Menu ✖

Otomatis
Breaking News

PEMBACA MENULIS

KEKERASAN VERBAL DI KAMPUS IAKN KUPANG

badge-check

KEKERASAN VERBAL DI KAMPUS IAKN KUPANGPerbesar

(Catatan: Darius Beda Daton)
Video absensi seorang dosen berinisial JS dalam kuliah daring di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang beredar luas. Suaranya sangat jelas. Dosen itu menyapa para mahasiswa dengan sebutan ;”manusia bodoh dan binatang”. Sangat menyedihkan. Menurut saya, ini sudah masuk wilayah kekerasan verbal dalam dunia pendidikan kita. Bagaimana mungkin dosen justru menggunakan ruang kelas untuk menghina dan mereproduksi penindasan.
Setelah nonton video itu sepintas, saya langsung meneruskan video itu ke Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th. Saya berpesan agar video yang viral itu diklarifikasi ke publik. Tidak patut para mahasiswa dipanggil binatang atau manusia bodoh. Jika benar, perlu ada sanksi kepada dosen tersebut. Reputasi kampus harus dijaga. Sebelumnya saya memang telah beberapa kali diskusi dengannya untuk kemajuan kampus. Respon Pak Rektor sangat cepat: “Bapa, mohon maaf, terima kasih Bapa, jujur, saya sangat malu dengan peristiwa ini. Kami segera melakukan pemanggilan dan BAP serta melanjutkan ke dewan etik kelembagaan, untuk tindak lanjut pemberian sanksi pembinaan. Langkah selanjutnya kami secara kelembagaan akan memohon maaf kepada masyarakat secara langsung dalam pemberitaan resmi. Hal tersebut menjadi perhatian yang sangat serius bagi kami.Mohon maaf Bapa, kami akan segera perbaiki.”
Dan setelah itu, Pak Rektor dan tim telah melakukan klarifikasi dan permintaan maaf ke publik. Saya menyampaikan terima kasih atas respon cepat tersebut. Respon cepat seperti ini sangat kita harapkan dari semua institusi publik. Ini pelajaran penting bagi dunia pendidikan kita. Bahwa relasi dosen dan mahasiswa bukanlah relasi kuasa untuk merendahkan, tetapi menjadi mitra belajar.
Karena itu wajib saling menghormati satu sama lain. Menurut informasi kekerasan verbal dari dosen itu itu sering terjadi. Saatnya dihentikan. Sebab kekerasan verbal yang terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa, menurunkan kepercayaan diri, memicu kecemasan, bahkan membuat mereka merasa tidak layak berada di ruang akademik.Kita semua berharap agar kampus wajib menjadi ruang di mana mahasiswa yang datang dari latar belakang apa pun, termasuk keluarga sederhana, bisa berdiri sama tegak dengan mahasiswa lain. Mari terus berikhtiar agar menjadi lebih baik. Kita bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Berita Terkait

Mengapa Rote–Ndao Membutuhkan Museum Alam dan Sejarah Budaya?

23 Sep 2026 - 16:49 WITA

Mengapa Rote–Ndao Membutuhkan Museum Alam dan Sejarah Budaya?

Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat

10 Jul 2026 - 10:29 WITA

Menjadi Tua seperti Messi: Seni Menemukan Ketenangan dan Eksekusi yang Tepat

THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston

9 Jul 2026 - 23:40 WITA

THE EMPIRE STRIKES BACK DI LAPANGAN HIJAU: Balas Dendam Post-Kolonial di Perempat Final Boston
Trending PEMBACA MENULIS