Menu

Dark Mode
MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Hadapi Lonjakan Bencana, BPBD Kupang Gandeng Driver Online sebagai First Responder Lewat Program TOP Ranger Dari Sepuluh Kecamat di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Sebuah Pesan untuk NTT: Ketangguhan Harus Dibangun Sebelum Bencana Datang Kemendagri dan BNPB Tinjau KENCANA Pratama di NTT, Sepuluh Camat Terima Penghargaan atas Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Pemprov NTT Sosialisasikan RAD Adaptasi Perubahan Iklim 2025–2045, Perkuat Ketahanan Daerah Menghadapi WARGA JEMAAT BUKAN KUMPULAN PARA FANS (I Korintus 3:1–8)

BUKAN ORANG BIASA

MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG

badge-check


					MERPATI DARI OSSU ITU TELAH TERBANG Perbesar

Obituary Dr. Francisco Guterres “Lú-Olo”:

 

Oleh Matheos Viktor Messakh

 

Pada akhirnya, bahkan para pejuang pun harus meletakkan senjatanya.

 

Pada Minggu, 21 Juni 2026, di sebuah ruang perawatan intensif di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, napas terakhir Dr. Francisco Guterres “Lú-Olo” berhenti. Ia wafat pada usia 71 tahun, jauh dari pegunungan yang selama hampir seperempat abad menjadi rumahnya dan jauh dari Ossu, kampung kecil tempat kehidupannya dimulai.

 

Keluarga mengumumkan kepergiannya setelah beberapa waktu menjalani perawatan intensif. Pemerintah Timor-Leste kemudian menetapkan tujuh hari berkabung nasional, sementara ucapan belasungkawa mengalir dari para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Malaysia dan Presiden Portugal. Presiden Timor-Leste saat ini, José Ramos-Horta, menyebut kepergiannya sebagai kehilangan besar bagi bangsa, sementara Partai Fretilin mengenangnya sebagai seorang patriot yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi kemerdekaan, persatuan, dan demokrasi.

Ironisnya, nama yang dikenalnya di seluruh dunia justru berarti kedamaian. Dalam bahasa Tetun, “Lú-Olo” berarti “Merpati.”

 

Nama gerilya itu diberikan oleh rekan-rekannya ketika ia masih hidup berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali memberikannya. Namun nama itu melekat selama lebih dari lima puluh tahun, menjadi identitas seorang pejuang yang menghabiskan masa mudanya dalam perang tetapi tidak pernah berhenti berharap akan datangnya damai.

 

Dan mungkin tidak ada nama yang lebih tepat. Francisco Guterres lahir pada 7 September 1954 di Ossu, Distrik Viqueque, ketika Timor-Leste masih merupakan koloni Portugis. Ia berasal dari keluarga sederhana. Kelak ia sendiri menyebut dirinya sebagai “anak dari keluarga miskin.” Pendidikan formalnya tidak tinggi menurut ukuran seorang kepala negara. Ia menempuh pendidikan dasar di Colégio de Santa Teresinha, Ossu, kemudian melanjutkan sekolah di Dili sebelum kembali menjadi guru di sekolah yang sama pada tahun 1973.

 

Di Ossu, ia tidak hanya belajar membaca dan menulis. Pendidikan yang diterimanya dari para imam Salesian membentuk kepribadiannya sebagai seorang muda yang kritis, tetapi memiliki kesadaran moral yang kuat. Nilai-nilai itulah yang kelak membawanya bergabung dengan Fretilin pada tahun 1974. Sebelum perang pecah, ia telah berkeliling di wilayah Ossu memperkenalkan Manifesto dan Program Politik Fretilin kepada masyarakat. Bagi Lú-Olo, perjuangan bermula bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan membangun kesadaran.

 

Seandainya sejarah memilih jalan yang berbeda, mungkin ia akan dikenang hanya sebagai seorang guru desa. Tetapi sejarah tidak pernah bertanya kepada mereka yang harus menjalaninya.

Pada 7 Desember 1975, ketika pasukan Indonesia memasuki Timor Timur, pemuda berusia 21 tahun itu meninggalkan ruang kelas dan memilih masuk ke hutan. Sejak hari itu hidupnya berubah selamanya. Ia bergabung dengan Front Revolusioner Pembebasan Timor Leste (Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente disingkat Fretilin) dan menjadi anggota sayap bersenjata dari Fretilin yaitu Falintil (Forças Armadas da Libertacao Nacional de Timor-Leste).

