(Catatan : Darius Beda Daton)
Pagi ini, saya kembali jalan kaki di Kota Kupang, tepatnya di Taman Nostalgia. Ketika melewati toilet umum berseri di Taman itu, tiba-tiba saya teringat seorang pengusaha. Nama pengusaha itu Haji Jakir Husen. Beliau pemilik toko/gudang Benasir yang letaknya tepat berhadapan dengan Lippo Mall. Bagi ibu-ibu yang suka belanja perkakas dapur atau pot bunga, pasti hafal toko itu. Saya lalu minta tolong seseorang untuk memfoto saya dengan latar toilet itu. Pak Haji telah berpulang pada 2021 lalu saat covid 19 merebak. Karena itu saat berpulang, saya tidak bisa ikut melayat apalagi mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
***
Ada cerita perihal keteladanan dan kedermawan beliau yang ingin saya tulis sebagai kenangan akan beliau. Saya tidak ingat lagi tahun berapa persisnya. Tapi pada suatu waktu Pak Haji mendatangi saya di kantor, jalan Veteran Kelapa Lima. Kebetulan kantor kami dan toko milik pak haji berdekatan. Dengan wajah sedih, beliau menceritakan perihal eksekusi lelang tanah dan bangunan yang ia beli di bilangan Pasar Oebobo terkatung-katung. Padahal ia pemenang lelang resmi di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Kupang. Sudah pula berupaya ke mana-mana tapi masih sulit.
***
Setelah membaca sebentar dokumennya, saya lalu bergerak cepat berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Singkat ceritera, hanya berselang seminggu setelah itu, pak haji mengirim pesan ucapan terima kasih karena sudah mendapat surat pemberitahuan pelaksanaan eksekusi dari Pengadilan Negeri Kupang. Usai pelaksanaan eksekusi, pak haji datang kembali ke kantor untuk mengucapkan terima kasih. Kali ini pak haji ingin memberikan sejumlah uang sebagai ungkapan rasa terima kasih karena telah membantu menyelesaikan masalahnya. Dengan santun saya sampaikan kepada pak haji bahwa apa yang saya lakukan adalah pelaksanaan tugas sebagai aparatus negara. Tugas saya adalah melayani pak haji dengan sebaik-baiknya dan untuk itu pak haji sudah membayar gaji dan tunjangan saya melalui pajak yang pak haji bayar kepada negara. Pak haji tetap menolak alasan itu karena menurutnya tidak patut pula kalau tidak memberikan apa-apa. Toh itu uang pribadinya dari usaha, bukan uang negara.
***
Perdebatan soal ucapan terima kasih ini berjalan panjang dan alot. Saya akhirnya mengunakan jurus lain untuk menolak pemberian pak haji. Saya berpesan kepadanya demikian: “Pak Haji, jika pak haji hidup berkecukupan dan punya banyak uang, sebaiknya uang itu pak haji gunakan untuk amal sedekah kepada mereka yang fakir miskin dan membutuhkan. Mereka lebih membutuhkan daripada saya. Saya bukan sudah punya banyak uang sehingga menolak pemberian pak haji tetapi saya sudah cukup untuk makan”.
***
Rupanya alasan saya ini membuat pak haji luluh juga. Beliau tidak lagi ngotot dan terdiam beberapa saat sebelum pamit pulang. Namun pak haji belum puas juga sehingga sesampai di rumah, beliau mengirim pesan WhatsApp demikian: “Mohon maaf bapak. Saya sungguh baru tahu ada pejabat seperti bapak. Saya janji akan melaksanakan amanat bapak untuk menolong orang lain yang membutuhkan”. Saya tidak membalas pesan WA-nya.
***
Beberapa waktu setelah itu, setiap hari Jumat, saya selalu mendapat WA dari pak haji dengan isi pesan demikian: “Assalamualaikum Bapak, bahwa hari ini saya telah melakukan khitanan massal terhadap sejumlah anak di lokasi ini”. Pesan WA dengan isi seperti itu selalu saya terima setiap hari Jumat hingga pak Haji berpulang. Tidak hanya itu, pak haji juga menyampaikan kepada saya bahwa ia telah membangun beberapa toilet umum untuk disewakan. Pengelolaannya diserahkan kepada panti asuhan agar bisa digunakan untuk biaya operasional panti asuhan. Salah satunya adalah Toilet Berseri taman Nostalgia, tempat warga kota melakukan jogging.
***
Sejak berkenalan dengan Haji Jakir Husen, saya juga tidak bisa lagi belanja pot bunga di gudang Benasir miliknya. Sebab beberapa kali dia menolak saya untuk membayar karena dianggap saya telah membantunya. Saya terpaksa mengembalikan barang jika dia menolak menerima pembayaran dari saya. Pak haji memaklumi cara saya menjaga integritas. Padahal sebelumnya, gudang benasir milik pak Haji Jakir adalah langganan saya membeli pot bunga karena dijual grosir dan lebih murah. Pak haji, mohon maaf saya menulis tentang kebaikanmu, hal yang mungkin tidak kamu sukai. Tapi percayalah orang baik akan selalu dikenang, termasuk pak haji. Bahagia di sorga Haji Jakir Husen. Amin.








