oleh : Albertus M. Patty

Nama BPK PENABUR Bandung semakin harum. Harumnya bukan sekadar seperti bunga melati di taman sekolah, tetapi seperti parfum mahal yang baunya bisa tercium, bahkan sampai ke kota-kota kecil. Dalam dunia pendidikan yang sering bergerak lambat seperti antrean di loket birokrasi, keberanian BPK Penabur Bandung dalam berinovasi memang seperti kopi hitam: akan pahit bagi yang tidak siap, tetapi menyegarkan bagi yang berani mencicipinya.
Memang, dalam dunia yang perubahannya bergerak secepat KA Woosh, keberanian berinovasi adalah suatu keharusan. Tanpa itu, runtuh!
Banyak sekolah lain mengunjungi BPK Penabur Bandung. Ingin studi banding. Seolah ingin bukti mengapa rumput di lapangan sebelah lebih hijau. Kunjungan mereka justru mendatangkan ‘insight’ baru bagi Erwien Kosasih, Ketum BPK Penabur Bandung. Dia menyadari ada sesuatu yang selama ini diketahui semua orang, tetapi sering diperlakukan seperti barang pajangan. Cukup untuk ditonton. Apa? Kesenjangan kualitas pendidikan antara kota besar dan kota kecil/daerah. Kesenjangannya tidak kecil!
*Kualitas yang Timpang*
Kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah di kota besar dan sekolah di kota kecil sangat parah. Ini seperti kesebelasan sepakbola profesional yang datang dengan sepatu bola merk Adidas melawan kesebelasan dari kota kecil yang bermain dengan sendal jepit. Hasilnya sudah pasti bisa ditebak!
Penyebabnya banyak. Bisa kualitas pengajarnya, etos belajar muridnya, metode pembelajarannya, fasilitas gedungnya, minimnya teknologi yang digunakan, dan sebagainya.
Proses pendidikan di kota besar diuntungkan oleh adanya guru-guru berkualitas, plus fasilitas gedung dan teknologi yang lebih ‘sophisticated.’ Efeknya, mutu pendidikannya lebih baik. Kondisi sebaliknya terjadi pada sekolah di kota kecil atau di daerah. Efeknya, kualitas pendidikannya lebih rendah. Bagi Erwien Kosasih kalau kualitas pendidikan bagus hanya dinikmati kota besar, maka itu bukan keunggulan. Itu privilege yang terlalu nyaman.
Kesenjangan mutu pendidikan itu tidak boleh dibiarkan. Menariknya, pengurus BPK Penabur Bandung, memahami ini bukan sekedar masalah statistik, tetapi *sebuah panggilan moral, bahkan panggilan spiritual untuk mengatasinya.*
*Pemerataan Pendidikan*
Maka lahirlah sebuah inovasi baru yang cukup menarik:
*Program Pemerataan Mutu Pendidikan.*
Langkah pertama:
*BPK PENABUR Cianjur terhubung langsung dengan kelas di BPK PENABUR Bandung melalui Live Broadcasting.*
Artinya guru di Bandung mengajar secara real-time kepada murid di Cianjur. Bukan rekaman. Bukan video YouTube. Benar-benar kelas hidup.
Murid di Cianjur bisa bertanya.
Guru di Bandung bisa menjawab.
Secara sederhana, ini seperti:
“kelas yang jaraknya puluhan kilometer, tetapi suasananya tetap seperti duduk di bangku yang sama.”
Solusi cerdas melalui cara ini mungkin baru satu-satunya di Indonesia.
Ada tiga pilar utama yang menjadi fokus program ini:
1. Interaksi Dua Arah:
Bukan kuliah satu arah seperti radio zaman dulu. Murid bisa bertanya.
Dan ini penting, karena kadang pertanyaan murid bisa lebih tajam daripada ujian nasional.
2. Standarisasi Pengajaran: Meruntuhkan tembok penghalang. Kualitas pengajaran antara kota besar dan kota kecil/daerah sama kualitasnya.
3. Dukungan Fasilitas:
Ada transfer teknologi, metode belajar, dan pengalaman mengajar.
Singkatnya:
*bukan hanya mengirim pelajaran, tetapi juga membangun ekosistem belajar. Pendidikan yang baik tidak lagi berpusat di kota besar.*
BPK Penabur Bandung sedang melakukan hal yang tidak kecil, yaitu demokratisasi mutu pendidikan. Keren!
Program ini masih tahap awal. Masih perlu evaluasi. Teknologi mungkin sesekali rewel. Internet kadang bisa lebih dramatis daripada sinetron.
Tetapi arah gagasannya jelas.
Pendidikan tidak boleh menjadi monopoli geografis. Kualitas belajar tidak boleh ditentukan oleh seberapa dekat rumah siswa dengan kota metropolitan. Karena jika pendidikan hanya berkembang di kota besar, bangsa ini akan seperti pohon yang daunnya rimbun di satu sisi tetapi gersang di sisi lain.
*Sebuah Harapan*
BPK Penabur Bandung berharap inisiatif ini bisa menginspirasi sekolah lain.
Bayangkan jika banyak sekolah melakukan hal serupa.
Mungkin suatu hari nanti murid di kota kecil tidak lagi merasa bahwa pendidikan bermutu adalah sesuatu yang hanya ada di Jakarta, Bandung, atau kota besar lainnya.
Bayangkan jika program ini berhasil, maka masa depan pendidikan Indonesia akan seperti jaringan WiFi yang ideal, sinyalnya kuat, jangkauan luas, dan tidak hanya berhenti di kota besar.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti murid di pelosok Indonesia bisa berkata dengan bangga:
“Guru terbaik di negeri ini memang mengajar di kota besar, tetapi pelajarannya yang bermutu itu sampai ke kelas kami juga.”
Bagi BPK PENABUR Bandung, program ini adalah wujud nyata: memperjuangan keadilan sosial lewat upaya mencerdaskan bangsa.
Salut!
Bandung,
14 Maret 2026
(sumber : Facebook Albertus M. Patty)









