Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

TAKLALE KLIPING dan REPORTASE

PSI yang Pertama Deklarasi Ganjar, Tapi Tak Dianggap Oleh PDIP, Kenapa Ya?

badge-check


					PSI yang Pertama Deklarasi Ganjar, Tapi Tak Dianggap Oleh PDIP, Kenapa Ya? Perbesar

Oleh: *Andre Vincent Wenas*

Seingat kita, PSI atau Partai Solidaritas Indonesia adalah parpol pertama yang mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai capres, ia dipasangkan dengan Yenny Wahid, putri Gus Dur yang memang juga pintar dan berani.

Seperti sudah banyak diketahui publik, rupanya PDIP tidak senang, katanya PSI tidak tahu etika politiklah, kurang komunikasi politiklah, dan berbagai kekurangan lainnyalah (kalau ada).

Ini fenomena yang aneh, mengapa sebuah parpol besar bisa merasa tidak senang kadernya dicapreskan oleh parpol lain? Bukankah justru ini sebuah bentuk penghormatan sebetulnya?

Lalu seorang kawan bilang, iya sih kecuali parpol besar itu punya agenda lain pada saat itu.

Agenda lain? Apa itu persisnya? Tanya saya polos.

Ya sederhana saja, wong saat itu mereka lagi habis-habisan coba mendongkrak elektabilitas putri mahkotanya. Eh ini ada parpol centil yang malah mendeklarasikan “saingan internalnya” untuk jadi bacapres. Jelas saja mereka kebakaran jenggot dan sewot.

Sewotnya sampai sekarang, dengan menunjukan kengambekannya secara kekanak-kanakan (childish). Enggan mengakui fakta politik (bahkan yang sudah tercatat dalam sejarah kontemporer) bahwa PSI adalah parpol pertama yang mendeklarasikan Ganjar Pranowo sebagai capres.

Kalau dilihat dari aspek bagaimana PSI bisa mencalonkan Ganjar Pranowo pada tahun lalu, sebetulnya semua amat sangat transparan. Terbuka, semua tahu, termasuk para kandidatnya pun tahu.

Pada waktu itu (akhir Februari 2022) PSI mengadakan ‘Rembuk Rakyat: Mencari Penerus Jokowi’, ini poling (jajak pendapat) secara online dan bersifat terbuka. Waktunya cukup panjang, mulai di akhir Februari 2022 sampai Oktober 2022, sekitar 8 bulan. Selama itu pula PSI menyosialisasikannya di berbagai platform media.

Lalu pada Senin, 3 Oktober 2022, PSI mengumumkan hasilnya, dari 9 kandidat. Ganjar Pranowo yang pertama, mendapat 49,96%, kemudian diikuti oleh Erick Thohir (19,96%) dan Mahfud MD (6,04%). Lalu 6 lainnya adalah: Ridwan Kamil, Andika Perkasa, Najwa Shihab, Emil Dardak, Tito Karnavian dan Sri Mulyani Indrawati, yang memperoleh sekitar 3% – 5%.

Pengumumannya diliput berbagai media. Dan, diviralkan berbagai pihak. Sangat transparan.

Oh ya, beberapa pihak ada tanya, kenapa nama Anies Baswedan dan Prabowo Subianto tidak ada dalam daftar kandidat itu? Ya jelas yang satu anti-thesa Jokowi (jadi bukan penerus Jokowi), makanya tidak dimasukkan dalam ‘Rembuk Rakyat: Mencari Penerus Jokowi’. Lalu satunya lagi? Jawab sendiri saja.

Kembali ke topik utama, kenapa PSI tidak dianggap oleh PDIP?

Kalau dilihat dari kronologinya, pada awalnya memang terjadi ‘dinamika politik’ di internal partainya Ganjar sendiri. PSI tanpa ba-bi-bu dianggap telah “menyinggung” dengan mendeklarasikan Ganjar. Walaupun sebetulnya PSI hanya mengumumkan saja hasil pollingnya.

Lalu ada yang tanya, kenapa Ganjar yang menang? Ya tanyakan pada yang memilih Ganjar.

Lalu kenapa ada yang ngambek? Ya tanyakan pada yang ngambek dong.

Lalu PSI bagaimana? Ya rileks saja, keep going, moving forward! Damai di bumi, damai di hati.

Jakarta, 28 April 2023
*Andre Vincent Wenas*,MM,MBA. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

GMIT Berduka, Pdt. Emr. Marta Mariam Mauta Tutup Usia Setelah Hampir 30 Tahun Mengabdi

12 June 2026 - 15:36 WITA

Peraturan Dua Menteri Soal Pendirian Rumah Ibadah Harus Dibatalkan dan Diganti Perpres yang Menjamin Kebebasan Beribadah dan Memfasilitasi Pendirian Rumah Ibadah

2 June 2026 - 14:57 WITA

Bupati Rote Ndao Tinjau Pembangunan Jembatan Penghubung Pulau Rote dan Pulau Usu

1 June 2026 - 21:04 WITA

bupati-rote-ndao-tinjau-pembangunan
Trending TAKLALE KLIPING dan REPORTASE