Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger 17 Mahasiswa Teologi UKAW Jalani SKL dan Collegium Pastorale di Klasis Lole Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi

TAKLALE KLIPING dan REPORTASE

GEREJA ORANG MERDEKA, EKLESIOLOGI PASCA KOLONIAL INDONESIA.

badge-check


					GEREJA ORANG MERDEKA, EKLESIOLOGI PASCA KOLONIAL INDONESIA. Perbesar

Zakaria J. Ngelow, Asyer Tandapai, Yuberlian Padele, Christina J.
Hutubessy (Penyunting): Gereja Orang Merdeka, Eklesiologi Pascakolonial Indonesia
Penerbit: Yayasan Oase Intim, Makassar (2019).
vi + 494 hlm, 24 x 16 x 3 cm

@Rp. 150.000.- belum termasuk ongkos kirim
Pesan melalui Jean L. Wattimena (email: leslywattimena@yahoo.com)
FB: Jean Lesly Wattimena

Buku GEREJA ORANG MERDEKA adalah kumpulan tulisan sejumlah teolog yang menyoal berbagai aspek dalam kehidupan gereja-gereja (Protestan) di Indonesia, yang diwariskan oleh para pekabar Injil dari Eropa (dan Amerika) sejak zaman kolonial. Baik dalam struktur kelembagaan, peraturan dan pelaksanaan pelayanan pastoral, mau pun dalam liturgi, sakramen dan penafsiran Alkitab ditemukan ciri-ciri kolonialistik, yakni hegemoni kekuasaan yang menindas dan men-diskriminasi.

Sesuai sub-judulnya – Eklesiologi Pascakolonial Indonesia – buku ini memuat kumpulan tulisan eklesiologi pascakolonial, suatu bagian dari studi teologi pascakolonial.

Dari perspektif pascakolonial para penulis berpendapat bahwa di masa lalu bentuk Kekristenan Barat yang dominan sebenarnya ditentukan, dibentuk, dan didefinisikan oleh kolonialisme Eropa, sehingga menyiratkan dan memperkuat pandangan-pandangan Eurosentrisme, eksploitasi kolonial, dan keunggulan nilai-nilai dan budaya Eropa.

Oleh karena itu penelitian kritis diperlukan, dan perlu dibangun interpretasi alternatif terhadap narasi yang dicemari faham kolonialistik.

sumber : FB Zakaria Ngelow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

17 Mahasiswa Teologi UKAW Jalani SKL dan Collegium Pastorale di Klasis Lole

25 June 2026 - 12:01 WITA

GMIT Berduka, Pdt. Emr. Marta Mariam Mauta Tutup Usia Setelah Hampir 30 Tahun Mengabdi

12 June 2026 - 15:36 WITA

Peraturan Dua Menteri Soal Pendirian Rumah Ibadah Harus Dibatalkan dan Diganti Perpres yang Menjamin Kebebasan Beribadah dan Memfasilitasi Pendirian Rumah Ibadah

2 June 2026 - 14:57 WITA

Trending TAKLALE KLIPING dan REPORTASE