dicari bersama para petani dari berbagai tempat.Apa yang bisa dikoleksi dari satu musim tanam? Sebagai contoh dapat kita sebutkan: benih dan nama varietasnya, alat yang dipakai untuk menyiapkan lahan, bahan pagar, bagaimana proses membangun pagar, apa yang dilakukan dalam memelihara tanaman, alat apa yang dibutuhkan selama masa perawatan tanaman, bagaimana panen dilakukan dan oleh siapa, apa saja wadah atau tata cara penyimpan hasil panen. Namun jejak yang lebih kecil pun patut diperhatikan: cara benih disemaikan dalam kapisak misalnya, cara membuat pematang sawah, cara merenca sawah dengan sapi atau kerbau, cara bagi hasil dan seterusnya. Atau jenis tanaman yang tumbuh di jenis kebun tertentu, atau tanda yang dipakai petani untuk memperkirakan datangnya hujan. Sebuah foto para petani sedang merenca dengan menggunakan sapi-sapi dapat menjelaskan sesuatu yang tidak tampak pada alat yang sudah dilepaskan dari pekerjaannya.Pada musim menyadap nira lontar, segala sesuatu yang digunakan dalam proses penyadapan dan memasak dapat menjadi benda koleksi, tetapi juga proses mempersiapkan penyadapan dan proses menyadap serta memasak juga dapat menjadi informasi yang menarik. Sebuah haik, sebuah tungku masak, foto tentang jenis kayu bakar yang digunakan dan proses memperolehnya akan sangat mempermudah imajinasi para pengunjung museum. Timeline jam menyadap dan memasak dalam sehari akan menjadi pengetahuan yang berharga bagi generasi muda Rote maupun pengunjung lainnya. Rekaman audio nyanyian yang senandungkan oleh para penyadap akan menhadirkan pengunjung seakan berada di tengah rerumpun lontar di musim panen lontar. Koleksi alat menyadap dan memasak, serta dummy gula padat (tua batu) atau gula cair (tua nasu) atau bahkan aroma gula yang direplikasi dapat menjadi koleksi museum yang unik. Hal lain di luat siklus pertanian seperti budaya dan bahasa dapat memperkaya koleksi. Perbedaan budaya dan dialek di antara orang-orang Rotepun bisa menjadi koleksi yang menarik. Rekaman audio atau audio-visual yang membedakan dialek-dialek di Rote dapat menjadi koleksi yang menarik. Koleksi peralatan kehidupan yang digunakan sehari-hari dalam kehidupan orang Rote, terutama di jaman dahulu, merupakan sumber koleksi yang menarik. Berbagai ragam bunyi (li) gong Rote dan peralatan music Rote juga menarik untuk dikoleksi oleh museum. Sejarah Nusak (Kerajaan) di Rote dengan penguasanya, nama dan jumlah klan (leo) nya, peta wilayahnya dan keunikan kehidupan warganya juga menjadi koleksi yang menarik karena memberikan informasi tentang identitas orang Rote. Dari sisi transportasi misalnya dapat ditampilkan jenis-jenis perahu yang digunakan orang Rote dalam bepergian keluar Rote atau di sekitar pulau Rote. Jenis perahu serupa pernah saya temukan di Natural History Museum di Oxford, Inggris. Atau peralatan menunggang kuda yang dikenal orang Rote seperti pelana dan kekang kuda. Tentu masih banyak hal dan informasi yang dapat dikumpulkan untuk museum Rote-Ndao tergantung kepad thema atau panduan yang dipilih. Namun, tidak semua hal itu harus dipindahkan ke ruang penyimpanan museum. Benih atau alat tertentu mungkin dapat dihimpun dalam bentuk aslinya dengan izin pemilik dan catatan asal yang jelas. Susunan kebun atau saluran air mungkin lebih tepat dijelaskan melalui maket. Urutan kerja dapat direkam dalam foto, video, gambar, dan tulisan. Setiap bentuk memiliki kegunaan: benda asli memperlihatkan bahan dan bekas pemakaian; maket membantu orang melihat hubungan antarbagian; kesaksian petani menjelaskan keputusan yang mereka ambil. Pengunjung juga perlu diberi tahu mana benda asli, mana rekonstruksi, dan siapa yang memberikan penjelasannya.Saya pernah melihat di sebuah museum di Assen, Belanda, penyajian tentang kotoran sapi pada masa Romawi. Saya menyebutnya berdasarkan ingatan atas kunjungan itu, bukan sebagai keterangan bahwa museum tersebut menyimpan kotoran sapi asli dari zaman Romawi. Yang melekat dalam ingatan saya justru cara sebuah hal yang tampaknya remeh mengundang pertanyaan tentang kehidupan masa lalu. Kotoran ternak dapat memberi jalan untuk membicarakan hewan, kandang, lahan, atau pekerjaan manusia. Contoh itu mengingatkan kita agar tidak terlalu cepat memutuskan bahwa suatu jejak kehidupan “terlalu kecil” untuk museum. Lokasi museum yang dimaksud, Assen, berada di Belanda. (Drents Museum)Tentu saja museum tidak perlu mengumpulkan setiap benda atau jejak yang dijumpai. Mengoleksi menuntut pilihan, dan pilihan itu harus dapat dijelaskan. Sebelum menerima sebuah seuk, mantel hujan tradisional, misalnya, kita perlu bertanya dari siapa benda itu berasal, bagaimana ia dibuat dan dipakai, serta apakah pemiliknya menghendaki benda itu disimpan atau cukup didokumentasikan. Pertanyaan serupa berlaku untuk benih, alat pertanian, dan pengetahuan tentang musim. Masyarakat yang mengenalnya perlu ikut memeriksa keterangan yang kelak dibaca pengunjung. Museum partisipatif memberi ruang bagi orang untuk menyumbangkan pengetahuan dan turut membentuk cara koleksi ditafsirkan (Simon, 2010).Dengan demikian, perintisan museum Rote–Ndao dapat dimulai dari pekerjaan yang sangat nyata: memilih satu rangkaian kegiatan, mendokumentasikannya dengan teliti, lalu memperlihatkan hasilnya kepada orang-orang yang terlibat untuk diperiksa. Siklus pertanian di satu tempat dapat menjadi awal yang baik. Apa saja tahapnya? Benda apa yang dipakai? Nama lokal apa yang perlu dicatat? Apa yang berubah dalam satu generasi? Setelah itu, rangkaian yang sama dapat ditelusuri di tempat lain tanpa menganggap praktik satu wilayah mewakili seluruh Rote dan Ndao.Sebuah museum alam dan sejarah budaya tidak menjadi kaya semata-mata karena jumlah benda di lemarinya. Ia menjadi berguna ketika orang dapat melihat hubungan antara benih dan musim, alat dan keterampilan, air dan kerja bersama, serta benda dan kisah orang yang hidup bersamanya. Jika hubungan itu mulai dicatat sekarang, bahkan koleksi yang paling sederhana pun dapat membuka mata kita terhadap keluasan pengetahuan Rote–Ndao.LiteraturFox, James J. 1968. The Rotenese: A Study of the Social Organization of an Eastern Indonesian People. Disertasi, University of Oxford.Messakh. 2017. “Arti Lontar bagi Orang Rote.” Facebook note. Shelton, Anthony Alan. 2011. “Museums and Anthropologies: Practices and Narratives.” Dalam Sharon Macdonald (ed.), A Companion to Museum Studies.Simon, Nina. 2010. The Participatory Museum. Museum 2.0.









