Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger 17 Mahasiswa Teologi UKAW Jalani SKL dan Collegium Pastorale di Klasis Lole Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi

PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM

Kota Kupang Keluar dari 10 Besar Kota Toleran Nasional Versi SETARA Institute 2025

badge-check


					Kota Kupang Keluar dari 10 Besar Kota Toleran Nasional Versi SETARA Institute 2025 Perbesar

Dedeak- Sodamolek- Kota Kupang tidak lagi masuk dalam daftar 10 besar kota paling toleran di Indonesia tahun 2025 berdasarkan hasil penilaian Indeks Kota Toleran (IKT) yang dirilis oleh SETARA Institute.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara Peluncuran dan Penghargaan IKT 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (22/4/2026). Dengan hasil ini, Kota Kupang mengakhiri catatan tujuh tahun berturut-turut berada dalam 10 besar kota toleran sejak 2018.

Berdasarkan hasil studi, sepuluh kota dengan skor toleransi tertinggi secara nasional tahun 2025 secara berurutan adalah Salatiga, Singkawang, Semarang, Pematang Siantar, Bekasi, Sukabumi, Magelang, Kediri, Tegal, dan Ambon.

IKT 2025 mengkaji sebanyak 94 kota dari total 98 kota di Indonesia. Penilaian dilakukan berdasarkan empat variabel utama yang dijabarkan ke dalam delapan indikator, meliputi regulasi pemerintah, regulasi sosial, tindakan pemerintah, serta kondisi demografi sosio-keagamaan.

Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, dalam kesempatan tersebut menyoroti kondisi kota-kota yang berada di peringkat terbawah serta pentingnya pembenahan dalam ekosistem toleransi.

Ia menyatakan bahwa secara umum kota-kota dengan skor rendah masih menghadapi tantangan dalam aspek kepemimpinan politik dan birokrasi yang belum sepenuhnya kondusif bagi penguatan toleransi.

“Secara garis besar, kota-kota pada peringkat 10 besar kota dengan skor terendah pada IKT 2025 masih menghadapi tantangan pada aspek kepemimpinan politik dan kepemimpinan birokrasi yang kurang kondusif dalam pemajuan toleransi,” ujar Halili.

Ia menambahkan, lemahnya kepemimpinan tersebut kerap berdampak pada munculnya favoritisme terhadap kelompok tertentu serta formalisasi kebijakan daerah yang berbasis agama, yang berpotensi menghambat upaya pembangunan masyarakat yang inklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Bupati Rote Ndao Terima Paparan TBUPP, Hadiri Panen Sorgum hingga Bahas Pendidikan Bersama Mitra Strategis

11 June 2026 - 23:53 WITA

Festival Keluarga Malole Dorong Peran Orang Tua dalam Membangun Generasi Berkualitas di Rote Ndao

9 June 2026 - 22:56 WITA

PERNYATAAN SIKAP PGI ATAS PEMBUBARAN KEGIATAN PERKEMAHAN ANAK DAN REMAJA JMAI DI TAWANGMANGU, JAWA TENGAH

9 June 2026 - 21:42 WITA

Trending PEMERINTAHAN-POLITIK-HUKUM dan HAM