oleh : Albertus M. Patty
Di kota Bandung, ada sebuah gereja yang tampaknya “tersesat”. Ketika gereja-gereja lain sibuk menghitung jumlah kursi terisi, jumlah baptisan, dan panjang antrean konsumsi Natal, GKI Maulana Yusuf selalu bertanya: “Mengapa kami ada?” Ini pertanyaan yang sangat penting. Pertanyaan tentang ‘why’ ini, menurut Simon Sinek, jauh lebih penting daripada sekadar: “Apa program kita tahun ini?” atau “bagaimana kita melakukan program kita?” Pertanyaan what dan How memberikan motivasi dari luar, tetapi pertanyaan Why mengokohkan motivasi pelayanan dari dalam hati kita sendiri.
Dan di sinilah masalah dimulai. Sebab, di banyak tempat, gereja terlalu sibuk mengurus “what” dan “how”: apa acaranya, siapa pembicaranya, bagaimana strategi branding-nya, sampai desain backdrop retreat pemuda yang lebih mirip seminar startup daripada persekutuan doa. Tetapi “why”-nya? Kadang hilang di antara rapat dan proposal anggaran.
*Visi Strategis*
Padahal, sejak awal, GKI Maulana Yusuf bukan dibangun sekadar sebagai tempat ngumpul atau agar orang Kristen punya tempat parkir di Dago setiap hari Minggu. Why jemaat ini hadir? Jemaat ini hadir dengan visi yang sangat strategis: melayani kaum intelektual dan mahasiswa, mereka yang kelak akan menjadi profesor, birokrat, pengusaha, aktivis, ilmuwan, bahkan mungkin politisi lokal dan nasional yang menentukan masa depan bangsa Indonesia.
Para pendiri jemaat ini tampaknya sadar bahwa membangun bangsa tidak cukup hanya dengan membangun mimbar. Mereka tahu bahwa mahasiswa bukan sekadar calon pengurus komisi pemuda, tetapi calon pembentuk masa depan Indonesia. Karena itu, gereja ini seharusnya tidak dijadikan “ruang tunggu menuju surga”, melainkan laboratorium moral dan sosial tempat iman didorong untuk memiliki kesadaran pada tanggung jawab kebangsaan dan kemanusiaan.
Namun, seperti banyak lembaga keagamaan lain, gereja sering tergoda menjadi terlalu gereja-sentris. Pembinaan rohani sering berhenti pada cara menumbuhkan gereja atau masuk surga dengan selamat. Itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi gereja sering kurang berbicara tentang cara menyelamatkan bangsa dari intoleransi, kemiskinan, oligarki, kerusakan ekologi, pemihakannya pada korban ketidakadilan, dan pengangguran. Akibatnya, ada orang Kristen yang hafal ayat tentang kasih, tetapi panik ketika harus hidup bersama orang yang berbeda agama atau etnis. Paham Alkitab, tetapi tidak paham memberdayakan mereka yang secara ekonomi terpuruk.
Di titik itulah, GKI Maulana Yusuf melakukan sesuatu yang cukup “berbahaya”: membuka diri. Dialog lintas agama, mengambil resiko dengan memberikan ratusan beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa lintas iman, diakonia bersama masyarakat plural—semua ini membuat sebagian orang agak ‘terganggu’. Sebab, bagi kaum eksklusif, gereja yang terlalu ramah dengan umat lain sering dianggap kurang rohani. Ada orang yang lebih nyaman dengan gereja yang tinggi temboknya daripada luas pelukannya.
*Ikon Pluralisme*
Ironisnya, justru keberanian menjadi inklusif-pluralis itulah yang membuat gereja ini, oleh para aktifis lintas agama, disebut “Ikon Pluralisme”. Sebuah julukan yang mungkin terdengar seperti pujian bagi sebagian orang dan ancaman ideologis bagi sebagian lain. Tetapi begitulah nasib setiap lembaga yang masih memiliki “why”: ia tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang.
Kini, ketika Indonesia memasuki masa krisis sosial-ekonomi yang semakin berat, pertanyaan lama itu kembali muncul dengan lebih mendesak: mengapa GKI Maulana Yusuf ada? Jika identitas awalnya adalah melayani kaum intelektual, maka paradigma pelayanannya juga harus terus berkembang. Bukan meninggalkan “why”-nya, tetapi menerjemahkan “why” itu dalam konteks baru yaitu krisis ekonomi dan ketidakadilan yang makin masif terjadi.
Sebab “why” sejati bukan fosil yang disimpan di lemari sejarah gereja. Ia adalah api. Dan api hanya berarti bila masih memberi terang dan kehangatan bagi dunia yang sedang gelap dan dingin.
Jadi, berupayalah untuk menemukan ‘Why’ gereja kita!
Bandung,
20 Mei 2026







