ESSAY:
Oleh: Julianus Akoit, mantan Wartawan
O
KONON di Athens, ketika seorang muda bernama Socrates berdiri di pasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik, ia sedang memperkenalkan sesuatu yang revolusioner: belajar sebagai dialog. Bukan perintah. Bukan hardikan. Bukan ketakutan. Tetapi percakapan. Ia bertanya, bukan menghina. Menggugat, bukan merendahkan.
Dalam tradisi Yunani, itu disebut paideia—pendidikan sebagai pembentukan manusia seutuhnya. Bukan sekadar pengisian kepala. Tetapi pembentukan jiwa.
Namun sejarah juga mencatat sisi lain. Di Sparta, pendidikan dibangun melalui disiplin keras, kadang mendekati brutalitas. Tubuh dilatih menahan sakit. Ketaatan diutamakan. Karakter ditempa lewat kepatuhan.
Di sana muncul pertanyaan yang tua sekali: Apakah pendidikan lahir dari rasa hormat—atau dari rasa takut?
Pertanyaan itu tak pernah selesai. Ia menyeberang zaman. Bahkan ke negeri jauh di Timur.
Dalam tradisi China kuno, Confucius menempatkan guru sebagai figur bermartabat, tetapi relasi guru-murid berdiri di atas ren—peri kemanusiaan—dan li—kepantasan etis.
Mengajar tanpa hormat pada murid dianggap cacat moral. Guru dihormati, ya. Tetapi penghormatan tidak identik dengan penghinaan.
Sebab bagi Confucius, pendidikan adalah penumbuhan kebajikan. Bukan reproduksi ketakutan.
Sejarah rupanya selalu mengajarkan satu hal: kelas bisa menjadi tempat pemerdekaan— atau menjadi ruang dominasi.
Dan di antara dua kemungkinan itu, pendidikan selalu dipertaruhkan.
****
HARI-HARI ini, pertanyaan tua itu seperti datang kembali dari sebuah ruang kuliah di Kupang. Seorang dosen diduga menyebut mahasiswa dengan kata-kata yang tak hanya kasar, tetapi merendahkan: “Bodoh. Miskin dan Binatang.”
Jika benar demikian, ini bukan sekadar insiden emosi. Dalam bahasa paedagogik, ini bisa disebut verbal abuse—kekerasan verbal. Dalam bahasa etika, ini dehumanization—dehumanisasi. Yakni saat seorang manusia diperlakukan seolah martabatnya dapat direndahkan.
Dan setiap dehumanisasi selalu anti-pendidikan. Karena pendidikan, bila kita kembali pada paideia Yunani maupun ren Konfusian, justru berangkat dari penghormatan pada kemanusiaan. Bukan penghinaan terhadapnya. Atau dalam teori pendidikan modern: psychological safety—rasa aman psikologis.
Tanpa itu, belajar lumpuh. Mahasiswa mungkin hadir. Tetapi pikirannya bersembunyi. Ia tak berani bertanya.Takut salah. Takut dipermalukan. Kritik mati sebelum lahir. Kelas berubah dari ruang tumbuh menjadi ruang bertahan.
Di titik itu pendidikan kehilangan ruhnya. Paulo Freire menyebut situasi seperti ini pedagogy of oppression—pedagogi penindasan.
Ketika relasi mendidik tak lagi dialogis, melainkan dominatif. Bukan guru dan murid yang bertemu, tetapi kuasa dan kepatuhan. Dan itu bukan pendidikan. Itu domestikasi.
Kasus ini menjadi lebih serius ketika mahasiswa disebut takut melapor karena khawatir dipersulit akademiknya. Di sini kita berhadapan dengan power asymmetry—ketimpangan kuasa.
Relasi dosen dan mahasiswa memang tak simetris. Tetapi ketimpangan itu hanya sah bila dipakai membimbing. Bukan menekan.
Apalagi bila muncul ancaman pengurangan nilai dan pencoretan absensi. Dalam etika pendidikan ini disebut academic retaliation—retaliasi akademik. Pembalasan melalui instrumen evaluasi.
Dan ini berat. Karena nilai bukan alat intimidasi. Ia alat keadilan akademik. Saat dipakai mengancam, evaluasi dikorupsi menjadi senjata.
Di titik ini, masalah tak lagi berhenti pada kekerasan verbal. Ia berubah menjadi penyalahgunaan otoritas.
Michel Foucault pernah menunjukkan kuasa paling efektif sering bukan yang memukul tubuh, tetapi yang membuat orang takut bicara. Mungkin itulah yang sedang dipertontonkan di sini. Kuasa yang bekerja lewat pembungkaman.
Ada yang menyebut ini mungkin sekadar salah memilih diksi. Tapi bila perilaku berulang sejak semester awal, itu bukan slip of tongue. Itu pattern of misconduct. Pola penyimpangan.
Dalam etika profesi, pengulangan jauh lebih serius daripada insiden tunggal. Karena ia menunjukkan habitus. Bukan kecelakaan.
Bahkan mungkin yang lebih mengkhawatirkan ialah hidden curriculum—kurikulum tersembunyi. Apa yang diam-diam dipelajari mahasiswa dari kultur ini? Bahwa yang berkuasa boleh menghina yang lemah? Bahwa melapor akan dibalas?
Bahwa diam lebih aman daripada kebenaran?
