oleh : Albertus M. Patty
Film ‘Pesta Babi’ makin cepat beredar. Kaum muda semakin kritis. Mereka berempati dan mulai memprotes ‘tragedi’ yang dirasakan masyarakat dan alam Papua. Fenomena yang bagus untuk memperkuat demokrasi bangsa dan memupuk kemanusiaan bersama.
Papua kembali dijadikan instrumen laboratorium pembangunan. Hutan dibuka berjuta hektar, alat berat masuk, pohon tumbang, sungai berubah warna, lalu semua itu disebut “kemajuan.” elite politik masih getol melabel mereka yang memprotes: “antek Barat.” Lucu banget! Sebab logika yang dipakai justru logika Barat abad industrial: kalau ingin maju, tebangi hutan dulu, urus akibatnya nanti. Seolah-olah sejarah dunia bisa disalin seperti fotokopi proposal proyek.
*Takhyul Politik*
Di sinilah kritik Karl Popper dalam The Poverty of Historicism terasa relevan. Popper mengingatkan bahwa sejarah bukan rel kereta dengan tujuan tetap yang bisa diulang seenaknya. Tidak ada hukum sejarah yang berkata: “Semua negara maju harus menghancurkan alam lebih dulu.” Itu bukan ilmu pengetahuan, melainkan takhayul politik yang diberi nama ‘pembangunan.’
Memang benar, Barat menebang hutan besar-besaran. Itu contoh buruk, tetapi peristiwa itu terjadi pada masa ketika bumi belum megap-megap karena krisis iklim. Saat itu karbon belum memenuhi atmosfer, es kutub belum mencair secepat sekarang, dan manusia belum hidup di bawah ancaman bencana ekologis global.
Hari ini situasinya berbeda total.
Paul Crutzen menyebut zaman kita sebagai Anthropocene: era ketika aktivitas manusia sendiri menjadi ancaman bagi planet. Jadi, menebang hutan Papua hari ini bukan sekadar urusan lokal atau nasional. Itu bagian dari krisis bumi secara keseluruhan. Hutan Papua dan hutan Amazon adalah paru-paru dunia yang masih tersisa.
Anehnya, masih ada elite politik dan agamawan pendukungnya yang berpikir seperti mandor kolonial abad ke-19: semakin banyak pohon tumbang, semakin modern bangsa ini. Padahal dunia sudah berubah total. Negara modern abad ke-21 tidak lagi terutama bertumpu pada penjarahan alam, tetapi pada kualitas manusianya.
*Miskin SDA, Kaya SDM*
Singapore nyaris tak punya sumber daya alam. Jepang miskin mineral strategis. Israel bahkan banyak wilayahnya berupa gurun yang kering kerontang. Sumber daya alamnya tak bisa diandalkan dan dibanggakan. Tetapi mereka tidak mengeluh. Miskin Sumber Daya Alam (SDA) bukan kutuk, tetapi opportunity! Mereka membangun pendidikan, riset, teknologi, disiplin sosial, dan inovasi manusia. Intinya, Huuman resources diperkuat, plus kebijakan politik dan birokrasinya dibuat accountable dan transparant. Dan mereka berhasil. Jadilah mereka bangsa yang maju dan modern.
Kita? Kita pidato berbusa-busa membanggakan kekayaan SDA. Kita bangga dengan proyek pembantaian alam yang kita sebut ‘hilirisasi.’ Kita, seperti negara-negara Barat pada era awal jaman industri, masih sibuk mengukur kemajuan dari jumlah gunung yang dibongkar dan luas hutan yang dihilangkan dari peta. Ada ribuan perusahan pertambangan. Sudah jutaan hutan ditebang. Hasilnya? Indonesia tetap miskin!
Yang lebih ironis, masyarakat adat Papua sering dianggap penghambat pembangunan karena mereka mempertahankan hutannya. Padahal bisa jadi merekalah yang lebih modern secara kosmologis dibanding kita. Kitalah yang kurang memahami kosmologi mereka.
Fritjof Capra dalam The Web of Life menjelaskan bahwa kehidupan adalah jaringan yang saling terkait. Dalam banyak kosmologi Papua, manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari keluarga ekologis. Hutan bukan sekadar kayu, melainkan ibu yang memberi hidup. Sungai bukan saluran industri, tetapi nadi komunitas. Itulah sebabnya, masyarakat Papua menangis ketika tanah direbut, hutan dihancurkan. Dan mungkin karena ketidaktahuan pada kosmologi Papua, sebagian elite tidak mengerti tangisan mereka.
Bangsa kita tentu perlu membangun. Kemiskinan harus diatasi, pendidikan diperkuat, dan kesejahteraan diperluas. Tetapi pembangunan yang sehat tidak lahir dari eksploitasi dan dominasi atas sesama manusia dan alam raya ini.
Bangsa yang dewasa bukan bangsa yang paling cepat menggunduli hutannya, tetapi bangsa yang mampu maju dan modern tanpa kehilangan kemanusiaan dan rumah ekologisnya. Karena masa depan tidak dibangun dengan menghancurkan kehidupan siapa pun dan apa pun, tetapi dengan merawatnya bersama.
Bandung,
22 Mei 2026







