Ada orang yang dikenang karena jabatannya. Ada pula yang dikenang karena pengaruhnya. Namun, Pdt.(Emr.) Marta Mariam Mauta, S.Th akan dikenang karena kesetiaannya.

Selama hampir tiga dekade, perempuan kelahiran Kupang, 20 Desember 1968 itu mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan sesama melalui Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Dari jemaat kecil di pelosok Rote hingga jabatan strategis di tingkat klasis dan sinode, Marta Mariam Mauta menjalani setiap tugas dengan dedikasi yang sama: melayani tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.
Pada Selasa, 9 Juni 2026 pukul 13.49 WITA, perjalanan hidupnya berakhir di Rumah Sakit Umum Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Ia meninggal dunia dalam usia 57 tahun 5 bulan 20 hari setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Namun, kisah hidupnya telah meninggalkan jejak yang jauh melampaui batas usia.
Anak Sulung yang Memikul Tanggung Jawab
Marta Mariam Mauta lahir sebagai anak pertama dari sepuluh bersaudara, buah kasih pasangan Drs. Wilem Bayang Mauta dan Yosefina Blegur. Sebagai anak sulung, ia tumbuh dengan tanggung jawab yang besar dalam keluarga. Karakter disiplin, kepedulian, dan keteguhan yang kemudian dikenal banyak orang ternyata telah dibentuk sejak masa-masa awal kehidupannya.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SD Inpres PAL I Kupang dan berlanjut ke SMP Negeri 1 Kupang serta SMA Negeri 2 Kupang. Namun, panggilan hidupnya tidak berhenti pada dunia pendidikan umum. Ia memilih jalan pelayanan dengan melanjutkan studi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang dan meraih gelar Sarjana Teologi pada tahun 1996.
Pilihan itu menjadi titik awal sebuah pengabdian panjang yang akan mewarnai sejarah pelayanan GMIT.
Menjadi Pendeta, Menjadi Pelayan
19 Maret 1998 menjadi momentum penting dalam hidupnya. Melalui keputusan Majelis Sinode GMIT, Marta Mariam Mauta ditahbiskan sebagai Pendeta GMIT dan mulai 22 Maret 1998 ditempatkan di Jemaat Wilayah Keka Barat, Klasis Rote Tengah.
Bagi banyak orang, penempatan pertama hanyalah awal karier. Namun bagi Marta, itu adalah awal dari sebuah panggilan hidup yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Ia tidak hanya melayani sebagai pendeta jemaat, tetapi juga dipercaya sebagai Ketua Majelis Jemaat.
Kepercayaan demi kepercayaan terus datang. Pada tahun 2008, ia diangkat sebagai Koordinator Pelayanan Wilayah Klasis (KPWK) Rote Tengah. Dua tahun kemudian, ketika GMIT melakukan berbagai penyesuaian kelembagaan, Marta dipercaya menjadi Ketua Majelis Klasis.
Kemampuan memimpin, membangun relasi, dan mengelola pelayanan membuat gereja kembali mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar kepadanya.
Pada tahun 2011, ia diangkat menjadi Anggota Majelis Sinode GMIT penuh waktu sekaligus Ketua Majelis Klasis Rote Tengah. Jabatan tersebut kembali dipercayakan kepadanya untuk periode pelayanan berikutnya, yakni 2015–2019.
Dalam kurun waktu itu, Pdt (Emr.) Marta Mariam Mauta tidak hanya memimpin administrasi gereja. Ia hadir di tengah jemaat, mendampingi pergumulan masyarakat, menguatkan keluarga-keluarga yang berduka, dan menolong banyak orang menemukan harapan dalam iman.
Kembali ke Jemaat
Setelah menyelesaikan pelayanan di tingkat klasis, Marta kembali melayani jemaat secara langsung. Tahun 2021 ia ditempatkan di Jemaat Syalom Mokdale, Klasis Lobalain.
Di sana, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Jemaat, kemudian dipercaya menjadi Ketua Majelis Jemaat Antar Waktu, dan selanjutnya Ketua Majelis Jemaat periode 2024–2027.
Meskipun telah menduduki berbagai jabatan penting, Marta tetap dikenal sebagai pelayan yang dekat dengan warga jemaat. Baginya, pelayanan bukan soal posisi, melainkan soal kehadiran.
Ia lebih memilih berada bersama jemaat dalam suka dan duka dibanding sekadar menikmati kehormatan jabatan.
Pergumulan Terakhir
Di penghujung hidupnya, Marta Mariam Mauta menghadapi ujian yang tidak mudah. Kondisi kesehatan yang terus menurun membuatnya harus menjalani beberapa kali perawatan intensif.
Salah satu pergumulan terbesar yang ia rasakan bukanlah rasa sakit yang dideritanya, melainkan kenyataan bahwa ia harus meninggalkan pelayanan yang begitu dicintainya.
Pada Maret 2026, ia menjalani cuti perawatan kesehatan intensif. Setelah melalui berbagai pertimbangan, GMIT menetapkannya memasuki masa pensiun karena sakit terhitung 17 Mei 2026.
Saat keputusan itu diambil, masa pengabdiannya telah mencapai 29 tahun 6 bulan. Pangkat terakhir yang disandangnya adalah Golongan D-10.
Namun bagi banyak orang, angka-angka itu hanyalah catatan administrasi. Yang jauh lebih penting adalah ribuan kisah pelayanan yang pernah disentuhnya selama puluhan tahun.
Warisan yang Tinggal
Pada 5 November 1999, Marta menikah dengan Soleman Huan Saudale. Dari pernikahan itu lahir dua orang anak, Delmi Huan Saudale dan Modrik Huan Saudale.
Kini keluarga itulah yang melanjutkan kenangan tentang seorang ibu, istri, saudara, sekaligus pelayan Tuhan yang telah menyelesaikan tugasnya.
Pdt.(Emr.) Marta Mariam Mauta mungkin telah pergi. Namun nilai-nilai yang diwariskannya—kesetiaan, keteguhan, kerendahan hati, dan pengabdian—akan terus hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenalnya.
Tidak semua orang diberi kesempatan memimpin jemaat, klasis, dan menjadi bagian dari Majelis Sinode. Tidak semua orang mampu bertahan melayani selama hampir tiga puluh tahun. Dan tidak semua orang meninggalkan jejak yang membuat banyak orang merasa kehilangan ketika ia pergi.
Karena itu, Marta Mariam Mauta bukan sekadar seorang pendeta.
Ia adalah seorang pelayan yang menuntaskan panggilannya sampai akhir.
Dan itulah alasan mengapa ia layak dikenang sebagai sosok yang bukan orang biasa.







