Menu

Dark Mode
Ombudsman NTT Audiensi dengan Bupati Kupang, Bahas Pengawasan Layanan Publik dan Pungutan Uji Kendaraan OMBUDSMAN NTT MENEMUI BUPATI KUPANG Ombudsman NTT Temukan Masalah Layanan Uji Kendaraan di Kabupaten Kupang Mateldius Sanam Resmi Dilantik Jadi Sekda Definitif Kabupaten Kupang Gubernur NTT Terbitkan Pergub Baru Tata Niaga Sapi, Berat Minimal Sapi Antar Pulau Direvisi KUNJUNGAN TANPA PEMBERITAHUAN KE KANTOR PENGUJIAN KENDARAAN KABUPATEN KUPANG

SPIRITUALITAS dan PLURALISME

MARTA SUKARELA, MARTA TERPAKSA DAN Marta tersembunyi (LUKAS 10:38-42)

badge-check


					MARTA SUKARELA, MARTA TERPAKSA DAN Marta tersembunyi (LUKAS 10:38-42) Perbesar

oleh Pdt.Semuel Victor Nitti

Salah satu jenis ibadah yang melibatkan banyak orang adalah ibadah syukur (ulang tahun, ulang tahun pernikahan, rumah baru, lulus ujian, dapat pekerjaan, sembuh dari sakit dll). Biasanya mereka yang hadir terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah para pekerja yang mempersiapkan segala sesuatu, terutama makan dan minum. Mereka sudah mulai bekerja satu atau dua hari sebelum acara ibadah dimulai dan masih akan terus sibuk sesudah acara. Kelompok kedua adalah para undangan yang datang khusus mengikuti ibadah, makan, bercerita sedikit lalu pulang.

Ketika ibadah berlangsung, kebanyakan dari kelompok pertama tidak ikut serta. Hanya kelompok kedua yang beribadah. Sesudah beribadah para peserta ibadah yang makan lebih dahulu, sedangkan mereka yang sibuk di belakang makan kemudian. Di sini mereka yang di belakang bisa rugi dua kali. Rugi pertama, tidak bisa ikut mendengarkan firman Tuhan, padahal mereka sibuk untuk mengurus ibadah syukur. Rugi kedua, jika tamu yang menghadiri ibadah lebih banyak dari dugaan semula, sehingga makanan kurang. Mereka yang di belakang bisa jadi hanya “makan nasi deng kua sa.”

Uniknya, ketika pemimpin ibadah mulai mengambil makan dan bertemu dengan mereka yang sibuk di belakang dan bertegur-sapa. Mereka akan berkata: “Kami Marta saja ….” Ucapan ini keluar dari mulut mereka sebab mereka mengenal dan menghafal cerita tentang Marta dan Maria di Lukas 10:38-42 lengkap dengan teguran Tuhan Yesus kepada Marta. Tetapi mereka setia, dengan sukarela, menjadi Marta. Bukankah ini aneh ? Dkl. teguran Tuhan Yesus kepada Marta sepertinya tidak berlaku bagi mereka, karena sepertinya tidak ada jalan keluar bagi mereka untuk bisa dibebaskan dari “belenggu Marta” agar bisa menghadiri ibadah.

Ada juga petunjuk yang kuat, berdasarkan pengamatan, bahwa di banyak keluarga Kristen, entah disadari atau tidak, seringkali orang tertentu, seperti para pembantu rumahtangga, anak anak keluarga yang menumpang karena pendidikan dll, dan atau mereka yang berstatus menantu dll, “dipaksa” menjadi Marta. Mereka rindu ikut beribadah, tetapi mereka diikat dengan “tali Marta” sehingga mereka hanya bisa sibuk di belakang. Paling-paling mereka hanya bisa berkesah diam-diam kepada Yesus, karena takut berkesah kepada tuan dan nyonya rumah, (seperti Marta yang tidak berani mengeluh kepada Maria, karena takut.)

Apakah yang ini juga Marta model lain, Marta tersembunyi, yaitu mereka yang hanya menghadiri ibadah jika mereka mendapat tugas untuk melayani dalam ibadah tersebut (dengan demikian mereka menjadi seperti Marta yang sibuk melayani). Jika tidak mendapat tugas untuk melayani, mereka tidak menghadiri ibadah atau kebaktian. Jika kita menerima keadaan ini sebagai “Marta tersembunyi” maka saya pun banyak kali menjadi “Marta tersembunyi,” karena hanya ikut beribadah jika saya mendapat tugas tertentu dalam ibadah/kebaktian itu.

Tuhan Yesus kutip dari kitab Ulangan untuk jawab cobaan Iblis dengan berkata: “Manusia sonde idop dari makanan sa. Ma dong ju musti dengar Tuhan Allah pung Kata-kata, deng bekin iko Dia pung mau.” (Matius 4:4, Bahasa Kupang).

Salam Marta dan Maria, dari Oebufu!

sumber : Fb. Pdt Semuel Victor Nitti-18 Juli 2022

Foto : Wikipedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jemaat GMIT Batu Karang Kuanino Kupang teguhkan 47 orang Anggota Sidi

6 April 2025 - 09:23 WITA

Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Mgr. Petrus Turang Meninggal

4 April 2025 - 07:59 WITA

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN RI: TOLAK PENANDATANGANAN RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN TENTANG PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (PKUB)

17 October 2024 - 19:43 WITA

BERSAKSI DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (KISAH PARA RASUL 2:1-21)

19 May 2024 - 21:17 WITA

Sang Emeritus

10 May 2024 - 13:03 WITA

Trending on BUKAN ORANG BIASA