Perjalanannya di Falintil bukanlah kisah seorang prajurit yang berhenti pada satu medan tempur. Ia menjalani hampir seluruh jenjang kepemimpinan dalam perlawanan, dari anggota peleton di bawah komando Lino Olokasa, menjadi komisaris politik di berbagai wilayah gerilya, hingga memegang tanggung jawab politik dalam struktur perlawanan nasional. Ketika banyak pemimpin gugur atau ditangkap, Lú-Olo termasuk sedikit tokoh yang mampu menjaga kesinambungan organisasi hingga menjelang referendum 1999.

 

Ia melewati masa-masa paling kelam dalam sejarah Timor-Leste. Di bawah komando Nicolau Lobato, ia menyaksikan desa-desa dibakar, pemboman udara, kelaparan, dan kematian kawan-kawan seperjuangan. Ketika Lobato gugur pada penghujung 1978, jaringan perlawanan nyaris hancur. Yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok kecil yang bergerak diam-diam di hutan dari satu tempat ke tempat lain.

 

Dalam situasi itulah karakter kepemimpinan Lú-Olo terbentuk. Ia bukan tipe komandan yang berpidato panjang. Mereka yang mengenalnya menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tenang, hemat kata, tetapi selalu berjalan paling depan ketika harus menembus hutan atau menghadapi bahaya. Ia tidak pernah memerintahkan anak buah melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan sendiri. Kepercayaan bukan dibangun melalui pangkat, melainkan melalui keteladanan.

 

Dalam dokumenter East Timor: Birth of a Nation – Lu Olo’s Story (2000), ia mengenang tahun-tahun awal perang sebagai masa yang paling berat dalam hidupnya. Bukan karena kekurangan makanan atau senjata, melainkan karena harus menyaksikan begitu banyak rakyat sipil dan rekan seperjuangan kehilangan nyawa.

 

Selama hampir seperempat abad, Lú-Olo tidak pernah meninggalkan hutan. Banyak pejuang gugur dalam perjuangan. Banyak pula yang menyerah. Tetapi Lú-Olo tetap bertahan. Barangkali inilah prestasi terbesar hidupnya. Bukan memenangkan sebuah pertempuran besar. Bukan pula mengalahkan musuh di medan perang. Melainkan bertahan.

 

Ketika referendum 1999 akhirnya membuka jalan menuju kemerdekaan Timor-Leste, Lú-Olo keluar dari hutan menuju panggung politik.

 

Ia turun dari pegunungan bersama pasukan Falintil menuju Aileu. Dua tahun kemudian, pada Februari 2001, ia menyerahkan senjata dan amunisinya kepada Komando Falintil. Bagi seorang gerilyawan yang menghabiskan dua puluh empat tahun hidupnya di hutan, penyerahan senjata itu bukanlah tanda kekalahan, melainkan penanda bahwa cita-cita kemerdekaan yang diperjuangkannya telah menemukan jalannya.

Perjuangannya berubah bentuk. Ia pernah mengatakan bahwa memimpin gerilya di hutan dan memimpin negara melalui politik adalah dua medan perjuangan yang berbeda. Kalimat itu menjelaskan seluruh perjalanan hidupnya.

 

Dari ruang-ruang gerilya, ia memasuki ruang sidang. Kongres Fretilin memilihnya sebagai Presiden partai pada tahun 2001. Pada tahun yang sama ia dipercaya memimpin Majelis Konstituante yang menyusun Undang-Undang Dasar negara baru. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakhiri administrasi transisinya pada 20 Mei 2002, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyerahkan tanggung jawab itu kepada Lú-Olo selaku Presiden Majelis Konstituante. Dalam sidang bersejarah itu pula ia membacakan Pernyataan Pemulihan Kemerdekaan Republik Demokratik Timor-Leste dan memimpin pelantikan Presiden pertama, Kay Rala Xanana Gusmão.

Setelah beberapa tahun kemudian, pada akhirnya ia terpilih sebagai Presiden Republik Demokratik Timor-Leste pada tahun 2017. Masa jabatannya berakhir pada 2022 setelah kalah dalam pemilihan dari sesama pejuang kemerdekaan, José Ramos-Horta.

 

Ada banyak mantan gerilyawan di dunia yang gagal menjadi negarawan. Ada pula negarawan yang tidak pernah memahami harga sebuah kemerdekaan. Lú-Olo mencoba menjadi keduanya.