Jika itu yang dipelajari, maka pendidikan sedang gagal bukan di silabus, melainkan di watak. Ironinya ini terjadi di lembaga pendidikan guru. Tempat calon guru agama dibentuk.
Maka persoalannya lebih simbolik. Apa yang diwariskan kepada calon pendidik bila di ruang pembentukannya sendiri martabat dapat diinjak? Bahwa mendidik berarti menghardik? Bahwa otoritas identik dengan teror?
Kalau demikian kekerasan sedang diwariskan sebagai pedagogi. Dan itu tragedi. Karena pendidikan seharusnya membatalkan feodalisme. Bukan mewarisinya.
Ki Hajar Dewantara menulis: Ing ngarso sung tulodo. Di depan memberi teladan. Bukan intimidasi. Tetapi teladan.
Dan teladan tak pernah lahir dari penghinaan.
Saya kira solusi kasus seperti ini tak cukup berhenti pada “pembinaan”. Diperlukan restorative justice in education—keadilan yang memulihkan relasi rusak, melindungi korban, dan menuntut tanggung jawab.
Perlu anti-retaliation protection—jaminan mahasiswa tak akan dibalas lewat nilai dan absensi.
Dan mungkin lebih jauh, perlu ethical and pedagogical audit—audit etika dan kultur mendidik.
Karena bisa jadi yang bermasalah bukan hanya individu.Melainkan ekosistem. Dan ekosistem tak diperbaiki dengan teguran administratif. Tetapi reformasi moral.
Saya kembali teringat perdebatan tua antara Athens dan Sparta.Antara pendidikan sebagai dialog
dan pendidikan sebagai disiplin yang menakutkan. Barangkali perdebatan itu belum pernah selesai.
Ia hanya berganti wajah. Hari ini ia muncul di ruang kuliah. Dalam nada suara. Dalam ancaman nilai. Dalam mahasiswa yang takut bicara. Dan kita diminta memilih lagi. Apakah universitas rumah paideia—atau benteng kuasa?
Jawaban atas itu mungkin tak ditentukan oleh pidato pejabat kampus. Melainkan oleh satu hal sederhana:
apakah martabat mahasiswa sungguh dijaga.
Sebab pada akhirnya, dosen boleh menguji pikiran mahasiswa, tetapi tak pernah berhak menghancurkan harga dirinya.
Karena saat penghormatan hilang dari pendidikan, yang tersisa hanya kuasa. Dan kuasa, kita tahu,tak pernah bisa menggantikan paideia.
Saya ingin menutup tulisan ini bukan dengan kesimpulan, melainkan dengan suatu kegelisahan. Sebab mungkin soal ini akhirnya bukan tentang seorang dosen yang diduga menghina mahasiswa. Bukan pula tentang satu kampus yang sedang diuji. Melainkan tentang sesuatu yang lebih tua dan lebih rawan: bagaimana kuasa selalu tergoda menyamar sebagai pendidikan. Itu godaan purba.
Sejak Athens. Sejak Confucius. Sejak manusia mulai mengajar manusia. Dan sejarah berulang kali memperingatkan:
pendidikan mati bukan ketika sekolah tutup. Ia mati ketika rasa takut lebih besar daripada rasa ingin tahu. Ketika murid belajar diam sebelum belajar berpikir. Ketika kritik dibaca pembangkangan. Ketika martabat bisa dikorbankan atas nama disiplin.
Di sana pendidikan tidak roboh dengan suara gaduh. Ia membusuk perlahan. Diam-diam. Seperti kayu yang dari luar masih tampak kukuh, tetapi di dalam sudah dimakan rayap.
Saya percaya seorang dosen boleh keras. Boleh menuntut. Boleh menggugat pikiran mahasiswa sampai habis. Tetapi tidak pernah diberi hak untuk melukai harga diri. Sebab pikiran yang dipaksa mungkin tunduk. Tapi tidak tercerahkan.
Dan manusia yang dididik dengan takut mungkin patuh— tetapi tidak merdeka. Padahal seluruh tujuan pendidikan, sejak paideia Yunani sampai Ki Hajar, adalah kemerdekaan. Bukan penjinakan.
Ada satu hal yang jarang disadari: penghinaan di ruang kelas tak pernah berhenti sebagai penghinaan. Ia selalu mendidik sesuatu.
Bila yang diajarkan adalah takut, maka yang tumbuh adalah kepatuhan tanpa nurani. Dan dari kepatuhan tanpa nurani,
sejarah berkali-kali melahirkan malapetaka.
Tirani sering tidak lahir dari barak. Ia lahir dari kelas yang membiasakan manusia diam. Itulah sebabnya ini bukan perkara kecil.
Bukan soal salah diksi. Bukan soal temperamen seorang pengajar. Melainkan soal apakah pendidikan masih percaya pada martabat. Atau diam-diam telah berpihak pada kuasa. Dan saya kira di situ seluruh perkara ini harus dibaca.
Karena sebuah bangsa jarang hancur pertama-tama oleh perang. Ia lebih dulu melemah ketika guru kehilangan teladan,
ketika kampus takut pada kebenaran, dan ketika penghinaan mulai diterima sebagai metode.
Di sanalah kemerosotan bermula. Sunyi. Pelan. Nyaris tak terasa. Sampai suatu hari kita sadar: yang runtuh bukan mutu pendidikan. Melainkan kemanusiaan yang menopangnya. Dan bila itu runtuh, tak ada kurikulum yang bisa menyelamatkan kita. (******)







