Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM

Konflik Rusia-Ukraina Pecah, Sekjen PRIMA: Nafsu Imperialistik Masih Eksis

badge-check


					Konflik Rusia-Ukraina Pecah, Sekjen PRIMA: Nafsu Imperialistik Masih Eksis Perbesar

Jakarta-Taklale.Com, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Dominggus Oktavianus menilai konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina merupakan bukti nyata bahwa nafsu imperialistik masih eksis hingga hari ini. Meski perang dingin sudah berlalu 30 tahun lalu.

“Saya simpulkan konflik yang terjadi sekarang tidak lepas dari nafsu penguasaan teritori dan mempertahankan hegemoni,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/2).

Dominggus menjelaskan, dalam melihat konflik antara Rusia dan Ukraina ini terdapat dua narasi yang berkembang. Pertama, Rusia telah melanggar hukum internasional dengan melakukan invasi ke dalam wilayah/teritori Ukraina. Narasi atau pandangan ini mewakili opini banyak kalangan dan media di Barat.

Kedua, lanjut dia, Rusia melakukan “operasi militer” untuk melindungi rakyat di dua republik yang baru memproklamirkan diri merdeka dari Ukraina, yaitu Donetsk dan Luhansk.

“Sebagaimana Krimea yang sudah lebih dahulu memisahkan diri, masyarakat di Donetsk dan Luhansk merasa lebih dekat dengan Rusia, baik secara politik maupun budaya,” ungkapnya.

Untuk informasi, Situasi di Ukraina memanas sejak demonstrasi Euromaidan yang memprotes keputusan Presiden Viktor Yanukovych menunda penandatanganan kesepakatan dengan Uni Eropa tahun 2013. Yanukovych mengakui bahwa keptusan tersebut dibuat atas tekanan Rusia.

Singkat cerita, di di tahun 2014 Yanukovich jatuh. Rusia menyebut peristiwa ini sebagai “Kudeta”, sementara media Barat menyebutnya “Revolusi Oranye”.

Menurut Dominggus, Ukraina tidak sungguh-sungguh indepen dalam menentukan nasibnya. Barat, khususnya Amerika Serikat, punya kepentingan untuk menariknya menjadi anggota NATO. Sementara Rusia merasa sudah cukup ekspansi NATO ke Eropa Timur sampai Hungaria, Rumania, Bulgaria, Polandia, Lithuania, Ceko dan Slowakia.

“Orang Ukraina di sebelah Barat cenderung pro-Barat, sedangkan Ukraina di sebelah timur cenderung pro-Rusia,” tuturnya.

Dominggus mengungkapkan, Bagi Rusia, Ukraina adalah titik penting menjaga keseimbangan geopolitik, meski tetap tidak imbang. Sebagaimana China bersikeras mempertahankan titik di Laut China Selatan.

“Kita tahu pesisir timur hingga ke selatan telah dijajari puluhan pangkalan militer AS masing-masing di Korea Selatan, Jepang, Filipina, Singapura, serta kerjasama militer dengan Taiwan,” jelasnya.

Sementara itu, Dominggus menyampaikan, opini yang berkembang di Indoneisa sebagian besar menaruh simpati kepada Rusia. Menurutnya, kemungkinan publik Indonesia merasa tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin mewakili kebosanan pada dominasi dan superiortas Amerika Serikat.

“Saya amati konten yang berseliweran di Tiktok, komentar-komentar berita di Youtube, dsb., sebagian besar menaruh simpati pada Rusia. Sampai-sampai muncul istilah plesetan FPI (Fans Putin Indonesia),” tutupnya Dominggus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Bupati Rote Ndao Terima Paparan TBUPP, Hadiri Panen Sorgum hingga Bahas Pendidikan Bersama Mitra Strategis

11 June 2026 - 23:53 WITA

Festival Keluarga Malole Dorong Peran Orang Tua dalam Membangun Generasi Berkualitas di Rote Ndao

9 June 2026 - 22:56 WITA

PERNYATAAN SIKAP PGI ATAS PEMBUBARAN KEGIATAN PERKEMAHAN ANAK DAN REMAJA JMAI DI TAWANGMANGU, JAWA TENGAH

9 June 2026 - 21:42 WITA

Trending PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM