Menu

Dark Mode
Salus Populi Suprema Lex Esto: Bupati Rote Ndao Tegaskan Keselamatan Rakyat Lewat Penguatan Layanan Puskesmas Liverpool Bungkam Marseille 3-0 di Velodrome, Selangkah Lagi ke 16 Besar Liga Champions AJI: Keputusan MK Perkuat bahwa Sengketa Pers Harus Ditangani oleh Dewan Pers 16 Januari 2026 Memperingati Sejumlah Hari Penting, dari Isra Miraj hingga Hari Remaja Baik Nasional Isra Miraj 2026 Diperingati 27 Rajab 1447 Hijriah, Jatuh pada 16 Januari Laras Faizati divonis hukuman masa percobaan enam bulan, namun tidak perlu menjalaninya – ‘Vonis bersalah membuat orang takut bicara’

PEMBACA MENULIS

Banjir Bandang : “Kita Sudah Melampaui Batas”

badge-check
oleh : Albertus M. Patty
Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh bukan sekadar bencana alam. Ia adalah wahyu pahit dari bumi: sebuah pengungkapan terhadap apa yang selama ini kita rusak secara perlahan namun pasti.
Lebih dari 974 orang telah meninggal, ratusan hilang, ribuan rumah lenyap, dan masyarakat kini berdiri di sisi sejarah yang penuh luka.
Namun luka itu bukan hanya milik manusia. Bumi pun terluka. Di tengah teriakan dan jeritan manusia dan bumi yang terluka, kita harus segera memutuskan sikap moral-etis kita.
*Menarik Pelatuk ke Diri Kita Sendiri*
Para ilmuwan sejak lama telah memperingatkan bahwa cuaca ekstrem bukanlah gejolak spontan.
Ia adalah konsekuensi.
Salah satu suara paling tegas adalah Will Steffen, ilmuwan Sistem Bumi yang memainkan peran penting dalam teori planetary boundaries.
Dalam laporannya yang terkenal “The Anthropocene Review: The Trajectory of the Anthropocene” (2015), ia menyatakan:
“We are pushing the Earth System beyond the boundaries that have allowed civilization to develop and thrive. Continuing on this trajectory risks destabilising the very biophysical foundations of human existence” (The Trajectory of the Anthropocene,” The Anthropocene Review, 2015).
Steffen memperingatkan secara gamblang bahwa kita sedang melintasi batas-batas aman yang menopang kehidupan. Ia menyebut tindakan destruktif manusia, penggundulan hutan, perusakan ekosistem, emisi karbon, sebagai proses yang membawa bumi pada titik ketidakstabilan yang tak dapat dibalik.
Dalam laporan lain yang disampaikan melalui Stockholm Resilience Centre, Steffen menegaskan:
“Ecocide is not a metaphor. It is a measurable disruption of the Earth System with consequences that can cascade for centuries” (Stockholm Resilience Centre briefing paper, 2018).
Kata “ecocide” yang digunakan Steffen bukan kiasan. Ia menunjuk kepada kenyataan bahwa penghancuran hutan adalah pembunuhan terhadap sistem kehidupan yang menopang manusia, pembunuhan yang efeknya berantai, panjang, dan sering kali tidak dapat dipulihkan, dan ujungnya adalah musnahnya manusia itu sendiri. Kita sedang menarik pelatuk untuk kematian kita sendiri.
*Sudah Melampaui Batas*
Ketika jutaan gelondongan kayu terseret banjir di Sumatera dan Aceh, bumi sedang memperlihatkan bukti nyata bahwa kita telah melampaui batas itu. ‘Batas itu adalah keserakahan kita sendiri,’ kata Stiglitz, pemenang hadiah Nobel itu. Memang, Indonesia adalah negara dimana proses deforestasi terbesar kedua di bumi ini setelah Brazil. Tetapi ada beda! Brazil mulai sadar dengan melakukan reboisasi besar-besaran, sementara Indonesia bukan saja masih belum sadar, tetapi bahkan dengan sengaja mau mengubah hutan menjadi kelapa sawit.
