Menu

Dark Mode
KOMPLAIN LAYANAN PERINATAL/NICU RSUD LARANTUKA Membangun Tanpa Dominasi IKUT DEMO DI GEDUNG DPR Pesta Babi: Sebenarnya, siapa Babinya? BUPATI TTU DAN POTENSI KONFLIK KEPENTINGAN Drama Hukum Nadiem Makarim: *Tuntutan Fantastis, Bukti Minimalis*

PEMBACA MENULIS

IKUT DEMO DI GEDUNG DPR

badge-check


					IKUT DEMO DI GEDUNG DPR Perbesar

(Catatan: Darius Beda Daton)
28 tahun lalu, tepatnya tanggal 21 Mei 1998 malam, saya berada di halaman gedung DPR RI. Ikut demo dan jingrak-jingkrak bersama ratusan ribu mahasiswa. Hari itu adalah momen penting bagi sejarah bangsa Indonesia. Saat itu Presiden Soeharto mengumumkan berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah 32 tahun berkuasa. Turunnya Presiden Soeharto pada peristiwa 21 Mei merupakan tonggak awal Indonesia memasuki era reformasi. Saya beruntung menjadi saksi langsung dari sejarah itu. Saya ke Jakarta pada akhir tahun 1997 dengan KM Dobonsolo. 5 hari baru sampai Jakarta. Beberapa bulan berada di Jakarta, tepatnya pada Bulan Mei 1998, terjadilah kerusuhan besar di Jakarta.
***
Saya akhirnya menyaksikan langsung kerusuhan massal itu dan ikut nimbrung dalam gelombang unjuk rasa ratusan ribu mahasiswa. Demo kala itu disertai penembakan dan kerusuhan massal antara tanggal 12 – 20 Mei 1998. Sekitar tanggal 12-13 Mei, saya menyaksikan langsung bagaimana Mall Klender di Jakarta Timur dibakar massa diikuti mal-mal lain, toko-toko dan pusat perbelanjaan se-antero Jakarta. Begitu banyak orang tewas akibat kebakaran itu. Semua barang-barang di mal itu dijarah. Pemilik toko dan pengunjung yang terjebak di lantai atas berhampuran melompat dari atas melalui jendela karena dikepung asap dan kobaran api dari lantai satu. Yang tidak berani melompat hanya memecahkan kaca jendela dan mengeluarkan kepalanya untuk sekedar bernapas. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan ketika itu. Saya dan beberapa rekan berupaya ikut menolong sejumlah orang yang melompat dari lantai atas dengan memasang kasur di halaman mal agar tubuh mereka tidak terbentur lantai semen. Ada orang yang melompat tepat diatas kasur yang kami gelar. Mereka luput dari maut. Yang tragis jika lompatannya melenceng dari kasur yg kami gelar. Tubuh mereka membentur lantai dengan keras. Pingsan dan tidak sadar. Kami menolong mereka dengan peralatan seadanya. Tidak banyak yang tertolong. Situasinya sangat kacau ketika itu. Jakarta bagai lautan api.
***
Beberapa hari sesudah itu, karena ingin tahu apa yang terjadi di gedung DPR RI, bersama beberapa teman, saya lalu berjalan kaki dari Pulo Gadung Jakarta Timur ke Slipi Jakarta Barat. Entah berapa jauh jarak itu. Tidak ada angkutan kota yang berani lewat. Ketika melewati Semanggi di malam hari, ternyata aksi mahasiswa di sekitar itu ditembaki aparat dari atas gedung BRI Tower sehingga beberapa mahasiswa tertembak dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami ikut pula melarikan diri ke dalam rumah sakit dengan melompati pagar tembok karena pilihan itu terasa lebih aman daripada ke tempat lain. Hitungan kami, tidak mungkin aparat keamanan masuk hingga kawasan rumah sakit. Kalau tidak salah, itu RS Fatmawati. Ternyata di rumah sakit, kami baru tahu kalau ada mahasiswa yang tertembak mati.
***
Rasa takut mulai menghantui. Ingat orang tua di kampung. Jika tertembak mati disini, jenasah bisa hilang. Bingung memilih antara kembali ke Pulo Gadung atau terus berjalan ke gedung DPR. Tetapi karena sudah kepalang tanggung jalan jauh, malam itu kami melanjutkan perjalanan menuju halaman gedung DPR RI. Di gedung DPR saya terperangah menyaksikan bagaimana mahasiswa Indonesia menduduki gedung itu. Ada yang naik di atas atap gedung sambil corat coret. Ada yang memilih menyeburkan diri dalam kolam gedung. Saya tidak ikut naik ke atas atap atau mandi di kolam. Maklum, sebagai orang kampung yang baru injak Jakarta, saya hanya ikut rame jingkrak-jingkrak sambil makan nasi bungkus dan buah-buahan yang disiapkan secara gratis di dapur umum. Hari itu kami makan gratis di dapur umum. Helikopter beterbangan di atas gedung DPR. Diluar pagar gedung, aparat polisi dan tentara bersenjata lengkap berbaris rapi. Entahlah kenapa tidak ada rasa takut dan was-was ketika berada bersama ribuan orang di gedung DPR. Mungkin karena semua bernyanyi dengan riang ketika itu. Lagunya saya ingat dan ikut hafal begini; “Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, bubarkan saja, tidak berguna, diganti Menwa….dst”.
***
Setelah semalam di DPR, dinihari kami memutuskan pulang dengan berjalan kaki hingga pagi baru tiba Pulo Gadung. Demikian cerita singkat kenangan saya 28 tahun silam. Untuk generasi muda, rangkaian peristiwa Reformasi 1998 adalah bukti bahwa suara rakyat, terutama dari generasi muda dan mahasiswa mampu membawa perubahan besar. Jangan pernah takut melawan ketidakadilan. Tapi ingat, kita wajib menjaga negeri ini demi mereka yang telah telah berkorban jiwa raga dalam perjuangan itu.
***
Sayangnya, reformasi yang memporakporandakan Jakarta dan menimbulkan korban jiwa itu belum mampu membawa negeri kita pada kesejahteraan rakyat. Tujuan utama reformasi 1998 dengan membuka keran demokrasi, telah berhasil dicapai, namun cita-cita pemberantasan KKN belum sepenuhnya terwujud. Transisi sistem politik dari otoriter ke demokratis berjalan sukses, tetapi praktik korupsi dan oligarki masih menjadi tantangan besar. Korupsi masih menjadi masalah sistemik di berbagai sektor dan lembaga negara, memperlihatkan bahwa cita-cita pemerintahan yang bersih dari KKN masih jauh dari harapan. Mari tetap berikhtiar agar Indonesia yang kita cintai menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

KOMPLAIN LAYANAN PERINATAL/NICU RSUD LARANTUKA

23 May 2026 - 11:11 WITA

Membangun Tanpa Dominasi

22 May 2026 - 19:41 WITA

Pesta Babi: Sebenarnya, siapa Babinya?

16 May 2026 - 21:21 WITA

Trending PEMBACA MENULIS