 

Ia memimpin negara dengan karakter yang sama seperti ketika memimpin gerilya: tenang, tidak banyak bicara, menghindari konflik yang tidak perlu, dan berusaha menjaga persatuan bangsa yang baru lahir. Banyak penghormatan setelah wafatnya juga menyoroti perannya sebagai tokoh yang terus menyerukan rekonsiliasi nasional, dialog, dan perdamaian.

 

Pada 20 Agustus 2022, negara memberikan penghargaan veteran tertinggi kepadanya bersama Xanana Gusmão dan Taur Matan Ruak. Penghargaan itu bukan sekadar medali. Ia merupakan pengakuan bahwa kemerdekaan Timor-Leste tidak hanya lahir dari meja perundingan, tetapi juga dari ribuan hari yang dihabiskan di hutan oleh orang-orang seperti Lú-Olo. Orang-orang yang bertahan ketika hampir tidak ada lagi harapan.

 

Pengakuan terhadap pengabdiannya tidak berhenti di sana. Setelah perang usai dan negaranya merdeka, Lú-Olo kembali ke dunia yang pernah ia tinggalkan. Pada tahun 2007 ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universidade Nacional Timor Lorosa’e melalui program kerja sama dengan Universitas Coimbra, Portugal. Pendidikan itu berhasil diselesaikannya, dan sesuai tradisi akademik Portugis, ia berhak menyandang gelar doutor yang ditulis dengan singkatan “Dr.” di depan namanya—sebuah gelar profesional di bidang hukum, bukan gelar doktor dalam pengertian program doktoral.

 

Ada semacam ironi yang indah dalam perjalanan hidupnya. Perang pernah memaksanya meninggalkan ruang kelas untuk memasuki hutan. Tiga puluh tahun kemudian, ketika kemerdekaan telah menjadi kenyataan, ia kembali ke dunia pendidikan sebagai mahasiswa. Seolah-olah sejarah akhirnya mengembalikan kepadanya kesempatan belajar yang pernah dirampas oleh perang.

 

Di balik kehidupan politik dan perjuangannya, Lú-Olo adalah seorang suami bagi Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres dan ayah dari empat orang anak: Francisco, Eldino, Felezito, dan Dália. Selama puluhan tahun perang, kehidupan keluarga mereka dibentuk oleh perpisahan, ketidakpastian, dan pengorbanan yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa Timor-Leste sendiri.

 

Hidup Francisco Guterres Lú-Olo bergerak melalui tiga ruang yang membentuk sejarah Timor-Leste: ruang kelas tempat ia mulai mengajar, hutan tempat ia menghabiskan dua puluh empat tahun mempertahankan cita-cita kemerdekaan, dan parlemen tempat ia membantu melahirkan negara yang merdeka. Tidak banyak orang yang menempuh ketiga ruang itu dalam satu kehidupan.

 

Kini, Merpati dari Ossu itu telah terbang. Ia meninggalkan seorang istri, Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, anak-anak, keluarga, rekan seperjuangan, dan sebuah bangsa yang ikut dibangunnya sejak masih berupa mimpi di tengah hutan. Ia juga meninggalkan warisan yang lebih besar daripada jabatan politik mana pun: keyakinan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kesetiaan yang panjang terhadap cita-cita.

 

Di Timor-Leste, sejarah akan terus mengingatnya sebagai presiden, ketua parlemen, pemimpin Fretilin, dan komandan Falintil. Namun bagi banyak orang yang mengenalnya, mungkin warisan yang paling tepat dirangkum oleh nama yang ia sandang sepanjang hidupnya.

Lú-Olo.

Merpati.

 

Seekor burung yang tetap terbang melewati badai, tetapi tidak pernah kehilangan arah menuju perdamaian.

Selamat jalan, Merpati Perdamaian dari Ossu. Selamat jalan, Pahlawan.

 

Manulai II, Timor Barat, 26 Juni 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Pdt. Emr. Marta Mariam Mauta: Menuntaskan Panggilan dalam Kesetiaan

12 June 2026 - 15:55 WITA

“Jejak Pengabdian, Langkah yang Tak Pernah Berhenti”

31 August 2025 - 07:29 WITA

dr. Husein Pancratius Rukeng: Dokter Humoris, Pemimpin Bijaksana

26 August 2025 - 23:02 WITA

Trending BUKAN ORANG BIASA