Menu

Dark Mode
Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8) BERAPA SIH BIAYA MUTASI MASUK KENDARAAN PLAT LUAR? Pdt. Emr. Marta Mariam Mauta: Menuntaskan Panggilan dalam Kesetiaan

PEMBACA MENULIS

WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

badge-check


					WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8) Perbesar

Oleh : Matheos Victor Matheos*
Bacaan jemast-jemaat GMIT hari ini menarik. Ia bagaikan menguliti kebiasaan dan pola konflik di gereja kita tercinta.
Surat Paulus kepada jemaat Korintus lahir dari sebuah persoalan yang sangat nyata: jemaat terpecah karena fanatisme terhadap pemimpin-pemimpin gereja. Sebagian berkata, “Aku dari Paulus.” Sebagian berkata, “Aku dari Apolos.” Di bagian lain bahkan ada yang berkata, “Aku dari Kefas” (1Kor. 1:12).
Perhatikan bahwa yang dipersoalkan Paulus bukanlah perbedaan pendapat teologis. Bukan pula perbedaan ajaran. Mereka bertengkar karena mengidolakan tokoh-tokoh tertentu. Mereka mulai mengaitkan identitas dan kesetiaan mereka kepada manusia. Nama seorang pelayan Tuhan menjadi lebih penting daripada nama Kristus sendiri. Karena itulah Paulus menilai mereka sebagai “kanak-kanak dalam Kristus”.
Paulus tidak menyebut mereka sebagai orang yang tidak percaya. Mereka adalah orang-orang yang sudah menerima Injil dan menjadi bagian dari gereja. Paulus menyebut mereka sebagai “manusia duniawi” (sarkikoi) atau “bayi dalam Kristus”. Mengapa? Karena hidup mereka masih ditandai oleh iri hati, perselisihan, dan pengelompokan diri berdasarkan tokoh-tokoh manusia.
Dengan kata lain, fanatisme terhadap pemimpin gereja bukanlah tanda kerohanian yang tinggi. Menurut Paulus, justru itulah tanda ketidakdewasaan rohani. Mereka masih berpikir seperti dunia yang mengagungkan figur, membangun kelompok-kelompok pendukung, dan mengukur segala sesuatu berdasarkan kedekatan dengan tokoh tertentu. Karena itu akar masalah di Korintus bukan sekadar konflik, melainkan kedagingan yang masih menguasai kehidupan jemaat. Akar perpecahan adalah kedagingan (sarkikoi).
Mereka belum dewasa secara rohani karena masih melihat gereja dengan cara pandang duniawi: mengikuti figur, membangun kelompok, memfavoritkan suku tertentu, mencari pengaruh, dan mengukur segala sesuatu berdasarkan siapa pemimpinnya.
Apa yang terjadi di Korintus sesungguhnya terus berulang dalam sejarah gereja. Kadang-kadang jemaat lebih bangga menjadi pengikut seorang pendeta tertentu daripada menjadi murid Kristus. Mereka membela tokoh favoritnya dalam segala keadaan. Mereka menolak kritik terhadapnya. Siapa berani kritik pendeta itu, ia pasti diserang atau paling tidak, tidak disukai. Mereka menilai semua hal berdasarkan apakah itu menguntungkan atau merugikan tokoh yang mereka kagumi. Akibatnya gereja berubah menjadi kumpulan kelompok-kelompok penggemar, bukan lagi persekutuan orang percaya.
Bahaya yang Tidak Hanya Mengancam Jemaat
Yang menarik, Paulus tidak mengoreksi jemaat saja. Ia juga menempatkan para pemimpin gereja pada posisi yang benar. “Jadi apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan.” (ayat 5) Paulus tidak berhenti pada teguran kepada jemaat. Ia juga menempatkan dirinya dan Apolos pada posisi yang benar.
“Jadi apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan.”
Pertanyaan ini sebenarnya sangat mengejutkan. Biasanya seorang pemimpin akan menegaskan kedudukannya. Paulus dapat saja mengingatkan bahwa dialah rasul yang mendirikan jemaat Korintus. Tetapi ia justru mengecilkan dirinya sendiri. Kata yang digunakannya adalah diakonoi — pelayan, pelaksana tugas. Paulus menolak diperlakukan sebagai tokoh utama. Ia tidak ingin jemaat membangun identitas berdasarkan dirinya. Dengan sengaja ia mengalihkan perhatian jemaat dari manusia kepada Kristus.
Paulus seolah berkata: “Jangan membuat kami menjadi sesuatu yang lebih besar daripada yang sebenarnya.” Kami hanyalah pelayan. Kami bukan pusat gereja. Kami bukan sumber keselamatan. Kami bukan alasan mengapa gereja ada. Kristuslah pusat gereja.
Di sinilah terdapat pelajaran penting bagi para pemimpin gereja. Fanatisme jemaat terhadap seorang pemimpin sering kali tidak muncul sendirinya. Kadang-kadang fanatisme itu dipelihara secara sadar atau tidak sadar oleh pemimpinnya sendiri.
Sikap Paulus menjadi kontras yang sangat tajam. Padahal kalau ada orang yang berhak memanfaatkan loyalitas jemaat, Pauluslah orangnya. Ia adalah pendiri jemaat Korintus. Ia memiliki otoritas kerasulan yang diakui luas. Namun Paulus justru mencegah fanatisme itu. Ia tidak membangun kelompok “orang-orang Paulus”. Ia tidak memanfaatkan konflik untuk memperkuat posisinya.
