
Dedeak-Sodamolek.Com Rote Ndao – Keluarga besar Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berduka atas berpulangnya Pendeta Emeritus (Pdt.Emr.) Marta Mariam Mauta, S.Th. Pelayan Tuhan yang telah mengabdikan hampir tiga dekade hidupnya bagi pelayanan gereja itu meninggal dunia pada Selasa, 9 Juni 2026 Pkl. 13.49 WITA di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang karena sakit.
Mendiang menghembuskan napas terakhir dalam usia 57 tahun 5 bulan 20 hari, setelah beberapa waktu menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang terus menurun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, jemaat, rekan-rekan pelayanan, serta seluruh warga GMIT.
Prosesi penguburan dilaksanakan pada Jumat, 12 Juni 2026, diawali dengan ibadah pelepasan di rumah duka di Keka Oele yang dipimpin oleh Pdt. Yohanis Nehemia Lolok, S.Th. (KMK Rote Barat Laut) Selanjutnya, kebaktian penguburan berlangsung di Jemaat Agape Oele, Klasis Rote Tengah, dipimpin oleh Pdt. Emr. Benyaminson Zacharias sebagai pengkhotbah, didampingi Pdt. Andri Lulu, S.Th bersama sejumlah pendeta lainnya sebagai liturgos.
Dalam suara gembalanya pada kebaktian penguburan, Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, mengajak keluarga dan jemaat untuk memaknai kepergian mendiang dalam terang iman Kristen.
“Secara regulatif organisasi, tugas pelayanan mendiang memang telah selesai. Namun, dalam konteks panggilan ilahi, Allah sendiri yang telah mengakhiri seluruh peziarahan hidupnya di dunia ini dan memanggilnya pulang,” ujar Pdt. Saneb.
Ia menegaskan bahwa kehidupan dan pelayanan mendiang merupakan bagian dari karya Allah yang telah diselesaikan dengan baik.
Menurutnya, keluarga yang ditinggalkan tidak berjalan sendiri menghadapi pergumulan ini karena Tuhan akan tetap menyertai dan menguatkan mereka.
“Percayalah bahwa tangan Tuhan yang tidak kelihatan akan tetap menopang dan menguatkan hidup keluarga yang ditinggalkan. Bagi jemaat, mari kita bersama-sama meneladani setiap pesan-pesan iman yang hidup, yang pernah ditanamkan dan ditaburkan oleh mendiang,” katanya.
Mengakhiri Pelayanan Karena Sakit
Sebelum berpulang, mendiang diketahui sempat menjalani pergumulan kesehatan yang cukup berat. Kondisi tersebut membuatnya tidak lagi dapat menjalankan tugas pelayanan secara maksimal sebagaimana yang selama ini dilakukannya.
Menurut data yang disampaikan Ketua UPP Personil merangkap Sekretaris Bidang Penempatan dan Mutasi Majelis Sinode GMIT, Pdt. Tonias Nalle, mendiang sempat menjalani cuti perawatan kesehatan intensif yang ketiga sejak 17 Maret hingga 16 Mei 2026.
Setelah melalui berbagai pertimbangan medis dan administratif, Majelis Sinode GMIT menetapkan pemberhentian dengan hormat dari seluruh tugas pelayanan aktif dalam status pensiun dini karena sakit, yang berlaku efektif sejak 17 Mei 2026.
“Beliau menjalani masa pelayanan yang panjang dan penuh dedikasi. Sampai menjelang akhir masa tugasnya, kerinduan terbesar beliau adalah tetap melayani jemaat yang dipercayakan kepadanya,” ungkap Pdt. Tonias Nalle.
Sebelum memasuki masa pensiun, mendiang tercatat memiliki masa kerja pelayanan selama 29 tahun 6 bulan dengan pangkat terakhir Golongan D-10.
Dari Kupang untuk Pelayanan Gereja
Pdt.(Emr.) Marta Mariam Mauta,S.Th lahir di Kupang pada 20 Desember 1968 dari pasangan Drs. Wilem Bayang Mauta (alm.) dan Yosefina Blegur. Ia merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Inpres PAL I Kupang dan tamat pada tahun 1982. Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Kupang pada tahun 1985 dan SMA Negeri 2 Kupang pada tahun 1988. Panggilan pelayanan membawanya menempuh studi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang hingga meraih gelar Sarjana Teologi pada tahun 1996.
Dalam kehidupan keluarga, ia menikah dengan Soleman Huan Saudale pada 5 November 1999 dan dikaruniai dua orang anak, Delmi Huan Saudale dan Modrik Huan Saudale.
Dipercaya Memimpin di Berbagai Tingkat Pelayanan
Perjalanan pelayanan mendiang di GMIT dimulai pada 19 Maret 1998 ketika ia ditahbiskan sebagai Pendeta GMIT dan ditempatkan di Jemaat Wilayah Keka Barat, Klasis Rote Tengah sejak 22 Maret 1998. Pada saat yang sama, ia dipercaya menjabat Ketua Majelis Jemaat.
Kesetiaan dan kapasitas kepemimpinannya membuat GMIT terus memberikan kepercayaan yang lebih besar. Pada tahun 2008, oleh Majelis Sinode GMIT ia diangkat sebagai Koordinator Pelayanan Wilayah Klasis (KPWK) Rote Tengah periode 2008–2011.
Tahun 2011 menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelayanannya ketika ia dipercaya oleh Jemaat GMIT se Klasis Rote Tengah sebagai Ketua Majelis Klasis Rote Tengah periode 2011–2015. Kepercayaan itu berlanjut pada periode pelayanan 2015–2019 saat ia kembali menjabat Ketua Majelis Klasis Rote Tengah dan menjadi Anggota Majelis Sinode GMIT secara ex officio.
Setelah menyelesaikan pelayanan di tingkat klasis, pada tahun 2021 ia diperbantukan ke Jemaat Syalom Mokdale, Klasis Lobalain. Di jemaat tersebut, ia melayani sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat, kemudian dipercaya menjadi Ketua Majelis Jemaat Antar Waktu (Periode 2020-2023) dan selanjutnya menjabat Wakil Ketua Majelis Jemaat Syalom Mokdale periode 2024–2027.
Warisan Kesetiaan
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan keluarga, Marthen Huan, menyampaikan terima kasih kepada GMIT dan Majelis Sinode GMIT yang selama ini mendampingi mendiang dan keluarga, khususnya selama masa sakit.
“Terima kasih kepada GMIT dan MS GMIT yang telah mempercayakan Pdt.(Emr.) Marta untuk melayani hingga akhir hidupnya. Terima kasih juga karena telah menopang keluarga kami, khususnya selama almarhumah sakit, bahkan hadir hingga prosesi penguburan,” ujarnya.
Bagi keluarga besar GMIT, kepergian Pdt.(Emr.) Marta Mariam Mauta bukan sekadar kehilangan seorang pelayan gereja, melainkan kehilangan seorang pemimpin yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melayani Tuhan dan sesama.
Jejak pengabdian yang ditinggalkan selama hampir tiga puluh tahun akan terus dikenang sebagai warisan iman, kesetiaan, dan tanggung jawab yang menjadi inspirasi bagi generasi pelayan GMIT di masa mendatang.







