Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil

Seorang tukang membangun tembok bata. Setelah selesai, ia menyadari ada dua bata yang terpasang miring. Ia begitu kecewa hingga merasa seluruh tembok itu gagal. Setiap kali melewatinya, matanya hanya tertuju pada dua bata yang salah itu. Ia tidak lagi melihat ratusan bata lain yang tersusun baik. Sampai suatu hari seseorang memuji tembok itu. Si tukang heran dan berkata bahwa tembok itu jelek karena ada dua bata yang salah pasang. Orang itu menjawab, “Ya, saya melihat dua bata yang jelek. Tetapi saya juga melihat banyak bata lain yang terpasang dengan sangat baik.” Jawaban itu menyadarkannya: selama ini ia memandang terlalu sempit.
Bukankah kita sering hidup seperti itu? Kita terlalu lama menatap bagian hidup yang retak: kegagalan, kehilangan, luka, ketidakpastian, dan doa yang belum dijawab. Kita lalu membaca seluruh hidup hanya dari bagian yang menyakitkan itu. Akibatnya, hati menjadi sempit dan harapan perlahan padam. Kita lupa bahwa di tengah semua yang belum selesai, masih ada banyak hal yang tetap ditopang oleh kasih karunia Tuhan.
Di sinilah 1 Petrus 1:3–12 berbicara dengan sangat kuat. Melalui bagian ini, Petrus mengajak jemaat untuk memandang hidup dengan cara yang baru. Ia tidak membiarkan mereka terpaku pada penderitaan yang sedang mereka alami. Sebaliknya, ia mengarahkan mata mereka kepada karya Allah yang jauh lebih besar. Karena itu Petrus membuka tulisannya dengan pujian: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” Ini menarik. Di tengah tekanan hidup, ia tidak memulai dari keluhan, melainkan dari penyembahan. Petrus tahu bahwa hidup akan terasa semakin berat jika manusia hanya memandang masalahnya. Tetapi hidup dapat dibaca secara berbeda ketika mata diarahkan kepada Allah.
Jemaat yang menerima surat ini memang tidak hidup dalam keadaan mudah. Mereka menghadapi berbagai pencobaan dan tekanan. Mereka mengenal rasa takut, duka, dan ketidakpastian. Dalam situasi seperti itu, sangat wajar jika hati mereka hanya melihat “dua bata yang miring” dalam hidup mereka. Namun justru dalam keadaan itulah Petrus menegaskan bahwa Allah telah “melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Kalimat ini menjadi pusat seluruh renungan ini.
Kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar berita bahwa seorang yang mati hidup kembali. Kebangkitan adalah tindakan Allah yang membuka masa depan baru bagi manusia. Di dalam kebangkitan, Allah menyatakan bahwa dosa, salib, penderitaan, bahkan kematian, bukanlah kata terakhir. Kubur bukan penutup cerita. Apa yang tampak buntu di mata manusia, ternyata tidak buntu di hadapan Allah. Karena Kristus bangkit, hidup orang percaya tidak lagi dibaca dari sudut pandang kekalahan, melainkan dari kemenangan Allah.
Inilah yang membuat pengharapan Kristen berbeda dari optimisme biasa. Optimisme sering bergantung pada keadaan. Selama keadaan baik, orang merasa tenang. Tetapi ketika hidup mulai goyah, optimisme pun mudah runtuh. Pengharapan Kristen tidak berdiri di atas keadaan, melainkan di atas Kristus yang bangkit. Itulah sebabnya Petrus menyebutnya “pengharapan yang hidup.” Pengharapan ini hidup bukan karena manusia selalu kuat, tetapi karena Tuhan yang menjadi dasarnya hidup untuk selama-lamanya.
Bagi banyak orang, pengharapan sering terasa seperti sesuatu yang mewah. Mudah diucapkan, tetapi sulit dipelihara. Kita hidup di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Ada keluarga yang bergumul dengan kebutuhan hidup. Ada orang tua yang cemas memikirkan masa depan anak-anaknya. Ada anak-anak muda yang gelisah menatap hari esok. Ada pula mereka yang tetap bekerja, melayani, dan menjalani tanggung jawab, tetapi diam-diam kelelahan di dalam batin. Dalam keadaan seperti itu, orang mudah merasa bahwa harapan hanyalah kata-kata indah yang jauh dari kenyataan.
Namun iman Kristen tidak mengajarkan pengharapan yang palsu. Petrus tidak berkata bahwa orang percaya akan bebas dari dukacita. Sebaliknya, ia dengan jujur mengakui bahwa mereka akan mengalami berbagai pencobaan. Artinya, kebangkitan Kristus tidak membuat hidup langsung bebas dari air mata. Orang percaya tetap bisa terluka, tetap bisa letih, tetap bisa kehilangan arah. Tetapi yang membedakan adalah ini: penderitaan tidak lagi memegang akhir cerita. Luka memang nyata, tetapi luka bukan penentu terakhir. Air mata memang ada, tetapi air mata bukan kesimpulan akhir hidup orang percaya.
Di sinilah kita dapat melihat kekuatan pengharapan Kristen. Harapan bukanlah menutup mata terhadap kenyataan pahit. Harapan justru memandang kenyataan itu dengan jujur, sambil percaya bahwa Allah masih bekerja. Harapan tidak menyangkal adanya salib, tetapi membaca salib dalam terang kebangkitan. Harapan tidak menghapus penderitaan, tetapi menolak untuk menyerahkan masa depan kepada penderitaan. Karena Kristus bangkit, maka orang percaya dapat berkata bahwa apa yang gelap hari ini belum tentu gelap selamanya.