Bumi pun menjerit dan memuntahkan gelondongan kayu yang selama ini disembunyikan. Tetapi kita masih juga sibuk melontarkan alasan, dan berupaya menutupi berbagai kesalahan. Inilah realitas yang memilukan: bukan hanya kerusakan ekologisnya, tetapi ketidakjujuran moral yang menyertainya.
Di tengah penderitaan rakyat, kita mendengar pejabat yang menolak mengakui akar masalahnya.
Seakan-akan bencana datang tanpa sebab manusiawi. Seakan-akan cuaca ekstrem terjadi begitu saja tanpa kaitan dengan deforestasi, pembabatan hutan, atau pengkhianatan terhadap amanat ekologis yang seharusnya dijaga.
Refleksi ini membawa kita pada kebenaran pahit:
Apakah para elite penguasa sungguh mau berubah? Jika saya dimintain pendapat, saya harus jujur:
Saya Pesimis!
Mengapa?
Karena perubahan kebijakan berarti harus berhadapan dengan ego dan kepentingan para elite politik dan aparat itu sendiri. Itu berarti mengakui bahwa selama ini, keputusan yang mereka buat salah.
Itu berarti menghentikan aliran keuntungan yang mengalir dari perusahaan-perusahaan sawit, tambang, dan kayu yang kebanyakkan dimiliki oleh atau ada kaitannya dengan elite politik itu sendiri.
Dengan kata lain, mengubah kebijakan berarti mengubah diri.
Dan jarang sekali kekuasaan rela melakukan hal yang merugikan atau mengurangi kekuasaannya.
Jika Will Steffen memperingatkan bahwa ecocide menghancurkan fondasi kehidupan, maka kita melihat ironi tragis di negeri ini: bahwa mereka yang memiliki kuasa justru berada di garis depan dalam mempercepat kehancuran itu. Dan, sekarang mereka harus mengambil keputusan yang tepat dan benar demi kelangsungan hidup kita semua.
Bumi Tidak Bisa Disuap. Bumi tidak tunduk pada lobi. Bumi tidak bisa dibohongi dengan konferensi pers dan alasan sebagus apa pun. Bumi tidak dapat diatur dengan peraturan yang dibuat hanya demi nama baik.
Bumi hanya merespons tindakan.
Dan bumi merespons tindakan kita dengan bahasa yang sangat jelas:
banjir bandang, tanah longsor, gelondongan kayu berjuta kubik, cuaca ekstrem, ekosistem runtuh, dan masyarakat yang tak mampu lagi berteriak karena perihnya derita yang mereka pikul.
Sesungguhnya kita bukan sekedar sedang membinasakan bumi, tetapi kita sedang membinasakan rumah yang selama ini menjamin kelangsungan hidup kita bersama.
Yang kita bunuh adalah ruang aman untuk anak cucu kita hidup.
*Sampai Kapan Kita Berdiam?*
Refleksi ini seharusnya menjadi doa sekaligus protes profetis:
Tuhan,
ajar kami melihat kebenaran yang pahit lebih daripada kenyamanan yang memabukkan.
Ajar kami mendengar jeritan bumi
lebih keras dari bisikan kepentingan politik.
Ajar kami berani berkata cukup,
bahkan ketika mereka yang berkuasa memilih untuk tidak berubah.
Karena menghentikan kebijakan ecocide bukan sekadar tugas ekologis, ini adalah tugas moral. Tugas generasi kita.
Tugas bagi siapa pun yang masih mencintai kehidupan. Tugas kita semua yang mencintai generasi anak-cucu di masa mendatang.
Bandung,
9 Des. 2025
sumber : Fb Albertus Patty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Salus Populi Suprema Lex Esto: Bupati Rote Ndao Tegaskan Keselamatan Rakyat Lewat Penguatan Layanan Puskesmas

23 January 2026 - 22:10 WITA

Trending Post PEMBACA MENULIS