oleh : Otto Gusti SVD

Salah satu pengalaman paling berat yang dihadapi para murid Yesus pada hari ini ialah mereka ditinggalkan Sang Guru yang mereka ikuti selama tiga tahun terakhir. Mereka sudah meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Dan pada hari ini Sang Guru pergi meninggalkan mereka. Pada hari ini Yesus akan ditangkap, diadili dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Para murid harus bersembunyi di dalam rumah. Sebab sebagai pengikut setia Yesus mereka juga dicurigai akan meneruskan ajaranNya. Saking takutnya, bahkan Petrus yang biasanya sangat berani akhirnya menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Yesus rupanya sudah tahu nasib yang akan menimpa para muridNya setelah Ia tidak ada bersama mereka lagi.
Sama seperti kita yang mungkin merasa kehilangan Tuhan ketika ritus-ritus tradisional tidak dapat dirayakan dalam Pesta Paskah selama dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19, para murid juga merasa kehilangan Yesus. Mereka kehilangan pegangan hidup. Bayangkan saja, beberapa dari mereka meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan dan keluarga mereka, dan pergi mengikuti Yesus. Tapi Yesus itu sekarang dituduh sebagai penjahat dan dihukum mati. Akan tetapi, Yesus menginginkan agar ikatan dan identitas sebagai murid Yesus tetap hidup dan diwariskan meskipun secara fisik Ia tidak lagi bersama para murid. Yesus ingin tetap hadir bersama para muridNya dalam cara baru. Demikian pun kehadiran Yesus untuk para murid dirasakan dalam bentuk-bentuk baru.
Karena itu dalam perayaan Kamis Putih atau Perjamuan Terakhir, Yesus mewariskan dua simbol penting yang menjadi identitas kemuridan Yesus dan juga identitas kita sekarang. Pertama, Yesus membuat satu Perjamuan (Makan Bersama) dengan murid-muridNya. Masyarakat dan agama Yahudi dibangun di atas identitas yang dirumuskan dalam bentuk perintah zachor: Ingatlah, kenanglah atau jangan lupa.
Dalam peristiwa Paskah, orang Yahudi mengenang peristiwa pembebasan bangsa Israel oleh Yahwe dari penjajahan bangsa Mesir. Ingatan atau memoria akan pembebasan itu membentuk identitas mereka dan menjadi landasan untuk percaya dan berharap pada Yahwe. Yahwe yang membebaskan itu kini hadir dalam diri Yesus.
Dalam perjamuan terakhir Yesus menyerahkann diriNya, tubuh dan darahNya untuk membebaskan manusia, memberikan kekuatan bagi manusia dalam ziarah di muka bumi ini. Dalam peristiwa itu Allah dalam diri Yesus menunjukkan solidaritasNya yang radikal kepada manusia.
Dalam perayaan ekaristi Yesus membagi dan memberikan diri untuk keselamatan manusia. Dikuatkan oleh ekaristi yang sama, kita pun mengambil bagian dalam solidaritas Allah terhadap yang lemah dan terpinggirkan.
Di tengah wabah corona selama dua tahun terakhir ini kita diminta untuk melakukan physical disntancing tapi bukan social distancing. Kita harus menjaga jarak fisik, tapi solidaritas dan kepedulian terhadap para korban harus tetap kita jaga.
Dengan itu kita dapat menghadirkan Allah yang solider dan peduli di tengah dunia ini. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa dunia sekarang sedang berada dalam kondisi dilanda “globalization of indifference” (globalisasi ketakpedulian) yang berdampak pada ketidakmampuan untuk menangis dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain.
Di tengah dunia yang diwarnai dengan apatisme dan ketakpedulian, Gereja harus tampil sebagai budaya tandingan yang mempromosikan sikap bela rasa (compassion) dan belas kasih (mercy). Belas kasih (mercy) adalah “kepenuhan dari keadilan dan manifestasi paling sempurna dari kebenaran Allah”. Kasih adalah prinsip dasar karya Allah dan Yesus, dan karena itu harus menjadi prinsip dasar seluruh karya Gereja.
Allah hadir di dalam Gereja ketika kita terlibat dalam praksis berbela rasa (compassion), belas kasih (mercy) dan perjuangan mewujudkan keadilan (justice) dalam dunia yang penuh penderitaan, terutama dunia orang-orang miskin.Kedua, Peristiwa Pembasuhan KakiPada malam hari ini kita menyaksikan dan mengalami Yesus yang membasuh kaki para muridNya.
Pada masa itu, membasuh kaki para tamu merupakan tugas yang dijalankan oleh para budak. Budak tidak pernah mengambil bagian dalam perjamuan keluarga. Tugas budak ialah melayani termasuk membasuh kaki tuan rumah dan para tamu yang berkunjung.
Dan pada malam ini Yesus menjalankan tugas tersebut. Yesus menanggalkan pakaian dinasNya, jubahNya, dan memasang sepotong handuk pada pinggangNya dan membasuh kaki murid-muridNya laksana seorang babu. Ini aneh, dan mungkin gila. Sadar akan seluruh kekuasaan ilahiNya, Ia tanggalkan kewibawaanNya. Karena itu Petrus berontak.
Seorang pemimpin yang berwibawa harus tahu membawa diri, merelakan diri diantar oleh protokol yang wajar. Kecuali Yesus. Pantas para murid lelaki lari ketika Yesus ditahan, diadili dan dihukum mati. Hanya tinggal segelintir murid perempuan yang menonton dari jauh. Petrus tidak mengerti, bagaimana seorang mesias dapat melakukan pekerjaan seorang budak? Seperti kaum Zelot, Petrus memiliki pandangan tentang Yesus sebagai mesias politik yang mampu membebaskan bangsa Israel dari jajahan bangsa Romawi dengan jalan kekerasan. Petrus berpikir, jika Yesus berhasil membebaskan bangsa Israel dari jajahan Romawi, maka Yesus akan memimpin bangsa Israel.
Dan Petrus pasti akan mendapat jabatan tertentu dalam sistem politik yang dibangun Yesus. Karena itu Petrus kecewa dan tidak setuju ketika Yesus menjalankan tugas seorang budak. Teladan yang telah ditunjukkan Yesus ini hendaknya menjadi tuntunan hidup kita. “Kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamu pun harus membasuh kaki satu sama lain. Aku memberikan teladan kepadamu, supaya kamu berbuat seperti tadi Kuperbuat untukmu.
”Penutup Yesus mengundang kita untuk membentuk sebuah persekutuan, sebuah komunitas yang berbasiskan pelayanan, kasih dan sebuah komunitas solidaritas. Solidaritas itu kita hayati di tengah ancaman wabah penyakit yang mematikan. Krisis ini adalah peluang untuk mencari jalan spiritualitas baru. Kita hidup di tengah masyarakat di mana tampilan ritual agama menguasai dan bahkan sering meracuni kehidupan bersama. Bencana ini mengajak kita untuk mencari Tuhan bukan dalam ritus-ritus lahiriah tapi di dalam hati, hati yang adalah kanisah Roh Kudus. Hati yang dituntun cahaya Roh Kudus itu memampukan kita untuk menghadirkan Tuhan dalam tindakan belas kasih, bela rasa dan melayani. (sumber : Facebook Otto Gusti)