(Catatan: Darius Beda Daton)
Hari ini tanggal 1 Mei, mengingatkan kisah lama saya ketika menjadi buruh. Tahun 1998-1999, ketika Jakarta bergejolak dengan gelombang aksi demo hingga Presiden Soeharto jatuh, saya menjadi buruh di PT Prima Kalplas di Kawasan Industri Pulau Gadung, Jakarta Timur. Saya ikut-ikutan juga dalam aksi itu. Sekedar ikut ramai saja. Pabrik ini adalah pabrik plastik yang memproduksi berbagai kemasan plastik. Saya ingat, jerigen oli mezran PT Pertamina yg berwarna merah adalah salah satu yang kami produksi di pabrik ini. Masuk kerja dengan shift 24 jam mengharuskan saya untuk tahan banting hingga pagi jika masuk shift Pukul 24.00. Betapa susahnya jadi buruh kala itu. Saya ingat upah buruh saat itu sekitar Rp. 375.000/bulan. Pabrik itu ternyata sudah dinyatakan pailit oleh pengadilan.
***
Di NTT, nasib buruh tidak jauh beda. Jangan ditanya upah mereka. Masih jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) Provinsi NTT yang ditetapkan Rp.2.4 juta. Padahal angka ini disepakati bersama antara asosiasi pengusaha, asosiasi buruh dan Pemda melalui dewan pengupahan. Ini pun angka paling minimum layak hidup di NTT. Tapi kita masih membayar mereka dengan upah jauh dari kata layak. Ya tentu banyak alasan ngeles mengapa mereka menerima upah hanya sebesar itu.
***
Kita masih suka diskusi dalam ruang-ruang rapat. Namun dari tempat yang tidak terlalu jauh dari ruang rapat itu, ada kenyataan yang berjalan lebih sunyi. Contohnya ada di sekitar kita. Ini ceriteranya.
Karyawan sebuah BUMD, sudah lebih dari setahun hidup dalam ketidakpastian.
Gaji tidak dibayar,
BPJS kesehatan tidak aktif,
BPJS Ketenagakerjaan dibiarkan menggantung.
Ini bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Ini soal dapur yang tak lagi mengepul, anak-anak yang harus menunda sekolah, dan keluarga yang perlahan kehilangan pegangan.
***
Di sinilah pertanyaan sederhana muncul:
Jika pemerintah hadir sebagai jembatan, mengapa jembatan itu belum sampai ke halaman rumah mereka sendiri?
Dialog seringkali berbicara tentang hal besar: pengangguran, kualitas SDM, hingga hubungan industrial. Tapi hubungan industrial bukan konsep di atas kertas. Ia hidup dalam relasi konkret antara pekerja, perusahaan, dan dalam konteks BUMD—pemerintah.
***
Di tengah tantangan ekonomi, inflasi, dan dunia kerja yang terus berubah, para pekerja tetap menjadi tulang punggung keluarga, bahkan bangsa. Oleh karena itu, ucapan Selamat Hari Buruh 2026 patut disampaikan sebagai bentuk penghormatan dan dukungan atas kerja keras mereka.
Untukmu yang berangkat pagi dan pulang malam demi keluarga: Selamat Hari Buruh, kamu luar biasa!
Jangan pernah anggap usahamu kecil. Karena dari tangan-tanganmu, harapan besar terbangun. Tetap semangat.







