oleh : Albertus M. Patty
Dalam sebuah dunia yang katanya “tidak baik-baik saja,” Budiman Sudjatmiko tampil bak motivator nasional dengan resep instan: mazhab akal sehat. Dalam waktu 60 detik, ya, hanya 60 detik, ia merangkum kompleksitas krisis global dan menawarkan solusi yang terdengar mantap: kedaulatan pangan ala Prabowo Subianto. Ini solusi bagus, tetapi cacat prosesnya. Narasi Budiman yang terlalu ringkas jadi janggal karena memangkas habis realitas yang justru nampak dalam proses itu.
Kita jadi ingat gagasan Martin Luther King Jr atau MLK. Bila MLK menonton video itu, mungkin ia akan tersenyum getir lalu berkata: “Inilah yang saya maksudkan dengan conscientious stupidity,’ yaitu kebodohan yang dipelihara dengan penuh kesadaran. Ia seperti pohon besar yang dipangkas habis agar terkesan bonsai dan terlihat kecil.
Agar lebih jelas makna conscientious stupidity, saya berikan beberapa contoh. Bayangkan seseorang yang tahu kompor di rumahnya bocor, gas tercium ke mana-mana, tapi ia berkata, “Tenang, yang penting kita tetap bisa masak.” Atau seseorang yang melihat atap rumahnya bocor saat hujan, tetapi memilih menutup telinga sambil berkata, “Yang penting kita punya rumah.”
Seseorang yang menerapkan conscientious stupidity tahu bahwa ada masalah besar, tetapi dia dengan sengaja bukan saja memilih mengabaikannya, tetapi juga berupaya meyakinkan yang lain seolah tak ada masalah.
*Food Estate*
Dalam program food estate, kebodohan tampil dalam bentuk yang lebih megah. Hutan ditebang, biodiversitas dimusnahkan, plus masyarakat adat di Papua, di Kalimantan, dan di daerah lainnya dipinggirkan. Semua itu dibungkus dalam satu kalimat sakral yang Budiman narasikan: “kedaulatan pangan.” Seolah-olah oksigen bisa digantikan dengan beras, dan hutan bisa disubstitusi dengan presentasi PowerPoint.
Di titik ini, “akal sehat” berubah menjadi semacam mantra: diucapkan berulang-ulang sampai orang lupa bertanya, sehat menurut siapa? Sebab jika akal sehat berarti mengorbankan ekosistem dan masyarakat lokal demi proyek ambisius, maka mungkin yang sedang kita rayakan bukan akal sehat, melainkan akal yang sedang sakit tetapi menolak berobat.
Yang lebih ironis, Budiman Sudjatmiko, yang dulu dikenal sebagai aktivis kritis, kini terdengar seperti ideolog dan juru bicara yang terlalu fasih untuk bertanya. Ia tidak lagi berdiri sebagai pengingat kekuasaan, melainkan sebagai penguatnya. Dalam bahasa sederhana: bukan lagi orang yang menyalakan lampu, tetapi yang membantu meredupkan cahaya agar masalah tidak terlalu terlihat.
MLK pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah orang jahat, tetapi orang baik yang memilih diam atau, lebih buruk lagi, memilih untuk tidak melihat. Dalam konteks ini, conscientious stupidity bukan sekadar kesalahan intelektual, tetapi kegagalan moral. Sebab ia melibatkan pilihan. Ya, pilihan untuk menyederhanakan, mengabaikan, dan pada akhirnya membenarkan.
Jadi, jika dunia memang tidak baik-baik saja, mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan “akal sehat,” tetapi karena terlalu banyak orang yang dengan sadar memelihara kebodohan, lalu menamainya kebijaksanaan.
Bandung,
26 Maret 2026
Sumber : Fb Albertus M. Patty