Karena itu teks ini juga menjadi teguran bagi para pemimpin gereja. Ada kalanya pemimpin menikmati ketika dirinya dipuji berlebihan. Ada yang senang memiliki kelompok pendukung yang setia kepadanya. Ada yang membiarkan jemaat terbelah karena merasa diuntungkan oleh situasi tersebut. Tetapi Paulus menunjukkan jalan yang berbeda. Pelayan Tuhan dipanggil untuk membawa orang kepada Kristus, bukan mengikat mereka kepada dirinya sendiri.
Kita sering melihat, ada pemimpin yang menikmati pujian yang berlebihan. Ada yang menikmati ketika jemaat membela dirinya secara membabi buta. Ada yang senang memiliki kelompok pengikut yang loyal kepadanya secara pribadi. Ada yang membiarkan jemaat mengidentikkan gereja dengan dirinya. Bahkan ada yang membiarkan jemaat hancur dalam konflik walaupun mereka bisa saja menghentikan konflik tersebut.
Padahal ketika seorang pemimpin mulai menikmati pemujaan terhadap dirinya, ia sedang mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Kristus. Tugas seorang pelayan Tuhan bukanlah mengumpulkan pengikut bagi dirinya sendiri melainkan mengarahkan semua orang kepada Kristus.
Ketika jemaat terlalu mengagungkan dirinya, seorang pemimpin yang sehat secara rohani seharusnya berkata: “Jangan melihat saya. Lihatlah Kristus.”
“Jangan membangun kesetiaan kepada saya. Bangunlah kesetiaan kepada Tuhan.”
“Jangan menjadi pengikut saya. Jadilah murid Kristus.”
Itulah yang dilakukan Paulus. Ia menolak diperlakukan sebagai tokoh utama. Ia tidak diam menikmati perpecahan jemaat tetapi ia berbuat sesuatu, menjadi penengah dan pembawa kabar yang mendamaikan.
Pemimpin yang Dewasa Akan Mengecil Agar Kristus Membesar
Paulus menggunakan gambaran yang sangat sederhana: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Paulus tidak sedang meremehkan pelayanan manusia. Menanam penting. Menyiram juga penting. Tetapi Paulus ingin menunjukkan bahwa tidak satu pun dari mereka yang menjadi sumber kehidupan.
Benih tidak bertumbuh karena kehebatan penanam. Tanaman tidak hidup karena kecakapan penyiram. Pertumbuhan terjadi karena Allah bekerja.
Karena itu seluruh fanatisme terhadap pemimpin sebenarnya kehilangan dasarnya. Jika ada pertumbuhan iman dalam jemaat, itu adalah karya Allah. Jika ada buah pelayanan, itu adalah karya Allah. Jika ada perubahan hidup, itu adalah karya Allah.
Maka tidak masuk akal apabila jemaat saling bertengkar untuk meninggikan seorang pelayan. Yang layak menerima kemuliaan bukanlah penanam atau penyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
Dengan kata lain, Paulus menolak segala bentuk kultus tokoh. Seorang penanam tidak perlu dipuja. Seorang penyiram tidak perlu diagungkan.
Yang layak menerima kemuliaan adalah Allah yang membuat benih itu bertumbuh. Karena itu pemimpin yang dewasa tidak akan membangun kerajaan pribadi di dalam gereja. Ia tidak akan mengukur keberhasilannya dari seberapa banyak orang memujanya. Ia tidak akan memecah jemaat menjadi kelompok-kelompok pendukung.
Sebaliknya, ia akan bersukacita ketika jemaat semakin bergantung kepada Kristus dan semakin sedikit bergantung kepada dirinya.
Pertanyaan untuk Gereja Masa Kini
Karena itu teks ini mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman bagi kita semua.
Bagi jemaat: Apakah kesetiaan kita terutama kepada Kristus, atau kepada tokoh tertentu?
Bagi para pemimpin: Apakah kita sedang membawa orang semakin dekat kepada Kristus, atau semakin terikat kepada diri kita sendiri?
Sebab gereja akan selalu berada dalam bahaya ketika jemaat mencari tokoh untuk dipuja dan pemimpin menikmati pemujaan itu. Paulus mengingatkan bahwa gereja bukan dibangun di atas popularitas seorang pelayan, melainkan di atas karya Allah sendiri. Yang menanam dan yang menyiram hanyalah pelayan. Mereka datang dan pergi. Tetapi Kristus tetap menjadi Kepala Gereja, dan hanya Dialah yang layak menerima kesetiaan, penghormatan, dan kemuliaan umat-Nya.
“Ketika jemaat mulai berkata, ‘Aku milik pendeta ini’ atau ‘Aku milik pendeta itu,’ dan ketika para pendeta mulai menikmati pembagian itu, maka gereja sedang bergerak menjauh dari Kristus. Sebab gereja yang sehat tidak dibangun di atas kultus tokoh, melainkan di atas pengakuan bahwa hanya Kristuslah Tuhan dan Kepala Gereja.”
* Jemaat GMIT Rehobot Bakunase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

BERAPA SIH BIAYA MUTASI MASUK KENDARAAN PLAT LUAR?

13 June 2026 - 19:39 WITA

PROTES KENDARAAN PLAT LUAR DAN BBM BERSUBSIDI

11 June 2026 - 17:36 WITA

PUNGUTAN LIAR DI SYAHBANDAR

9 June 2026 - 20:29 WITA

Trending PEMBACA MENULIS