Di bawah naungan kibaran merah putih, pada tanggal 1 Januari 1986, saya memulai langkah sebagai seorang abdi negara—seorang guru yang ditugaskan di SMP Negeri 1 Eahun, Rote Timur. Dalam ruang kelas sederhana di sana, saya mulai menanam benih ilmu dan harapan, membangun mimpi bersama generasi muda yang bersemangat.

Namun, hidup adalah perjalanan yang penuh perubahan. Pada tahun 1989, saya harus meninggalkan Rote Timur dan pindah ke Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat provinsi, mengikuti suami tercinta Drs ELISA SUKI yang bertugas di Pemda Kabupaten Kupang. Di sana, saya mengabdikan diri di bidang Pendidikan Menengah Umum, sebuah peran baru yang mengajarkan saya tentang pentingnya sistem pendidikan yang lebih luas.
Setahun kemudian, tahun 1990, saya kembali ke ruang kelas sebagai guru di SMP Negeri 4 Kupang di Oepura. Namun, langkah saya kembali diuji oleh panggilan tugas suami yang membawa kami ke Pulau Sabu tepatnya di pulau Raijua pada tahun 1992. Di sana, saya mengajar di SMP Negeri Sabu Raijua, di sebuah pulau kecil yang penuh tantangan. Dengan air yang sedikit asin dan kebutuhan pangan yang sering harus didatangkan dari Seba Pulau Sabu,dan Sulawesi kami belajar tentang ketangguhan hidup. Saya tetap menjalankan tugas dengan hati, meski di tengah keterbatasan.
Tahun 1995, saya kembali pindah, kali ini ke SMP Negeri 1 Rote Barat Daya di Batutua, mengikuti suami yang menjadi Camat Rote Barat Daya . Rote Barat Daya adalah tanah yang subur, tetapi juga penuh dinamika, dengan konflik perbatasan yang sering terjadi. Di tengah situasi ini, saya tetap berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di sana, percaya bahwa ilmu adalah jalan menuju perdamaian.
Langkah saya kembali bergeser pada tahun 2000, mengikuti suami yang bertugas di Kecamatan Lobalain. Saya mengajar di SMP Negeri 3 Lobalain di Ba’a, di daerah yang juga tidak lepas dari konflik perbatasan. Namun, setiap tantangan adalah pelajaran, dan setiap pelajaran adalah kekuatan untuk terus maju.
Tahun 2002, saya kembali ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang sebagai pegawai, setelah suami mutasi menjadi Sekretaris Dinas Peternakan. Tak lama kemudian, sebuah babak baru dimulai: Rote Ndao resmi menjadi daerah otonom (Kabupaten) pada tahun 2002, dan kami kembali ke tanah kelahiran. Suami saya bertugas sebagai Kepala Badan Pengawas, dan saya kembali mengajar di SMP Negeri 3 Lobalain pada tahun 2005 melanjutkan pengabdian kepada anak-anak negeri.
Tahun 2005 menjadi titik penting dalam perjalanan saya, ketika saya kembali pindah mengikuti suami. Dua tahun kemudian, pada tahun 2007, saya diberi amanah sebagai Pengawas Sekolah. Sebuah tanggung jawab besar yang saya emban hingga purna tugas. Dalam peran ini, saya tidak lagi hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga membimbing dan mendukung para pendidik lainnya untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik.
Selain sebagai pendidik, perjalanan hidup saya juga diwarnai oleh tanggung jawab sebagai istri seorang pemimpin di daerah. Saya menjadi Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Raijua,Rote Barat Daya, dan Lobalain Ketua Dharma Wanita Kec , Ketua GOPTKI Kecamatan, dan aktif dalam berbagai organisasi tingkat kabupaten. Saya pernah menjabat sebagai Ketua Dharma Wanita Badan Pengawas, Ketua Dharma Wanita Dinas Perhubungan, Wakil Ketua Dharma Wanita Kabupaten Rote Ndao, Wakil Ketua GOPTKI Kabupaten Rote Ndao, Wakil Ketua Forkom P2HP Kabupaten Rote Ndao, Wakil Ketua GOW Kabupaten Rote Ndao, Pengurus Dekranasda Kabupaten Rote Ndao, hingga Ketua Pokja III Tim Penggerak PKK Kabupaten Rote Ndao. Semua peran ini saya jalani dengan hati, percaya bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah jalan untuk memberikan makna dalam hidup.
Kini, setelah hampir empat dekade mengabdi, saya melihat ke belakang dengan rasa syukur yg luar biasa kepada TUHAN YESUS Sang pemilik hidup dan waktu yang telah mengantar dan memberkati saya dan keluarga sampai batas pengabdian 39 tahun 8 bulan sebagai ASN dan 18 tahun 5 bulan sebagai Pengawas Sekolah sampai purna tugas 31 Agustus 2025 . Setiap langkah, setiap perpindahan, setiap tantangan, semuanya telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih bijaksana. Saya percaya bahwa hidup adalah perjalanan yang harus dijalani dengan cinta, dedikasi, dan keberanian.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini—keluarga, teman-teman, rekan kerja, dan masyarakat yang selalu mendukung saya.Sadar bahwa saya hanyalah manusia biasa yg tidak luput dari kurang, salah dan khilaf untuk itu dari lubuk hati yg paling dalam ma’afkanlah saya.
Semoga jejak langkah ini menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,anak cucu, keluarga dan semoga semangat untuk terus mengabdi tidak pernah padam.Akhirnya Perpisahan tiba, waktu telah berganti, Teman Sejati di Dinas Pendidikan selalu di hati, takkan berubah.Terima Kasih untuk Semua Kenangan Indah,Semoga kita bertemu dalam Waktu dan Kesempatan yg lain, Tuhan Memberkati
(sumber : Fb Margaritha Suki Ngili yang diposting pada 30/08/25)
—