“Mama, kalau saya meninggal, saya mau Ade Gusti memberi sambutan”.
Kalimat itu, diucapkan dengan nada ringan oleh dr. Husein Pancratius Rukeng, sempat saya dengar dua atau tiga kali selama lebih dari satu dekade menjadi staf beliau di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT. Pesan itu, yang dulu saya tolak dalam hati karena berharap beliau hidup panjang dengan kesehatan yang terjaga, akhirnya tiba juga di hari duka, Selasa, 26 Agustus 2025. Demikian yang disampaikan oleh Gusti Brewon.

Malam itu, saat Gusti Brewon tiba untuk melayat, Pak Agus Bebok—mantan Sekretaris KPA Kota Kupang—tiba-tiba memintanya agar berbagi cerita di hadapan keluarga dan pelayat. Tanpa persiapan, Gusti Brewon maju dengan kalimat pembuka, “Bapa dokter, pesan Bapa sekarang harus saya laksanakan.”
Sosok yang Lengkap
Gusti Brewon mengenal dr. Husein bukan hanya sebagai atasan, melainkan juga sebagai seorang ayah, sahabat, sekaligus guru kehidupan. Selama kurang lebih 10 tahun, mendampingi beliau dalam banyak kegiatan KPA NTT: rapat, advokasi, hingga perjalanan ke pelosok daerah. Rini Karsidin salah satu Staf KPA bahkan lebih lama lagi, sejak 2009 hingga akhir hayat beliau. Tetapi saya tahu, kesempatan mendampingi Bapa Dokter begitu dekat memberi banyak pelajaran berharga.
Lebih lanjut Gusti Brewon mengatakan, beliau figur yang lengkap: cerdas, humoris, bijaksana, sekaligus peduli. Saya masih ingat bagaimana humornya kerap mencairkan suasana rapat yang tegang, atau bagaimana petuahnya sederhana tetapi membekas. Salah satunya, “Berbuatlah baik. Diterima atau tidak, lakukan saja. Nikmati hidup secukupnya, jangan berlebihan, dan tetaplah sederhana.”
Pengabdian Panjang di Dunia Kesehatan
Dr. Husein Pancratius Rukeng adalah dokter yang namanya lekat dengan dunia kesehatan Nusa Tenggara Timur. Ia pernah menjabat sebagai Direktur RSUD WZ Johannes Kupang selama lebih dari 13 tahun, kemudian dipercaya menjadi Penjabat Bupati Flores Timur, serta Direktur RSIA Dedari Kupang (2010–2015). Jabatan terakhirnya adalah Sekretaris KPA Provinsi NTT, tempat ia mengabdikan diri dalam penanggulangan HIV dan AIDS.
Dedikasi panjang itu membuatnya bukan hanya dikenal sebagai dokter, tetapi juga pemimpin yang mampu mendengarkan, memberi arah, dan menumbuhkan harapan. Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit, dalam ungkapan duka resminya menyebut almarhum sebagai “putra terbaik Manggarai yang telah memberikan kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan.”
Kenangan yang Tinggal
Bagi kami, staf yang pernah mendampingi, Bapa Dokter adalah pribadi yang melampaui batas formalitas kantor. Ia tahu bagaimana menjadi pemimpin yang tetap manusiawi. Ia menegur dengan humor, mengajarkan dengan teladan, dan merangkul dengan kasih.
Kini, di surga, saya percaya beliau sudah berjumpa dengan staf KPA NTT lain yang mendahului, seperti almarhumah Lusi Teluma. Dan bagi kami yang masih berziarah di dunia, pesan-pesan sederhana beliau akan tetap menjadi bekal dalam melanjutkan hidup dan pelayanan.
“Kami kehilangan, tetapi kami juga bangga. Ia telah menjadi cahaya dan teladan bagi banyak orang,” tutur drh. Maria Geong, mewakili keluarga.
Selamat Jalan, Bapa Dokter
dr. Husein Pancratius Rukeng tutup usia di 78 tahun, di ICU RSUD WZ Johannes Kupang—rumah sakit tempat ia pernah memimpin dengan penuh dedikasi. Jenazah akan dimakamkan dengan upacara adat dan keluarga.
Di balik duka yang mendalam, tersisa jejak kebaikan yang panjang. Jejak yang tak hanya ditorehkan dalam catatan jabatan, tetapi dalam hati orang-orang yang pernah disentuhnya.
Selamat jalan, Bapa Dokter. Terima kasih untuk teladan hidup, humor, dan kasih yang telah Bapa wariskan.
(sumber : FB Gusti Brewon dan berbagai sumber)