Menu

Dark Mode
Lipstick Effect dan Myopia Rohani ๐™ˆ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™˜๐™– 1 Petrus 3:3-6 ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™ข๐™– ๐™Š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ช๐™—๐™–๐™ฃ Penguatan Respon Cepat Berbasis Komunitas: SIAP SIAGA, BPBD Kota Kupang, dan Grab Gelar Training dan Simulasi bagi Top Ranger Seruan PGI. โ€œHentikan Kekerasan Bersenjata: Nyawa Warga Sipil Papua Tak Ternilai Harganyaโ€ SEKELUMIT CERITERA DARI PROGRAM โ€œSELAMATKAN ORANG MUDAโ€ KABUPATEN FLORES TIMUR Liverpool Menang Dramatis 2-1 atas Everton di Derby Merseyside

PEMBACA MENULIS

๐™ˆ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™˜๐™– 1 Petrus 3:3-6 ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™ข๐™– ๐™Š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ช๐™—๐™–๐™ฃ

badge-check


					๐™ˆ๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™˜๐™– 1 Petrus 3:3-6 ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™ข๐™– ๐™Š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜ผ๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ช๐™—๐™–๐™ฃ Perbesar

oleh : Vinny Bria
Kamu yang orang Timor, pasti tahu arti kalimat di gambar ini. Kurang lebih artinya begini:ย ๐˜š๐˜ช ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ.
Nah, ini pepatah tua dari Timor, yang hari ini saya dengar dari salah satu orang tua saya, Yusuf Boimau. Bapa Usu (kami menyapanya begitu) menyebut pepatah ini ketika kami tiba di pembahasan 1 Petrus 3:3-6 dalamย bahasa Amanuban, siang tadi.
Pepatah ini lahir dari kepekaan yang tajam terhadap satu bahaya: ketika manusia terlalu mudah terpukau oleh permukaan.
Dalam hikmat ini, kemilau luar justru dipandang dengan curiga. Sesuatu bisa saja tampak agung di hadapan mata, tetapi kosong di pusatnya. Kecantikan tentu bukan yang dipersoalkan di sini. Suaranya lebih pada:ย di mana letak sumber nilainya?
Pertanyaan ini relevan bagi perempuan hari ini. Dunia modern tidak hanya menilai perempuan, tapi juga mengonstruksi panggung tempat perempuan harus tampil. Perempuan diminta menjadi banyak hal sekaligus: kuat tetapi tetap lembut, mandiri tetapi tetap menyenangkan, cerdas tetapi tetap memikat. Tubuh dan wajah perlahan dijadikan ruang produksi makna oleh industri, media, bahkan politik. Perempuan hari ini seperti tidak hanya berjuang untuk hidup. Mereka harus berjuang untuk terus-menerus โ€œlayak dilihat.โ€
Di sisi lain, perempuan sering menjadi yang paling rentan dalam krisis sosial dan ekologis, paling sering menanggung kekerasan yang tidak selalu tampak sebagai kekerasan, paling sering harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui setara. Di banyak panggung politik sekarang, perempuan sering dihadirkan sebagai ornamen legitimasi. Ia disilahkan tampil, tapi hanya untuk menandai kesetaraan dan meredam stigma. Nyatanya, sampai sekarang pun kita belum (mau) yakin bahwa perempuan benar-benar diberi ruang untuk menentukan arah. Yang terbaca, perannya justru dipoles sebagai performa daripada diakui sebagai kekuatan yang membentuk keputusan.
Di tengah lanskap seperti ini, menarik untuk mendialogkan pepatah tadi dengan suara yang senada dalam 1 Petrus 3:3-6. Teks ini tidak menolak keindahan tapi memindahkan pusatnya. Definisi keindahan lebih dari sesuatu yang dikenakan. Ia mesti menjadi sesuatuย yang bersemi dari kedalaman diri atau apa yang disebut sebagai โ€œmanusia batiniah.โ€ Standar kualitas jiwa yang begini, tentu tidak bisa diproduksi, dibeli, atau dipamerkan.
Kalau kedua suara ini didengarkan bersama, sebuah kemungkinan baru terbuka.
Bagi saya, perempuan tidak harus terus-menerus membuktikan diri di “panggung dunia”. Mereka juga tidak perlu menjadikan diri sebagai proyek tanpa akhir untuk memenuhi standar yang selalu berubah.
Ada alternatif lain yang jauh lebih radikal daripada itu, yakni membangun pusat hidup yang tidak bergantung pada pengakuan luar.
Bagi saya, kekuatan seperti ini tidak bisa lahir dari etalase. Ia tumbuh dari kesadaran akan martabat yang tidak bisa dinegosiasikan. Kekuatan ini mestinya menjadi martabat para, sebab mereka yang hidup dari pusat batinnya, tidak mudah dijadikan objek, tidak mudah diperalat oleh sistem, dan tidak mudah kehilangan dirinya, bahkan ketika dunia gagal bersikap adil terhadapnya.
Saya beruntung, dikenalkan dengan pepatah Timor ini dalam pembacaan surat 1 Petrus bersama orang-orang Amanuban.
Gema beberapa kalimat penting masih segarย di dalam kepala saya:
Mes le’ anmoe’ bifee nuu namasan namneo, eseun le’: sin neek enu, le’ ka tkius tiit ee fa.
On le’: neek leko ma neek tainine’.
Fun masaf on le’ nane ka namneuk fa,
maski bifee nuu namnais nalalin.
Tatuin Uisneno In tenab, masaf on le’ nane,
in ma’uup anneis.
Bagi kamu, perempuan Timor, ini adalah skincare termahal yang pernah ditawarkan. Memakainya adalah sebuah undangan untuk membalik arah pandangan, bahwa yang membuat perempuan sungguh berdaulat bukanlah mahkota yang terlihat di kepala, melainkan pusat hidup yang utuh di dalam dirinya.
Selamat Hari Kartini!
(sumber : FB Vinny Bria)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Lipstick Effect dan Myopia Rohani

22 April 2026 - 17:02 WITA

SEKELUMIT CERITERA DARI PROGRAM โ€œSELAMATKAN ORANG MUDAโ€ KABUPATEN FLORES TIMUR

20 April 2026 - 20:03 WITA

Kebangkitan yang Membarui Pengharapan (Renungan dari 1 Petrus 1:3โ€“12)

17 April 2026 - 12:00 WITA

Trending PEMBACA MENULIS