Petrus juga berbicara tentang warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu. Ini berarti masa depan orang percaya ada di dalam tangan Allah. Dunia dapat berubah, kekuatan manusia dapat menurun, dan rencana dapat gagal. Tetapi janji Allah tidak ikut layu bersama perubahan zaman. Orang percaya hidup bukan hanya dari apa yang ada di tangan hari ini, tetapi dari apa yang dijanjikan Allah bagi hari esok. Iman tidak hanya menolong kita bertahan saat ini, tetapi juga menarik kita ke depan, menuju masa depan yang dibukakan oleh Allah.
Karena itu, pengharapan Kristen selalu mengandung arah. Ia tidak membuat orang berdiam diri secara pasif. Ia justru memberi keberanian untuk terus hidup, melayani, bekerja, dan mengasihi, meski keadaan belum berubah sepenuhnya. Orang yang memiliki pengharapan tidak berarti tidak pernah menangis. Ia tetap menangis, tetapi tidak putus asa. Ia tetap bergumul, tetapi tidak menyerah. Ia tetap melihat keretakan hidup, tetapi tidak membiarkan keretakan itu menjadi satu-satunya cara membaca kenyataan.
Petrus memakai gambaran emas yang dimurnikan oleh api. Api memang panas dan menyakitkan, tetapi di tangan Tuhan, api tidak harus menghancurkan; api juga dapat memurnikan. Demikian pula dengan pencobaan hidup. Tuhan sanggup memakai masa sulit, bukan untuk membinasakan, melainkan untuk meneguhkan iman. Ini adalah kabar baik bagi siapa pun yang hari-hari ini merasa letih. Ada kalanya seseorang tidak kehilangan iman, tetapi kehilangan tenaga untuk berharap. Ia masih berdoa, masih datang beribadah, masih menjalankan tanggung jawab, tetapi hatinya mulai redup. Firman Tuhan hari ini datang untuk menyalakan kembali hati yang hampir padam itu.
Pada akhirnya, 1 Petrus 1:3–12 membawa kita kembali kepada cerita tukang dan tembok bata tadi. Sering kali kita hidup dengan mata yang hanya tertuju pada dua bata yang miring: luka yang belum sembuh, relasi yang belum pulih, kegagalan yang belum terlupakan, atau doa yang belum juga terjawab. Karena terlalu lama memandang bagian yang rusak, kita lupa melihat bahwa Tuhan masih menopang begitu banyak bagian hidup kita dengan setia. Kita lupa bahwa di tengah dukacita masih ada kasih karunia. Di tengah kelemahan masih ada kekuatan dari Tuhan. Di tengah ketidakpastian masih ada masa depan yang dibukakan oleh kebangkitan Kristus.
Itulah sebabnya kebangkitan Yesus bukan hanya dasar iman, tetapi juga dasar pengharapan. Kebangkitan membarui cara kita memandang hidup. Kita tidak lagi membaca hidup hanya dari kerusakan, melainkan dari karya Allah yang terus bergerak menuju pemulihan. Kita belajar melihat lebih dari sekadar “dua bata yang jelek.” Kita belajar melihat bahwa hidup kita tetap berada di dalam tangan Tuhan yang hidup. Dan karena Kristus bangkit, harapan itu tidak pernah sia-sia.
Karena itu, pengharapan Kristen selalu mengandung arah. Ia tidak membuat orang berdiam diri secara pasif. Ia justru memberi keberanian untuk terus hidup, melayani, bekerja, dan mengasihi, meski keadaan belum berubah sepenuhnya. Orang yang memiliki pengharapan tidak berarti tidak pernah menangis. Ia tetap menangis, tetapi tidak putus asa. Ia tetap bergumul, tetapi tidak menyerah. Ia tetap melihat keretakan hidup, tetapi tidak membiarkan keretakan itu menjadi satu-satunya cara membaca kenyataan.
Petrus memakai gambaran emas yang dimurnikan oleh api. Api memang panas dan menyakitkan, tetapi di tangan Tuhan, api tidak harus menghancurkan; api juga dapat memurnikan. Demikian pula dengan pencobaan hidup. Tuhan sanggup memakai masa sulit, bukan untuk membinasakan, melainkan untuk meneguhkan iman. Ini adalah kabar baik bagi siapa pun yang hari-hari ini merasa letih. Ada kalanya seseorang tidak kehilangan iman, tetapi kehilangan tenaga untuk berharap. Ia masih berdoa, masih datang beribadah, masih menjalankan tanggung jawab, tetapi hatinya mulai redup. Firman Tuhan hari ini datang untuk menyalakan kembali hati yang hampir padam itu.
Pada akhirnya, 1 Petrus 1:3–12 membawa kita kembali kepada cerita tukang dan tembok bata tadi. Sering kali kita hidup dengan mata yang hanya tertuju pada dua bata yang miring: luka yang belum sembuh, relasi yang belum pulih, kegagalan yang belum terlupakan, atau doa yang belum juga terjawab. Karena terlalu lama memandang bagian yang rusak, kita lupa melihat bahwa Tuhan masih menopang begitu banyak bagian hidup kita dengan setia. Kita lupa bahwa di tengah dukacita masih ada kasih karunia. Di tengah kelemahan masih ada kekuatan dari Tuhan. Di tengah ketidakpastian masih ada masa depan yang dibukakan oleh kebangkitan Kristus.
Itulah sebabnya kebangkitan Yesus bukan hanya dasar iman, tetapi juga dasar pengharapan. Kebangkitan membarui cara kita memandang hidup. Kita tidak lagi membaca hidup hanya dari kerusakan, melainkan dari karya Allah yang terus bergerak menuju pemulihan. Kita belajar melihat lebih dari sekadar “dua bata yang jelek.” Kita belajar melihat bahwa hidup kita tetap berada di dalam tangan Tuhan yang hidup. Dan karena Kristus bangkit, harapan itu tidak pernah sia-sia.








